
| Kamis, 4 Maret 2004 | Tajuk Rencana |
Ketika Karbala Memerah Darah- Tiga belas abad silam, Sayyidina Hussein bin Ali tewas bersimbah darah di Padang Karbala. Ribuan pasukan Yazid bin Muawiyah membantai Hussein dan pengikutnya dalam sebuah peristiwa yang hingga kini diperingati sebagai tragika bagi kaum Syiah. Tragedi hari Assyura itu diperingati dengan menghayati apa yang diderita Imam Hussein. Bahkan, tidak sedikit yang mengekspresikan dengan menyakiti diri sendiri, mencoba membayangkan cucu Nabi Muhammad yang bersimbah darah di Karbala. Selasa lalu, ketika kaum Syiah Irak larut dalam kekhusyukan peringatan hari bersejarah itu, tragedi mengerikan terjadi di Bagdad dan kota suci Karbala di wilayah selatan. Sedikitnya 170 orang tewas dan 400 lebih luka-luka yang hampir semua warga Syiah.
- Ritual memperingati terbunuhnya Hussein itu juga dirayakan muslim Syiah di Iran, Pakistan, Turki, Lebanon, Afghanistan, dan beberapa negara lain termasuk di sejumlah kota di Indonesia. Totalitas ritual itu tergambar dari sikap khusyuk yang luar biasa: dengan tangis pilu dan ekspresi-ekspresi kesetiaan kepengikutan untuk merasakan derita Imam Hussein. Di Irak, ini peringatan terbuka yang pertama sejak tumbangnya Saddam Hussein yang selama ini dikenal sangat represif terhadap warga Syiah. Betapa meluap euforia kebebasan dapat dilihat dari dua juta orang - termasuk dari Iran - yang merayakannya di Karbala. Selama lebih dari 30 tahun, pemerintahan Saddam Hussein yang didominasi Sunni melarang perayaan Assyura secara besar-besaran.
- Ledakan di Bagdad dan Karbala itu berasal dari bom bunuh diri. Imam Masjid Al-Kadimiya menuding orang asing sebagai pelakunya, karena dia memperkirakan orang Irak tidak akan melakukan serangan sekeji itu. Militer pendudukan Amerika Serikat (AS) dikiritik belum mampu menciptakan situasi aman. Wakil Kepala Operasional Angkatan Darat AS di Irak, Brigjen Mark Kimmitt, menuding Abu Mussab Al-Zarqawi sebagai pelaku utama. Warga Yordania itu disebut-sebut punya hubungan dengan Tanzim Al-Qaedah. AS memastikan serangan bom itu sudah dirancang lama. Spekulasi apa pun wajar muncul dalam suasana di Irak yang masih belum menentu. Namun kelompok mana pun aktornya, kebiadaban itu patut dikutuk dunia. - Siapa pun pelakunya, inilah gambaran terkini di Irak yang sebelumnya sudah banyak diperhitungkan. Tumbangnya Saddam Hussein tidak otomatis menyelesaikan semua persoalan yang membelit rakyat Irak. Bahkan kini terbayang gambaran lebih mencemaskan. Pemerintahan George W Bush memberi ancar-ancar penyerahan kekuasaan kepada rakyat Irak akan dilakukan pada 2005. Sementara pihak Syiah mendesak agar pemilu dan penyerahan kekuasaan dipercepat. Persoalannya, visi politik AS dan sekutunya dengan Syiah yang merupakan mayoritas di Irak tidak akan bisa dipertemukan. Bush merasa telah membebaskan kaum Syiah dari penindasan rezim Saddam. Tetapi yang terjadi, sikap Syiah terhadap AS justru sama dengan sikap kaum Sunni.
- Peta konflik yang bisa mengarah ke perang saudara membentang di Negeri 1001 Malam itu. Dengan berbagai kepentingannya, terbuka kemungkinan perseteruan antara Sunni penentang Saddam Hussein dan Sunni pengikut sang diktator. Lalu antara Sunni dengan Syiah; juga masih ada suku Kurdi di Irak utara sebagai elemen kuat lain yang menuntut lebih dari sekadar otonomi. Aras konflik ini memang telah menyejarah yang selama Saddam berkuasa ditekan melalui tindakan-tindakan represif dan bengis. Kini mereka seperti bendungan jebol untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan etnis dan aliran agama ketimbang berpikir tentang negara. Inilah yang tampaknya harus dilalui rakyat Irak sebagai jalan panjang yang belum jelas bagaimana ujungnya kelak.
- Yang lebih berbahaya adalah jika AS dan Inggris terlibat dalam skenario konflik panjang di sana. Apakah mungkin? Belum lama ini militer AS menyatakan ada skenario perang saudara besar yang dirancang oleh kelompok tertentu. Tetapi kelompok mana yang menghendaki? Rasanya sangat memilukan kalau dalam suasana fisik dan psikologis yang masih porak-poranda akibat invasi AS dan sekutunya, rakyat Irak harus memperpanjang penderitaan dengan perluasan peta konflik. Peringatan hari Assyura - karena suasananya - memang dapat dengan mudah dijadikan ''lahan'' untuk melakukan serangan. Namun siapa yang berani menyimpulkan sesama saudara tega bertindak sekeji itu? Hanya targetnya yang terbaca jelas: memprovokasi! |