
| Senin, 8 Maret 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
30 Warga Gununglarang Masih Mengungsi
BUMIAYU- Bantuan pangan untuk korban tanah longsor di Desa Gununglarang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Sabtu (6/2) lalu mulai berdatangan. Kantor Sosial spontan mengirim 350 kg beras kepada 35 keluarga yang kini terpaksa mengungsi ke rumah tetangga atau kerabat dekatnya. Selain itu, PMI Cabang Brebes, setelah Sabtu pagi para pengurusnya menggelar rapat kilat, sorenya mengirim bantuan mi instan 35 dus, 70 botol kecap, dan 35 kg ikan asin. Bantuan dari PMI diserahkan sekretarisnya, Taqiyudin SAg, langsung kepada warga Desa Gununglarang disaksikan Kepala Desa Arna. Kepala Kantor Sosial Drs H Khambali kemarin mengatakan, musibah tanah longsor yang menimpa warga Desa Gununglarang itu, sejauh informasi resmi yang dia terima, tidak ada korban jiwa. Namun terdapat empat rumah rusak berat terkena longsoran. Adapun 30 rumah lainnya dalam kondisi terancam karena posisinya berada di lereng perbukitan. Dia mengemukakan, bantuan pangan yang dikirim masih sebatas untuk meringankan beban warga. Dengan bantuan 350 kg beras, tiap keluarga menerima 10 kg. "Bantuan ini minimal untuk makan lima hari," ujar Khambali. Wawan, salah seorang warga Gununglarang, menuturkan, 30 warga terpaksa pergi dari rumah karena khawatir kejatuhan longsoran tanah. Tinggi perbukitan lebih kurang 100 meter, persis di atas perumahan penduduk. "Hujan terus-menerus belakangan ini sangat mengkhawatirkan warga yang menghuni perumahan di sekitarnya. Daripada jatuh korban, lebih baik mengungsi ke rumah saudara dekat," ungkap dia. Tetap Khawatir Sampai kapan mereka akan mengungsi? Mereka belum bisa memastikan, karena situasi belum memungkinkan. Dalam kondisi seperti itu, mereka hanya berharap ada upaya konkret dari Pemkab, bukan hanya bantuan pangan semata. "Kami tetap khawatir, barangkali musibah longsoran ini seperti menimpa warga Desa Winduaji yang terjadi empat tahun lalu," tutur mereka. Ketua Satuan Pelaksana (Satlak) PBA Drs H Moch Ramdhon kemarin mengaku sudah menurunkan tim ke lokasi untuk mengambil langkah penanganan selanjutnya. "Kami lihat lebih dulu kondisinya. Jika memungkinkan perlu penanganan lain, kami segera mengambil langkah," tegasnya. Sementara itu, Camat Salem Abu Bakar Biantoro SIP bersama Muspika dan ratusan warga Gununglarang, Minggu kemarin bekerja bakti membersihkan longsoran tanah yang menutup jalan di petak 48 Kepala Resor Pemangkuan Hutan (KRPH) Gununglarang. Longsoran tanah di petak jalan menuju ke Salem atau di Km 6 hampir menutup sebagian jalan, sehingga mengganggu arus lalu lintas kendaraan dari Bumiayu-Salem atau arah sebaliknya. Kerusakan jalan paling parah terjadi di petak 47 KRPH, tak jauh dari lokasi yang sedang dikerjakan warga. Jalan dengan lebar empat meter, kini tinggal separo karena pada bagian tepi tergerus longsoran. Akibatnya, kendaraan harus berjalan satu per satu. Camat Salem mengemukakan, perbaikan jalan di petak 47 dan 48 KRPH sudah selayaknya tidak ditangani tenaga manusia. Namun khusus petak 48, karena jalan hanya tertutup tanah, sementara karena keadaan darurat dan perlu untuk berlalu lintas, masih bisa menggunakan tenaga manusia. "Jalan ini merupakan milik provinsi. Jadi, sebaiknya ditangani dengan alat berat dari Bina Marga Jateng," katanya.(wh-17j) |