logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 5 Maret 2004 Surat Pembaca  
Line

Bantuan Alternatif Penderita Ginjal

Mendengar keluhan penderita gagal ginjal di Surat Pembaca beberapa waktu lalu, saya ingin membantu pasien dengan ramuan dari tumbuhan tanpa imbalan. Gagal ginjal disebabkan berbagai hal seperti hipertensi, infeksi ginjal, diabetes, terlalu banyak obat, banyak konsumsi jamu dan lainnya.

Keluhan pasien, kaki bengkak, boyok pegal, sering kencing, hilang nafsu makan dan hasil laboratorium menunjukkan kadar kreatinnya tinggi yang disertai kadar ureumnya juga tinggi. Karenanya para dokter menganjurkan kurangi minum dan cuci darah atau cangkok ginjal.

Setelah 3 s.d 4 hari setelah minum ramuan saya, kotoran akan keluar lewat kencing atau buang air besar. Setelah 7 hari diharapkan kreatin dan ureumnya turun. Pengobatan setelah 1 bulan biasanya selesai.

Setiawan H
Jl Ligu Tengah 519, Semarang

***

Danau Resapan Air Gombel Dijarah

Satu lagi bukti pejabat/pengusaha yang bermental batu, semata hanya mencari uang dan uang. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan ulah pejabat serta pengusaha harus dihentikan. Berabad-abad lalu danau resapan di Gombel Semarang sangat berguna sebagai daerah tangkapan air.

Oleh sebuah perusahaan, lokasi tersebut diuruk, dijadikan show room yang hanya berorientasi keuntungan sekejab dan sepihak. Lagi-lagi rakyat yang dikorbankan. Ke mana Prof Eko Budihardjo MSc yang pakar lingkungan dan seni budaya nomor wahit tersebut.

Mengapa LSM dan WLH yang katanya berjuang untuk rakyat justru mlempem tidak ada reaksi. Apakah mereka juga sudah berpenyakit krisis moral. Tidakkah para pelaku perusak lingkungan berfikir masa depan. Sungguh, rakyat dirugikan dari generasi ke generasi.

Lihat saja pendidikan seni budaya yang mengalami kematian, penebangan pohon-pohon besar yang sangat indah, pencurian hak-hak rakyat seperti taman pemandangan Gombel, Makamdowo, TBRS yang sudah dikuasai cukong, pohon peneduh jalan yang diperlukan bagi para pejalan kaki dan banyak lagi.

Para LSM, tokoh lingkungan dan banyak lagi para ahli yang minger kiblate, apa tanggung jawabmu pada Ibu Pertiwi tempatmu berpijak.

Rahmat Ichwanto
Rejomulyo V/8, Semarang

***

Salut buat Pak Naib

Beberapa waktu lalu saya menikahkan anak pada hari minggu dan di luar wilayah. Saat pemeriksaan, saya mohon nantinya Bapak Naib untuk datang tidak terlambat dan beliau menyanggupi dengan mengatakan akan mengusahakan. Dengan rasa senang penuh harap, saya ngaturi uang transpornya sekalian.

Karena ada sesuatu hal pernikahan diundur Senin dan Pak Naib bisa datang tepat waktu, buku nikah langsung diberikan. Herannya lagi uang tranpor hari Minggunya dikembalikan. Di lain hari saya omong-omong dengan Pak Modin. Ternyata tidak hanya itu, Pak Modin bilang pernah ada calon pengatin saat diperiksa belum ada TT-nya.

Kemudian Pak Naib memberi uang untuk periksa TT, karena calon pengantinnya sangat miskin. Juga lain waktu ada wali datang ke KUA Semarang Timur naik becak. Ongkos becaknya diganti Pak Naib sebab waktu pemeriksaan tahu kondisi wali tersebut.

Pak Naib juga pernah ninggali amplop kepada pengantin karena kondisinya sangat kekurangan dan pengantin laki-lakinya tunanetra. Saya salut dan terima kasih pada Pak Naib M Jajuli.

Tas Pitoyo
Kp Kledung Malang 298 a Semarang

***

Soal Antena Tower

Polemik tentang antena tower moga-moga tidak berkepanjangan sebab di samping kekhawatiran banyak pihak, ada banyak nilai positif dari keberadaan tower tersebut. Di mana ada tower, radius 1 s.d 5 km area di sekitarnya pasti bebas dari sambaran petir karena makin tinggi tower, besar pula serapan muatan listrik positif pada awan sekitarnya.

Risiko perlengkapan rumah seperti TV, radio, jebol akibat petir menjalar pada listrik dapat ditekan seminim mungkin. Cuma saat pembuatan dan pembangunan tower tidak prothol akibat angin/baut kendor (konstruksinya).

Jadi jangan takut keberadaan tower asal konstruksinya benar, tower juga berfungsi sebagai penangkal petir raksasa (ground). Sebagai tetangga, kita dapat nunut ayem

Ign Yungky Koeswanto
Jl MT Haryono 411, Semarang

***

Nuansa Pemilu, Demokratisasi Sejati

Deru roda Pemilu 2004 membawa harapan terwujudnya kesejahteraan yang hakiki dalam kehidupan, berbangsa dan bernegara. Fenomena yang menampilkan bernuansa baru dan tata cara baru, diharapkan akan muncul wajah baru yang reformis, loyal dan kreatif.

Kehadiran para pendekar pembaharu akan membawa Indonesia ke gerbang kedamaian sejati. Lahirnya berbagai parpol menambah pluralisasi keanekaragaman kepentingan. Target perolehan suara membawa tiap-tiap parpol berupaya membuat platform yang berkualitas serta strategi bermutu.

Sikap arogansi diestimasikan akan muncul di saat masa kampanye. Koalisi antarpartai gurem diperlukan karena akan melahirkan satu kekuatan, kesatuan dalam menyosialisasikan platform. Di satu sisi, Pemilu 2004 menampilkan dunia baru di mana presiden/wakil presiden serta DPR akan dipilih langsung oleh rakyat.

Di sini akan timbul pendemokratisasian sejati. Pendidikan politik masyarakat akan berkembang penuh percaya diri. Rakyat dituntut arif dan bijaksana menggunakan haknya. Pemaksaan kehendak, diktatorisasi diharapkan tidak terjadi. Biarkan rakyat bebas menyalurkan aspirasinya sesuai hati nurani.

Mereka pondasi kuat untuk membangun negara ini. Jika pilihan mereka benar maka tabir kegelapan akan hilang. Sedang jika pilihan mereka salah maka semua agenda yang disepakati akan tak berarti. Akankah keeksistensian 24 parpol bisa menjawab semua itu.

Mari kita berdoa semoga kelancaran Pemilu 2004 sebagai hajat besar bangsa dapat berjalan baik. Suasana damai terwujud. Damai itu indah.

Aris Muntasir
Pesahangan Rt 1/Rw 2 Cimanggu, Cilacap 53256

***

Gerbang Pecinan

Pemkot Semarang berencana merevitalisasi daerah pecinan untuk dijadikan daya tarik wisata dan lebih memberdayakan masyarakatnya. Banyak pihak mendukung. Contohnya Pasar Smawis yang diadakan menjelang tahun baru Imlek lalu berhasil.

Sejumlah pedagang bahkan merasa waktunya terlalu pendek. Bahkan ada penonton dari luar kota yang kecelik, pasar telah usai.

Terdengar kabar akan dibangun pintu gerbang khas daerah pecinan, seperti yang pernah ada di Jl Mataram, depan SMA Sultan Agung. Sekarang telah dibongkar karena dilarang pemerintah orde baru. Saya sangat mendukung gagasan tersebut untuk tujuan wisata.

Menurut saya, lokasinya di perempatan Jl Kranggan Barat - Jl Depok dan satunya lagi di perempatan Jl Pekojan/Jl Agus Salim. Dengan demikian wisatawan dari arah barat bisa melihatnya dan juga dari kota lama.

Demikianlah urun rembug saya, semoga menjadi masukan bagi Pemkot atau siapa saja yang berkepentingan.

Drs Martin Hadi Susilo
Jl Widosari II/67, Semarang


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA