logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 5 Maret 2004 Liputan Pemilu 2004  
Line

COBLOSAN

Ribuan Tukang Ojek Dikerahkan

BANDUNG - Ribuan tukang ojek di seluruh Jawa Barat dilibatkan dalam pengamanan Pemilu 2004. Mereka ditugasi memantau pergerakan yang mencurigakan di lingkungan sekitarnya. "Semuanya 86.500 pengojek. Mereka sudah menyatakan kesiapannya,'' kata Kapolda Jabar, Irjen Pol Dadang Garnida kemarin di Bandung.

Keterlibatan mereka, kata Dadang, sangat membantu kepolisian yang mengerahkan 2/3 kekuatannya, 22 ribu personel. "Keamanan memang tugas polisi, tapi keamanan semata-mata bukanlah milik polisi. Masyarakat pun bisa turut serta untuk mewujudkannya," kata dia.

Penggunaan tenaga pengojek, kata perwira berbintang dua itu, didasarkan pada tingkat mobilitas mereka yang tinggi. Diharapkan dengan begitu, tiap kejadian yang mencurigakan bisa segera dilaporkan ke pihaknya. Mereka bertugas layaknya petugas intel. "Kewenangan mereka memang hanya sebatas melaporkan. Tak ada kewenangan lain selain itu," tandas Dadang.

Untuk operasional, Polda Jabar hanya akan membantu mereka melalui pembentukan koperasi.(dwi-78i)

''Rakyat Jangan Dipaksa Memilih''

SEMARANG- Kebebasan memilih dipandang sudah tidak ada lagi di negeri ini. Rakyat dipaksa untuk memilih partai-partai yang menjadi kontestan Pemilu 2004. Sekelompok orang yang menamakan diri Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) berpandangan, tidak memilih adalah sebuah pilihan. Putih sebagai lambang kebebasan terkalahkan oleh hitam sebagai lambang penguasa.

Nuansa golongan putih (golput) dalam pemilu mendatang itu disampaikan FPPI, kemarin, saat beraksi di bundaran air muncrat Jalan Pahlawan Semarang. Dalam aksinya itu, mereka menggelar happening art di depan Patung Diponegoro Undip. Seorang peserta aksi bertelanjang dada berlumuran cat putih di sekujur tubuhnya.

Tiga lainnya berlumuran hitam. Lalu muncul bendera putih. Tiba-tiba tiga orang dengan coreng-moreng hitam-hitam itu menyambar bendera putih dan membuangnya. Dengan sekuat tenaga, putih berusaha menangkap bendera itu tetapi tenaganya payah.

Tiga tokoh hitam itu terus saja menindas putih dengan kekuatan dan kekuasaannya. Penguasa terus menginjak-injak kebebasan berpolitik serta memaksa putih menjadi hitam. ''Masyarakat dipaksa untuk memilih partai-partai. Padahal, putih adalah pilihan kami,'' ungkap koordinator aksi Habib Lutfi. (G1-78j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA