logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 5 Maret 2004 Tajuk Rencana  
Line

Siapa yang Memikirkan ''Voters Education''

- Masa kampanye akan segera datang. Dimulai 11 Maret dan berakhir 1 April mendatang. Jadwal kampanye sudah disusun Komisi Pemilihan Umum (KPU). Demikian juga dengan aturan mainnya yang secara keseluruhan sudah diatur dalam Surat Keputusan KPU Nomor 701. Adakah model-model kampanye baru pada pemilu kali ini? Tampaknya tidak. Paling-paling hanya kampanye lewat media massa yang mungkin akan meningkat. Model pengerahan massa akan tetap disukai terutama oleh partai-partai politik besar yang memiliki massa besar di samping dana besar pula. Kampanye dialogis atau tertutup dianggap kurang menarik. Jangan berharap ada kampanye yang lebih cerdas selain rapat umum atau arak-arakan kendaraan. Semua hanya ingin show of force.

- Akan tetapi itulah romantisme yang terjadi pada setiap pemilu. Kampanye yang cerdas, hampir tidak ada. Penyampaian misi visi partai atau platform partai hanya menjadi konsumsi terbatas. Misalnya kampanye lewat media dan di kampus-kampus. Bisa jadi platform itu menjadi kurang menarik karena yang muncul hanyalah pernyataan normatif mengenai masalah-masalah universal yang sudah lama dihadapi seperti soal kemiskinan, krisis ekonomi, keadilan, penegakan hukum, dan pengangguran. Namun, solusi kebijakan yang ditawarkan tidak pernah jelas. Itu masih baik, karena yang banyak terjadi hanyalah mengibarkan lambang partainya. Kalau perlu memasang bendera setinggi-tingginya atau mengerahkan massa sebesar-besarnya.

- Mestinya kampanye bisa dilakukan dengan lebih mendidik. Kampanye bisa dilakukan dengan sekaligus mengarah pada pendidikan politik. Misalnya mengampanyekan perlunya masyarakat bersikap kritis dan cermat melihat calon-calon anggota legislatif. Pada pemilu kali ini, pemilih tak hanya mencoblos tanda gambar partai tetapi juga nama caleg. Sayang itu banyak tidak dilakukan. Partai-partai besar cenderung mengabaikan hal itu dan membiarkan masyarakat hanya mencoblos tanda gambar partai. Itu tetap sah namun berarti kita masih mengulang cara-cara lama. Padahal, sistem proporsional terbuka diharapkan bisa meningkatkan kualitas demokrasi. Kalau itu tak dijalankan ya berarti kita belum ada kemajuan dalam hal ini.

- Hiruk pikuk kampanye segera berlangsung. Lalu siapa yang memikirkan pendidikan politik? Pendidikan bagi massa pemilih (voters education) penting karena seharusnya kita tak hanya berorientasi pada kelancaran pemilu, tetapi juga peduli pada bagaimana hasilnya nanti. Tanpa pemilih yang tahu hak-hak demokrasi yang sesungguhnya, hasil pemilu akan sama saja dengan sebelumnya. Atau malah yang terjadi lebih parah, yakni banyak suara yang tidak sah karena salah mencoblos. Sosialisasi yang teramat minim juga banyak dikeluhkan. Untuk itu, sebaiknya dipikirkan juga bagaimana melakukan pendidikan politik dan pendidikan terhadap masyarakat yang akan memilih itu. Dalam hal ini, kegiatan yang dilakukan berbagai LSM termasuk pers sangatlah penting.

- Memang ini bukan pekerjaan mudah yang bisa diselesaikan hanya dalam waktu satu dua tahun. Bisa jadi satu dua generasi baru akan tercapai tahapan kemajuan yang sebenarnya. Persoalannya, terkait dengan kondisi subjektif ataupun obyektif masyarakat kita. Masyarakat yang masih terbatas dalam tingkat pendidikan atau yang masih kental dengan perilaku tradisionalnya akan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bisa diajak maju. Karena itu, jangan heran bila banyak pilihan yang tidak didasarkan atas pertimbangan rasional, mungkin dengan pertimbangan primordial atau kultural. Memang tidak ada yang salah dan semua sah-sah saja. Namun bagaimana hasilnya nanti? Kekecewaan masyarakat terhadap kapabilitas dan moralitas anggota legislatif sangat mungkin terulang.

- Demokrasi itu mahal dan jelas bukan sesuatu yang mudah. Negara maju mengalami sebuah proses berabad-abad sebelum mencapai tahapan yang relatif baik dalam demokrasi. Sebab, persoalannya tak selesai hanya dengan mengubah aturan dan menjamin sistem yang demokratis. Masalahnya, kembali pada hal-hal yang lebih fundamental dan struktural, yakni kondisi dan tingkat kemajuan masyarakatnya. Selama masyarakat masih serbaterbelakang, kondisi ideal belum akan dicapai. Itulah sebabnya, kita mengingatkan pentingnya voters education dan pendidikan politik dalam arti luas. Ingar-bingar politik dan pemilu tak akan peduli dengan masalah-masalah itu. Padahal, kita harus memulainya sejak sekarang. Jadikan pula ini sebagai sebuah gerakan yang tumbuh di masyarakat.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA