logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 4 Maret 2004 Berita Utama  
Line

SBY: Saya Tidak Mau Berpolemik

  • Soal Pengucilan Dirinya dari Kabinet

JAKARTA- Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono menyesalkan berita tentang tidak dilibatkan dirinya dalam pengambilan keputusan di kabinet, sudah bergeser keluar dari konteks yang sebenarnya. Karena itu, dia tak ingin berpolemik soal isu pengucilan itu dan meminta semua pihak menghormati posisi masing-masing.

Hal itu dikemukakan Yudhoyono yang akrab dipanggil SBY menanggapi pernyataan suami Presiden Megawati Soekarnoputri, Taufik Kiemas, yang menilai dirinya seperti anak kecil.

''Sebenarnya saya tak ingin berpolemik. Karena kalau polemik berkepanjangan, kasihan rakyat. Akan tetapi saya memang perlu memberi klarifikasi singkat, karena saya melihat bahwa isu sesungguhnya telah bergeser ke sana dan kemari sehingga keluar dari permasalahan yang sesungguhnya,'' papar Menko Polkam ketika dicegat seusai memberi ceramah "Penyegaran Wawasan Kebangsaan dan Kewaspadaan Nasional" di Gedung Lemhannas Jakarta, Rabu (3/3).

SBY menuturkan, berita itu bermula dari pertanyaan banyak pihak di daerah termasuk wartawan yang diajukan kepadanya pada Jumat atau Sabtu. Sebab, dirinya tidak tampak terlibat atau tidak dilibatkan dalam kunjungan pejabat jajaran Polkam, seperti Mendagri, Kapolri, Panglima TNI, Kepala BIN, dan Menko Polkam.

Tidak Tahu

''Saya tidak tahu, terus terang karena saya baru kembali dari kunjungan ke China. Saya bertanya kepada Sesmenko Polkam. Pak Sudi (Silalahi), apakah ada undangan untuk saya untuk menghadiri rapat yang dipimpin Presiden yang hasil rapat itu ada kegiatan pejabat jajaran Polkam berkeliling ke seluruh Indonesia, dan dia menjawab tidak ada.''

Dia menduga, atas dasar itulah kemudian ada komunikasi antara Sudi dan wartawan, lalu muncul berita seolah-olah dia tidak dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

''Itu sesungguhnya yang terjadi. Jadi tidak benar kalau saya melapor kepada koran. Saya tidak melapor kepada siapa-siapa,'' tandas SBY menanggapi kecaman Taufik.

Bahkan ketika Senin (1/3) wartawan menanyakan, apakah dirinya merasa dikucilkan atau tidak dilibatkan, dia tidak merespons secara negatif.

''Saya katakan, yang penting saya masih Menko Polkam, dan saya masih tetap menjalankan tugas-tugas saya sebagai Menko Polkam.''

Itulah yang sesungguhnya terjadi. Namun, karena isu tersebut sudah bergeser ke sana-kemari, Yudhoyono ingin persoalan tersebut dikembalikan ke isu yang sebenarnya.

''Akan tetapi saya mohonlah, kita tetap saling menghormati sesuai dengan posisi masing-masing. Saya tidak akan memberikan tanggapan jika saya (tidak) dianggap sebagai anak kecil, gitu ya. Janganlah kita menghabiskan waktu menanggapi yang begitu,'' ungkapnya sambil tersenyum.

Lepas dari ada tidaknya pengucilan itu, kemarin Yudhoyono seperti ditinggal sendirian di Jakarta. Presiden, Wapres, dan menteri jajaran Polkam lainnya pergi berkeliling daerah untuk memantau persiapan pemilu. Padahal, selain SBY, Menko Kesra, Mendagri, Panglima TNI, Kapolri, dan Kepala BIN juga dijadwalkan memberi ceramah di Lemhannas. Namun, hampir semua mewakilkan pada pejabat di bawahnya untuk membacakan pidato tertulis di depan para bupati, gubernur, dan pejabat pemerintah yang mengikuti penyegaran. Hanya Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti yang tidak termasuk di jajaran Polkam hadir menyampaikan ceramahnya.

Tentang pernyataan Taufik agar dia berbicara langsung kepada Presiden, SBY mengaku terus berkomunikasi dengan Presiden jika memang ada hal-hal yang memerlukan klarifikasi. Jadi, tidak ada masalah yang luar biasa.

''Tetapi sekali lagi saya pikir tata krama dan bagaimana etika berhubungan satu sama lain itu harus kembali pada aturan main yang berlaku,'' tandasnya.

Ketika seorang wartawan menagih janjinya untuk mundur dari kabinet jika dia sudah maju sebagai capres, Yudhoyono balik bertanya, apakah di Indonesia saat ini sudah ada orang yang secara resmi mencalonkan diri atau dicalonkan sebagai presiden.

''Begini sajalah. Saya sekali lagi tidak ingin berpolemik. Biarkan saya menjalankan tugas dulu. Kemudian kalau saya harus mengambil langkah, tentu saya akan menghitung secara cermat,'' ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPP Pemuda Partai Demokrat Akbar Faisal kepada wartawan kemarin mempertanyakan, dalam kapasitas sebagai apa Taufik mengeluarkan pernyataan yang tidak simpatik tersebut.

''Kami dari Pemuda Partai Demokrat jadi bertanya, dalam kapasitas sebagai apa Pak Taufik Kiemas mengeluarkan pernyataan seperti itu. Apakah memang pernah Pak Suslio Bambang Yudhoyono mengeluarkan pernyataan bahwa dirinya siap dicalonkan menjadi presiden. Padahal, sampai hari ini tidak pernah ada pernyataan itu. Walaupun kami telah meminta beliau untuk tampil,'' ungkap Akbar dalam jumpa pers di Cafe Phoenam, kemarin. Dalam pandangan Akbar, seharusnya Taufik Kiemas lebih memikirkan langkah terbaik bagi bangsa ini.(A20,F4-58j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA