
| Senin, 8 Maret 2004 | Jawa Tengah - Muria |
Gabah Hanya Laku Rp 600/Kg
REMBANG- Serbarepot. Itulah yang dialami para petani di wilayah Rembang. Pada musim tanam penghujan pertama, mereka merasa bingung karena harga pupuk mahal. Sebaliknya, pada musim panen mereka mengeluh lantaran harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani anjlok. Seperti yang terjadi sekarang, harga gabah itu hanya laku Rp 600 - Rp700/kg. Adapun harga patokan pemerintah sekitar Rp 1.730/ kg. Akibatnya, petani harus menanggung kerugian besar. Sebab, hasil panen mereka bila dijual tidak bakal bisa menutup biaya tanam. Para petani di wilayah sejumlah kecamatan, seperti Kaliori, Sumber, Sulang, Bulu, Gunem, Pamotan, Sedan, dan Sale saat dihubungi secara terpisah umumnya membenarkan soal harga gabah yang anjlok itu. "Bekerja sebagai petani itu tak ada untungnya. Hampir sepanjang tahun mengalami kerugian," kata Masdi (46) asal Sulang. Keluhan yang sama juga disampaikan Subandi (56), Marjani (43), dan Kasdi (64), ketiganya warga Gunem. Mereka mengaku baru saja memanen padi, tetapi hasil yang didapatkan cuma tidak seberapa. Bahkan, rugi karena modalnya tak kembali. Subandi mengaku baru saja menjual hasil panennya berbentuk gabah kering panen 600 kilogram. Dari hasil penjualan gabah itu, dia mendapatkan uang Rp 420.000. Sebab, gabah milik petani itu hanya laku per kilogram Rp 700. Menanggung Kerugian Saat ditanya tentang biaya tanamnya, Subandi mengaku telah menghabiskan uang paling sedikit Rp 750.000. Dengan demikian, dia harus menanggung kerugian Rp 750.000 dikurangi Rp 420.000, yakni Rp 330.000. Kemudian Kasdi, juga mengaku telah menjual semua hasil panennya berbentuk gabah kering panen 631 kilogram dan mendapatkan uang Rp 441.700. Padahal, pengeluaran untuk biaya tanam Rp 700.000. Dengan begitu, dia menanggung kerugian Rp 258.300. Meski harga gabah jatuh, para petani itu rela menjual hasil panennya. Alasannya sederhana, karena ingin segera mendapatkan uang untuk kegiatan tanam padi musim penghujan II atau dikenal dengan istilah walik dami. Tampaknya, kelemahan petani itu bisa dimanfaatkan oleh para pedagang sehingga memperoleh keuntungan yang lebih besar. Padahal, sekarang ini Dolog berani membeli gabah kering giling dengan harga tinggi. Jika melihat kenyataan seperti itu, jelas petanilah yang banyak dirugikan. Karena itu, sebagian besar petani di Rembang meminta kepada pemerintah untuk segera turun tangan mengendalikan harga gabah yang terus merosot belakangan ini. Bila tidak, nasib petani akan terpuruk. Sementara itu, Bupati Rembang H Hendarsono tidak membantah soal harga gabah yang turun itu. Dia mengatakan, pihaknya akan segera memerintahkan dinas terkait untuk mengamankan harga gabah tersebut. Bahkan, diupayakan Sub-Dolog segera turun ke Rembang untuk keperluan tersebut. (jl-85j) |