logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 5 Maret 2004 Ekonomi  
Line

Bentoel Tidak Lagi Ekspor ke AS

MALANG - Rencana Pemerintah AS menerbitkan UU yang melarang rokok beraroma ditanggapi dingin oleh PT Bentoel. Apalagi pabrik rokok itu sejak 2002 tidak mengekspor produksinya ke negara tersebut. Sebelumnya pun jumlah ekspornya kecil, yakni sekitar 300 juta batang/tahun.

"Pelarangan itu menyangkut penambahan aroma misalnya cengkih, saus, dan pengharum dalam rokok," kata Ir Daryoto Setiawan, Presiden Direktur PT Bentoel Prima, kemarin.

Dia mengatakan, larangan tersebut bukan hanya ditujukan kepada Indonesia, tetapi berlaku menyeluruh bagi produsen rokok dan eksportir yang mendatangkan rokok ke AS. Bahkan, UU itu juga diberlakukan bagi perusahaan rokok di negara tersebut.

Master of Settlement Agreement, lanjut dia, mengharuskan seluruh pabrik rokok yang produksinya masuk AS membuka rekening bank di setiap negara bagian. Itu dimaksudkan sebagai antisipasi apabila ada tuntutan masyarakat terkait dengan akibat rokok.

"Dana yang terkumpul dalam rekening tersebut akan dipakai untuk menyelesaikan tuntutan masyarakat itu," jelasnya.

RUU Pembatasan Rokok Beraroma, tutur dia, berarti rokok yang memiliki aroma kretek, tembakau, rasa menthol, dan sebagainya dilarang masuk AS. Tidak sedikit masyarakat negara itu yang menyukai rokok kretek buatan Indonesia.

Dirjen Kerja Sama Industri dan Perdagangan Internasional Depperindag, Pos Marojahan Hutabarat, sudah melakukan pertemuan dengan Asisten Sekretaris Menteri Perdagangan AS, William Lash. Pertemuan itu membahas keberatan Pemerintah Indonesia terhadap RUU tersebut.

Data WTO 2002 menyebutkan, China adalah negara tertinggi pengonsumsi rokok, yakni 1,643 triliun batang per tahun, disusul AS 451 miliar batang, Jepang 328 miliar batang, Rusia 258 miliar batang, dan Indonesia 215 miliar batang per tahun.

Bentoel, kata Daryoto, sekarang lebih fokus ke Asia Tenggara, Eropa Timur, Korea, Macao, dan Hong Kong. Produk yang dimasukkan ke kawasan itu terutama jenis rokok putih. Kalaupun ada rokok kretek maka persentasenya kecil.

"Kamboja dan Vietnam terbesar konsumennya dan dilayani oleh agen kami di Singapura. Kamboja dan Macao merupakan pasar baru, sedangkan Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura adalah pasar lama," tambahnya.

Ekspor PT Bentoel Prima ke berbagai negara tersebut, lanjut dia, sekitar 500 juta batang per tahun senilai Rp 100 miliar. Produksi tahun ini diperkirakan meningkat menjadi 7,2 miliar batang dari 5,5 miliar batang pada tahun lalu. (jo-53n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA