
| Senin, 8 Maret 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
DB di Pemalang Masih RinganPEMALANG- Wabah demam berdarah (DB) di Pemalang yang telah menyebabkan sejumlah penderita meninggal dianggap masih ringan, tidak seberat daerah-daerah lain. Karena itu, dalam penanganan masalah tersebut jangan dilakukan dengan kesan mencekam tetapi secara profesional. Hal ini dingkapkan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Pemalang Drs H Abdul Rosyid, kemarin. Menurut dia, penanganan secara profesional itu adalah dengan melakukan fogging (pengasapan) pada daerah endemis atau rumah warga yang terkena wabah DB. "Jika hal ini dilakukan serampangan, nanti malah ada kesan mencekam. Penanganan wabah DB kami prioritaskan pada daerah endemis. Kalau penyemprotan dilakukan di semua tempat, nanti ada kesan di masyarakat, DB sudah sangat mencekam," tuturnya, kemarin. Pelaksanaan pengasapan juga dilakukan atas permintaan warga. Hal itu sesuai dengan penanganan secara profesional. Sebab kalau penanganan dipukul rata, semua desa disemprot, hal itu selain pemborosan biaya juga muncul kesan situasinya mencekam. Padahal, wabah DB di Pemalang belum separah yang dialami daerah-daerah lain. "Ya, memang sudah timbul beberapa korban meninggal. Namun, sejumlah warga yang dirawat di dua rumah sakit belum tentu positif DB. Mereka baru diperkirakan terkena wabah penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti itu." Dia mengatakan, Pemkab telah berkoordinasi soal penanggulangan wabah DB. Dalam rapat itu dilibatkan Kepala Informasi dan Komunikasi (Infokom) dan Kepala Kantor Depag. Maksudnya agar kegiatan pemberantasan bisa disosialisasikan lewat radio dan mimbar di masjid dan mushala. Dengan sosialisasi seperti itu, warga akan melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk secara gotong royong. Jika disemprot, biayanya cukup mahal terutama pembelian obatnya. "Karena itu, warga yang meminta ada penyemprotan di wilayahnya dipungut biaya. Biaya tersebut hanya untuk mengganti solar dan upah petugas penyemprotan." Seperti diberitakan (SM, 5/3), wabah DB di Pemalang terus meluas. Hal itu terlihat dari semula satu desa di Jrakah, Petarukan kini berkembang menjadi beberapa desa, antara lain Kebondalem, Pelutan, Sugihwaras, Mengori, Banjardawa, Cibelok, dan Danasari. Berdasarkan data di RSU Ashari, pada Januari dirawat 61 orang dan enam orang meninggal. Kemudian Februari, dirawat 32, seorang meninggal. Dan, Maret belum terdata jelas. Namun pekan lalu dalam satu hari terdapat dua pasien meninggal karena DB.(sf-17j) |