logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 5 Maret 2004 Sala  
Line

Menghemat Biaya, Pemkab Gelar Ruwatan Massal

MENURUT pemahaman kejawen, sukerta diartikan sebagai pembawa sial yang melingkupi manusia sejak kelahirannya. Untuk membebaskan dapat dilakukan dengan ritual ruwatan. Karena itu, ruwatan sering diartikan sebagai upaya menyelamatkan diri.

Ruwatan telah menjadi tradisi masyarakat Jawa sejak zaman kerajaan Mamenang Kediri tahun 851. Sebagaimana diungkap dalam buku karya Empu Bahu Prodjo dan juga "Buku Dalang Kandha Buwana Murwakala" (R Tanojo), ruwatan diadakan untuk memanjatkan doa permohonan guna menghilangkan sukerta.

Biasanya ritual itu dilakukan oleh empu dalang yang memiliki silsilah keturunan dari generasi dalang-dalang, dengan mementaskan wayang lakon Murwakala. Pentas wayang tersebut merupakan media pemanjatan doa ruwat, seperti jantur kala mur, sampurnaning puja, santipurwa, caraka balik, satra telak, sastra pinedati, sastra gigir, santikukus, bala sewu, banyak dalang, padusaning kala, wisikaning kala, kudanganing kala, kumbalageni, padusan jatusmati, padusan dalang-panjak, sumbar, dan sebet.

Kemudian ditutup dengan doa ''awignam astu namas idem. Lungguhku pakuning bumi, telapakan sanggabuwana...''

Jenis ruwatan terdiri atas ruwat sukerta, yakni upaya membebaskan kesialan. Sukerta banyak jenisnya, seperti anak tunggal yang disebut ontang-anting (pria) dan unting-unting (wanita), kembar dampit, kedono-kedini (anak dua, satu perempuan satu laki-laki), anak tiga pria semua atau putri semua, anak lima putra atau putri semua (pandawa dan pandawi), dan lain-lain.

Membebaskan Sengkala

Kemudian ruwat leksana, yaitu untuk membebaskan sengkala (kesialan). Jenis sengakala pun banyak ragamnya. Seperti sengkala kebo kemali (sulit jodoh), bau laweyan (susah berkeluarga), jlomprong (hidup sakit-sakitan), cluring (serba sial), cluwak bodas (banyak utang), kantong bolong dan bagor borot (banyak rejeki cepat habis), pantek jangkar (keliru menimba ilmu), blangkon suji (sial membunuh orang), dan lain-lain.

Ada pula ruwat bebasan, yakni untuk menghilangkan kesialan atas tindakan keliru melanggar pantangan. Seperti berjalan saat bedug tengah hari baik secara diam maupun sambil berbicara, yang disebut sebagai bathang lelaku dan bathang pangucap-ucap. Juga ruwat bebanggel, untuk menghilangkan kesialan atas perbuatan yang tak tuntas atau perilaku sembrono.

Seperti membangun rumah belum jadi keburu roboh, rumah kerobohan pohon kates (pepaya), kejatuhan kotoran burung gagak, merobohkan dandang, memecahkan periuk, dan memutuskan pipisan (alat tumbuk jamu).

Masih ada dua lagi jenis ruwat yang bersifat tidak individual sebagaimana diuraikan di atas. Yakni ruwat sedekah bumi, yang secara khusus dilakukan masyarakat untuk menyampaikan rasa syukur atas perolehan panen.

Kemudian ruwat bersih desa, sebagai sarana ritual komunitas masyarakat untuk memohon karahayon (keselamatan) dan kemakmuran hidup, terbebas dari malapetaka, terhindarkan dari ancaman wabah, dan bencana alam.

Untuk menggelar ruwatan itu biayanya mahal. Karena itu Pemkab mengadakan ruwatan massal yang dapat diikuti oleh semua lapisan masyarakat.

Seperti yang akan diadakan Minggu (7/3) lusa di Waduk Gajahmungkur. Rencananya dalang ruwat dipercayakan pada Ki Lilik Guna Hadi Prana. Bagi peminat dapat langsung mendaftarkan ke Kantor Pariwisata. (Bambang Pur-49s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA