logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 5 Maret 2004 Berita Utama  
Line

Sekitar Kemerebakan Gula Ilegal (1)

Pelabuhan Kuching Hanya untuk Transit

GULA PUTIH : Kegiatan memuat gula putih produksi Korach Industry Thailand di dermaga Sri Datuk Amar Sim Kheng Hong, Pelabuhan Kuching Serawak.(69)

Pertengahan Februari lalu wartawan Suara Merdeka Eko Suksmantri mengamati arus gula ilegal dari Kuching, Serawak, Malaysia Timur sampai ke Pontianak, Kalimantan Barat. Berikut ini laporannya secara berseri.

MEMANG harus diakui, masalah gula ilegal khususnya di Kalimantan Barat (Kalbar) makin merebak. Perdagangan "kristal manis" ilegal di Kota Katulistiwa Pontianak itu, kini sudah menjadi rahasia umum. Gula dari India dan Thailand yang masuk secara ilegal itu didapatkan dengan mudah di pasar-pasar tradisional ataupun warung-warung kecil di seluruh pelosok daerah itu.

Restoran-restoran dan rumah-rumah makan pun mengonsumsi "kristal manis" ilegal tersebut. Di restoran Sinar Padang, Simpang Tiga, Sanggau misalnya, pemiliknya dengan wajah ceria menunjukkan tiga buah karung gula, masing-masing berisi 50 kg bermerek Venkateskhara dari India yang dibelinya dari pedagang di perbatasan. Bukan itu saja, sopir-sopir taksi pun terang-terangan ikut menawarkan komoditas selundupan itu. "Bapak datang ke Pontianak, mau bisnis atau hanya jalan-jalan? Kalau mau bisnis gula, saya bisa mencarikan berapa pun jumlahnya dengan harga relatif murah," kata seorang sopir taksi dalam perjalanan dari Bandara Supadio, Pontianak, menuju ke hotel.

Perbicangan singkat dengan sopir taksi itu tentunya bisa menjadi bukti bahwa di daerah Kalbar kini tengah "kebanjiran" gula ilegal. Hal itu diakui Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalbar Soetaryo Suradi. "Kebutuhan gula Kalbar, 90% dipenuhi gula impor ilegal," ungkapnya suatu ketika.

Jika dicermati, "membanjirnya" gula impor ilegal di Kalbar itu tidak terlepas dari pasokan gula pasir dari Jawa yang minim. Betapa tidak? Sejak penerbitan kebijakan tata niaga impor gula melalui Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Nomor 653/MPP/Kep/9/2002 bertanggal 23 September 2002, pasokan gula ke daerah-daerah khususnya Kalbar sangat berkurang.

Turunnya kebijakan pembatasan impor gula tersebut membuat daerah itu kesulitan mendapatkan si "kristal manis" karena stok di pasaran hanya tinggal 2.000 ton. Padahal, kebutuhan gula di seluruh Kalbar setiap bulan 5.000 ton. Akibatnya, harga gula saat itu Rp 4.000 per kilogram. Harga yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Mungkin kondisi itu yang memicu sejumlah pedagang besar memasukkan gula ilegal itu dari Kuching, Serawak, Malaysia ke Pontianak, Kalbar secara besar-besaran.

Komoditas haram itu dengan mudah masuk, antara lain melalui Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Entikong, Kabupaten Sanggau dan lewat laut di Pelabuhan Wajo, Pontianak. Akibatnya, PPLB Entikong kini tidak hanya untuk perdagangan masyarakat pelintas batas, tapi sudah menjadi jalur perdagangan internasional antaranegara.

Terang-terangan

Tidak seperti di tempat lain yang memasukkan gula itu secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi, di Kalbar masuknya gula ilegal itu secara terang-terangan. Hal itu terjadi karena kegiatan pelanggaran hukum itu tidak hanya diketahui oleh pejabat terkait di Kalbar, tapi juga oleh para pejabat Malaysia di Kuching, Serawak.

Pejabat di negara bagian Malaysia Timur itu jelas mengetahui, karena telah melaporkan masalah itu kepada Konsul Malaysia untuk Pontianak, Ismail bin Haji Salam. "Setiap bulan, 250-an kontainer gula impor ilegal transit di pelabuhan Kuching, Serawak," katanya ketika itu.

Ismail menuturkan, ratusan peti kemas tersebut tidak membongkar muat di pelabuhan Kuching, tapi secara ilegal langsung dikirim ke Kalbar dan kota-kota lain di Indonesia. Di pelabuhan, "kristal manis" itu juga tidak dikenai bea masuk karena pelabuhan Kuching adalah pelabuhan bebas sehingga menurut hukum Malaysia gula itu tidak termasuk komoditas selundupan.

Ungkapan Ismail itu dibenarkan oleh polisi pelabuhan Kuching, Shakespeare. Polisi yang bertugas di Dermaga Sri Datuk Amar Sim Kheng Hong, Kuching itu mengemukakan, tiap hari pihaknya mengirim gula putih produksi Korach Industry Co Thailand dan gula putih dari India ke Indonesia, 500-1.000 ton.

Gula di pelabuhan Kuching tersebut, menurut agen gula di Serawak, bukan pesanan dari Malaysia saja, melainkan juga pesanan dari beberapa pengusaha Indonesia. Di Kuching, terdapat enam agen gula yang tergolong besar, antara lain Mr Hok dan Mr Cin. Sementara itu pengusaha Indonesia, menurut agen di Serawak, salah satunya adalah The Leu Sia alias Asia pemilik PT Delta Asia Pangan Sekawan dan PT Delta Asia Sekawan yang berkedudukan di Pontianak.

Tegasnya, pelabuhan Kuching hanya tempat transit gula dari Thailand dan India tersebut.

Ratusan peti kemas yang berisikan gula itu langsung dibawa ke perbatasan Tebedu, Serawak. Dari Tebedu, si "kristal manis" kemudian dibawa ke Entikong, Kabupaten Sanggau. Di daerah itu, mereka memindahkannya ke truk-truk dan diangkut langsung ke Pontianak.

Di perbatasan Entikong itu pula, orang dengan mudah bisa menyaksikan dua truk yang beradu "pantat" untuk memudahkan pemindahan barang haram itu. Bila sesuai dengan aturan, karena pengusaha Indonesia yang mendatangkan gula, maka begitu masuk di wilayah Indonesia seharusnya dikenai bea masuk oleh petugas Bea dan Cukai Indonesia.

Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian. Banyak gula masuk yang seharusnya dikenai bea masuk, malah dengan leluasa lolos dari pengawasan petugas. Tegasnya, meski ada penjagaan di perbatasan yang relatif ketat di Entikong, masih banyak gula yang lolos. Yang ironis, pelanggaran hukum itu secara terang-terangan.

Sudah dibina

Menurut sumber di Pontianak, lolosnya gula-gula yang masuk tanpa membayar bea masuk itu karena pengusaha kenal baik dengan oknum birokrasi dan aparat penegak hukum di segala jajaran. Mungkin akibat adanya kolusi antara oknum aparat terkait dan penyelundup ini, impor gula ilegal sulit dibasmi. Apalagi, perusahaan yang masuk dalam daftar penyelundup gula dari Sarawak, Malaysia Timur ke Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar, berjumlah puluhan.

Wakil Gubernur Kalbar LH Kadir mengemukakan, kini ada 43 perusahaan masuk ke dalam daftar penyelundup gula. Dari 43 perusahaan tersebut, 23 perusahaan berkedudukan di Sarawak, Malaysia. Adapun 20 perusahaan lainnya berada di Entikong dan Pontianak, Kalbar.

Dari 23 perusahaan penyelundup gula dari Malaysia tersebut, kebanyakan berada di Tebedu, Kuching, dan Serian. Dalam menjalankan kegiatannya, perusahaan tersebut setiap hari menggunakan lebih kurang 26 truk besar berkapasitas angkut minimal enam ton per truk. Itu berarti, gula yang diselundupkan ke Kalbar paling sedikit 156 ton setiap hari.

Sementara itu, 20 perusahaan penyelundup gula dari Indonesia kebanyakan berkantor di Entikong dan Pontianak, Kalbar. Perusahaan tersebut setidaknya mengangkut 30 truk gula ilegal ke Kalbar setiap hari atau paling sedikit 180 ton per hari.

Daftar perusahaan penyelundup gula itu diketahui dari tembusan surat Konsul Jenderal RI di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia Timur yang ditujukan ke Menteri Perdagangan dan Perindustrian Rini MS Soewandi serta Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Surat yang dibuat bertanggal 27 Januari 2004 tersebut bernomor BB-12/Kota-kinabalu/I/04.

Melihat persoalan gula ilegal yang kian menggila itu, Kadir mengaku tidak sanggup lagi jika Kalbar harus menangani penyelundupan gula itu sendirian. (69j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA