logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 4 Maret 2004 Sala  
Line

Di Balik Musibah Lahar Dingin Merapi

Penambang Pasir Masih Dihantui Perasaan Waswas

BANJIR bandang lahar dingin yang membawa batu dan pasir dari Gunung Merapi yang menghancurkan pagar jembatan Kali Apu, Desa Klakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, pekan lalu, ternyata juga mendatangkan rezeki.

Longsoran batu dan pasir yang ada di sepanjang Kali Apu merupakan lahan baru dan bisa digunakan untuk menambang uang.

''Longsoran lahar dingin dari Gunung Merapi itu memang bencana. Tidak saja pagar jembatan yang hancur, puluhan haktare tanaman sayur-sayuran dan ratusan batang pipa juga rusak. Tetapi di balik bencana itu kami menuai rezeki,'' kata Sutras, warga Desa Klakah, Kecamatan Selo, kemarin.

Akhir Januari 2003 banjir batu dan pasir terjadi di Kali Apu dan menimbulkan endapan lahar dingin berketinggian 17 meter. Karena tergerus hujan, endapan batu dan pasir itu menurun. Pada Kamis lalu (26/2) bencana serupa datang lagi dan lebih besar. Akibatnya, terjadi endapan batu dan pasir. Batu dan pasir yang mengendap mencapai ratusan ribu meter kubik.

Dua warga Desa Klakah Harto dan Mukri menuturkan, kualitas batu dan pasir dari Gunung Merapi sangat baik. Rata-rata setiap rit (3 m3) batu dan pasir harganya Rp 70.000. Dengan harga sebesar itu, pembeli mengambil sendiri di lokasi atau Kali Apu. Karena harganya cukup tinggi, sebagian warga kini mulai melakukan penambangan.

Khawatir

Sejak banjir, mereka mengaku sudah menjual beberapa rit kepada warga yang membutuhkan. Namun penghasilan itu dibagi rata dengan warga lain yang ikut melakukan penambangan.

''Kalau dihitung sejak terjadi bencana banjir saya sudah mendapatkan uang lebih dari Rp 150.000,'' kata salah seorang warga.

Namun saat melakukan penambangan atau mencari batu dan pasir dia mengaku diliputi waswas. Sebab, curah hujan di kawasan Gunung Merapi masih cukup tinggi. Dengan demikian, bencana susulan masih mungkin terjadi.

''Bisa saja saat mencari pasir tiba-tiba datang banjir. Karena itu, jika curah hujan tinggi saya tidak melakukan penambangan,'' kata Sutarno, warga Desa Tlogolele.

Camat Selo Drs Luwarno mengatakan, bencana alam memang mendatangkan rezeki bagi para penambang. Selain itu, bukti jembatan Kali Apu dapat difungsikan sebagai dam atau penahan longsoran dari Gunung Merapi.

Jembatan dibangun di samping sebagai sarana transportasi juga berfungsi sebagai dam. ''Jadi, bencana juga ada manfaatnya,'' kata dia.

Penambangan diperbolehkan dan tidak ada larangan. Namun penambang harus selalu waspada. Sebab, curah hujan masih cukup tinggi dan bencana susulan kemungkinan masih terjadi. Karena itu, para penambang diingatkan untuk mengutamakan keselamatan, jangan hanya memburu penghasilan. Kalau hujan lebat, penambangan harus ditunda atau dibatalkan.(Suti Harjoyo-14c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA