logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 5 Maret 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Bangunan Pasar Segera Dibongkar

PEKALONGAN - Para pedagang Pasar Patiunus Kota Pekalongan yang mencapai 450 orang diharapkan mau pindah ke pasar darurat. "Dalam waktu dekat, Pasar Patiunus akan dibongkar dan segera dibangun menjadi subterminal angkutan kota. Hal itu untuk meramaikan Pasar Banjarsari jika sudah selesai dibangun," kata Kabag Humas Suharto BBA.

Dia menyebutkan, rencana pembangunan subterminal itu sudah diajukan ke DPRD dan diharapkan pembangunan tersebut berjalan sesuai dengan rencana. Karena itulah, kata dia, pedagang Pasar Patiunus diharapkan agar segera pindah ke pasar darurat. "Menurut edaran dari Pemkot, mestinya pedagang pindah paling akhir pada 10 Maret 2004, bukan 15 Maret."

Alasan pengajuan pengosongan Pasar Patiunus dari 15 Maret menjadi 10 Maret, ujar dia, untuk menghindari saat-saat kampanye yang dimulai pada 11 Maret. Karena itu, Pemkot berharap pengosongan Pasar Patiunus dilakukan secepatnya.

Tiga Lantai

Jika sudah dikosongkan, lanjutnya, bangunan Pasar Patiunus akan dirobohkan seperti Pasar Banjarsari. Karena rencana itu sudah jelas, sejak dini pedagang diharapkan bersedia pindah. Sebab, jika mereka pindah belakangan, pedagang akan bingung karena bisa-bisa lokasi sudah penuh.

Soal tidak mau pindah karena kios di pasar darurat sangat sempit, menurut Suharto, itu memang benar. "Namanya saja pasar darurat, kondisinya juga darurat," katanya.

Dia mengatakan, pembangunan Pasar Banjarsari berupa bangunan tiga lantai dianggarkan dana Rp 79,9 miliar. Pasar itu akan diperuntukkan bagi pedagang Banjarsari dan Patiunus yang mencapai 2.351 pedagang.

Berkaitan dengan pasar darurat, lanjutnya, hingga kini masih banyak kios yang kosong ditinggalkan pemiliknya. Mereka memilih berjualan di tepi jalan seperti di Jl Bandung, Jl Cempaka, Jl Agus Salim, dan Jl Seruni. Penjualan di tepi jalan itu dinilai mengganggu arus lalu lintas, sehingga Pemkot meminta mereka segera masuk ke dalam pasar. "Kami memberi batas waktu hingga 8 Maret pedagang di tepi jalan harus masuk," katanya.

Kebijakan itu ditempuh agar pedagang segera menempati kios di dalam pasar darurat, sehingga tidak ada yang kosong. Sebab, kalau kosong dibiarkan terus, pasar darurat tidak cepat ramai sebagaimana Pasar Banjarsari sebelumnya.

Suharto menjelaskan, sejak Lapangan Sorogenen dijadikan pasar darurat, arus lalu lintas diatur agar tidak macet. (A15-20e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA