logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 5 Maret 2004 Ekonomi  
Line

Harga Ikan Dikhawatirkan Jatuh

PEKALONGAN- Masuknya ikan bawal dan ikan banyar dari Pelabuhan Perikanan Jakarta ke Pekalongan beberapa hari terakhir ini membuat para nelayan, pemilik kapal, dan pengurus kapal di Pekalongan sangat khawatir. Sebab itu dapat menjatuhkan harga ikan dalam negeri. Jika hal tersebut terjadi, nasib nelayan akan semakin memprihatinkan.

''Harga ikan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP), yang merupakan produk ikan terbesar kedua di Indonesia bisa hancur, kalah bersaing dengan ikan impor itu,'' kata Ketua Perhimpunan Pengusaha Kapal Pekalongan (P2KP) Muhammad Muslih, saat deklarasi Asosiasi Purse Seine Indonesia (API) Pekalongan di Kafe Merdeka, Rabu malam.

Menurut Muslih, kekhawatiran itu bisa dilihat dari harga dan kualitas ikan dari Pakistan yang jauh lebih rendah. Padahal ditinjau dari kualitasnya, ikan impor itu tidak kalah dibanding produk dari negara kita.

Harga ikan bawal, misalnya, hanya Rp 10 ribu per kilo dan ikan banyar Rp 5 ribu per kilo. Padahal, harga ikan bawal di Indonesia jauh lebih tinggi. Contohnya di Pekalongan, harga ikan bawal mencapai Rp 15 ribu, sedangkan ikan banyar Rp 7 ribu.

Melihat kenyataan itu, Muslih memperkirakan nasib nelayan akan hancur. ''Saat ini saja nasib nelayan sudah memprihatinkan. Sebab hasil tangkapan mereka menurun drastis dan tidak cucuk (seimbang-Red) dibanding dengan pengeluaran,'' katanya.

Itu belum masalah hambatan setelah otonomi daerah, di mana laut mulai dikaveling-kaveling oleh nelayan setempat. Dengan dalih otonomi daerah, nelayan melarang kapal luar daerah mencari ikan di perairannya. Bahkan kapal-kapal asal Pekalongan pernah dibom di daerah Sulawesi agar tidak mendekat ke perairan setempat. Padahal, kapal-kapal Pekalongan tidak melanggar garis batas pantai yang dilarang Pemerintah.

Penggabungan

Melihat kenyataan itu, kalangan pengurus kapal dan pemilik kapal bersatu untuk menghadapi kendala tersebut dengan membentuk API yang merupakan penggabungan P2KP dan pengusaha kapal. Diharapkan, bersatunya pengurus dan pemilik kapal dapat menyelesaikan berbagai masalah yang berkaitan dengan kapal dan nelayan.

Sementara itu, Benyamin Christian W, anggota deklarator API Pekalongan mengakui nasib nelayan semakin memprihatinkan. Selain disebabkan oleh pengaruh cuaca belakangan ini, juga akibat kebijakan tentang otonomi daerah.

Pengaruh cuaca, misalnya, selama beberapa bulan terakhir ini nelayan sulit mendapatkan ikan. Dengan demikian, kapal jenis purse seine dan minipurse seine yang biasanya hanya selama 40 hari melaut, kini sudah tidak dapat dipertahankan lagi.

''Akibat ikan sulit ditangkap, rata-rata nelayan kini mencari ikan selama dua bulan. Hal itu tentu akan menambah biaya perbekalan,'' katanya.

Hasilnya pun kurang menggembirakan. Dengan bagi hasil, setiap nelayan dalam waktu dua bulan hanya mendapatkan bagian antara Rp 100 ribu - Rp 200 ribu. ''Ini kan sudah tidak cucuk lagi jika seseorang menggeluti perikanan laut,'' katanya.

Itu belum lagi jika kapal-kapal dikejar-kejar nelayan daerah lain yang ingin perairannya tidak dimasuki kapal luar daerah.

Setelah dideklarasikan oleh 23 pengurus dan pengusaha kapal, API menunjuk H Miftaudin sebagai Ketua, sedangkan Muhammad Muslih sebagai Sekretaris.(A15-82i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA