logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 4 Maret 2004 Sala  
Line

Jangan Sepotong-potong Tangani Pasar Kliwon

PASAR KLIWON-Jika ingin mengurai kondisi Pasar Kliwon yang memprihatinkan dan kini ditinggalkan pedagang, menurut Kepala Pasar Sudjarwadi, diperlukan penataan total dari Pemkot. Jika tidak, sama halnya membiarkan pasar mati perlahan-lahan tapi pasti.

"Kalau akan mengurai permasalahan di pasar ini, jangan hanya sepotong-sepotong, karena penyebabnya bukan hanya satu. Satu-satunya solusi harus dengan penataan menyeluruh, sehingga aktivitas di tempat itu kembali hidup," kata dia, kemarin.

Sampai sekarang saja, katanya, dari 168 los dasaran yang ada tinggal 56 pedagang los yang masih menempati atau sekitar 30%. Yang lain memilih hengkang karena semakin sepi.

Namun ke-56 pedagang itu berjualan hanya pada saat tertentu, sehingga tak setiap hari sebanyak itu.

Lantaran ditinggalkan pedagang, Dinas Pengelolaan Pasar juga tak bisa menarik retribusi dari pemiliknya. Mereka tak hanya tak berdagang, namun juga mengosongkan dasaran begitu saja.

Untuk kios, terdapat 13 unit yang seluruhnya masih ditempati. Sebab, tempat itu berada di bagian depan dan cukup strategis. Karena itu, semua pedagang kios masih buka setiap hari dan menggunakannya untuk berbagai usaha.

Salah seorang pedagang, Legiyem menuturkan, setiap hari tak lebih dari 15 los yang berisi pedagang. Itu pun pada pagi hari saat pembeli banyak. Selepas itu, paling tinggal 10-an orang. Hal itu dibenarkan pedagang lain, Suparno, yang berjualan bakso.

"Malah kurang dari 10. Kalau siang sangat jarang yang berbelanja. Pagi saja tak banyak apalagi siang atau sore," kata lelaki yang telah berdagang 24 tahun itu.

Terpaksa Menunggak

Legiyem mengatakan, pedagang yang memilih meninggalkan kiosnya karena merasa tak sanggup membayar retribusi los Rp 500 per hari. Jumlah tersebut sebenarnya sangat ringan, tapi lantaran setiap hari belum tentu ada keuntungan, mereka enggan jika setiap hari harus nombok atau terpaksa menunggak.

Sudjarwadi memaparkan, masalah sepinya transaksi di tempat itu tidak hanya disebabkan satu hal, tapi sudah kompleks. Pertama, dijadikannya bagian belakang pasar sebagai kampung hunian.

Akibatnya, masyarakat mengira pasar tersebut tak lagi hidup. Etos kerja pedagang juga mulai menurun.

Kebanyakan pedagang di tempat itu merupakan pedagang lama yang sudah tua sehingga berjualan dengan ogah-ogahan. Terakhir kondisi fisik pasar tergolong kumuh sehingga tidak menarik pengunjung.

Padahal, jika dilihat dari sisi geografisnya, pasar itu sangat strategis yaitu berdekatan dengan Keraton, bursa perdagangan Beteng, dan kios keris kacamata, sehingga sangat potensial untuk menjadi ramai.

Ia menyayangkan jika pasar yang sudah berusia puluhan tahun itu mati karena ditinggalkan pedagangnya.(G18-42c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA