logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 4 Maret 2004 Internasional  
Line

ANALISIS

Zarqawi Dicurigai sebagai Dalang Aksi di Karbala

KARBALA - Setelah serangan di tempat-tempat suci Syiah Irak, perhatian kini diarahkan pada apakah aksi tersebut merupakan hasil dari upaya sengaja unsur-unsur yang berkaitan dengan Al Qaedah untuk menimbulkan perselisihan antarkelompok dan perang saudara.

Jika ada dalang di balik serangan-serangan itu, maka kandidat utamanya tampaknya seorang pria yang punya hubungan dengan Usamah bin Ladin bernama Abu Musab al-Zarqawi.

Dia diyakini akan atau telah berada di Irak dan Amerika telah menawarkan imbalan 10 juta dolar (sekitar Rp 85 miliar) bagi siapa pun yang bisa menangkapnya.

Brigjen AS Mark Kimmitt mengatakan, Al-Zarqawi pasti menjadi ''salah satu tersangka utamanya''.

Salinan sebuah surat, yang menurut intelijen AS, berasal dari dia dan ditujukan kepada para pemimpin Al Qaedah di luar negeri, ditemukan di sebuah disket komputer di Irak bulan Januari lalu.

Taktik menyerang kelompok Syiah disusun dengan sangat jelas. Penulis surat itu memiliki perbendaharaan kata yang banyak namun tidak menyenangkan. Surat tentang Syiah Irak itu berbunyi:

''(Mereka) adalah penghalang yang tidak bisa diatasi, ular yang bersembunyi, kalajengking yang terampil dan jahat, musuh yang memata-matai, dan bisa yang merasuk.

''Pengamat yang tak terburu-buru dan penonton yang bertanya mungkin menyadari bahwa Syiahisme merupakan bahaya yang mengancam dan tantangan yang sebenarnya. Mereka adalah musuh. Waspadalah. Perangi mereka.''

Sikap Permusuhan

Beberapa sikap permusuhan pada Syiah yang ditunjukkan dalam surat itu bisa dijelaskan oleh antagonisme tradisional antara kelompok Syiah dan Sunni. Usamah bin Ladin dan para pengikutnya yang Sunni.

Namun surat tersebut juga melebihi perbedaan-perbedaan doktrin. Isi surat itu juga mencakup strategi militer yang mengidentifikasi empat musuh - warga Amerika, Kurdi, pasukan keamanan Irak, dan kaum Syiah.

Tentang Syiah sendiri, surat itu menyebutkan: ''Menurut kami, kelompok itu (Syiah) perlu diubah. Maksud saya, dengan menyerang mereka secara agama, politik, dan militer akan mendorong mereka menunjukkan orang-orang Sunni merupakan ulama mereka.''

Kemudian penulis menyatakan harapannya bisa memprovokasi kelompok Sunni untuk melakukan pembalasan. ''Jika kita berhasil menyeret kaum Syiah ke arena perang sektarian, hal itu memungkinkan untuk membangkitkan kelompok Sunni yang kurang diperhatikan, karena mereka merasa selalu dalam bahaya dan mati binasa di tangan Sabean (satu kelompok suku yang dianggap sebagai non-penganut).

''Meski lemah dan terpecah, kelompok Sunni merupakan belati sangat tajam, kaum yang paling gigih dan loyal ketika mereka bertemu orang-orang Batini (orang bida'ah), yaitu orang-orang yang berkhianat dan pengecut.''

Dr Mustafa Alani, seorang pakar tentang Irak di Royal United Services Institute di London, mengatakan: ''Mungkin ada dalangnya. Kami tidak berbicara tentang kelompok amatiran. Kandidat dalang serangan itu adalah kelompok yang terorganisasi dengan baik. Saya yakin Al Qaedah atau kelompok yang berasosiasi dengannya merupakan kandidat utamanya.''

Zarqawi memiliki latar belakang Yordania dan dia ingin pergi ke negara itu untuk menanyakan penembakan fatal terhadap diplomat AS pada 2002. Dia berperang di Afghanistan melawan pasukan Rusia dan kemudian terluka, dan kehilangan sebuah kakinya saat berjuang dengan Talib pada 2001.

Tak Semua Yakin

Menlu AS Colin Powell mengklaim bahwa Zarqawi diberi suaka oleh Saddam Hussein dan sejumlah pejabat AS mengaitkan dia dengan kelompok Islam di Irak yang disebut Ansar al-Islam. Kubu-kubu kelompok itu diserang pada tahap awal invasi.

Namun tidak semua orang yakin bahwa surat dan Zarqawi berperan dalam serangan tersebut. Dr Youssef Choueiri, pembaca sejarah Timur Tengah modern di Universitas Exeter, mengatakan banyak pihak ingin menyulut masalah.

''Surat Zarqawi diabaikan di banyak kalangan Arab,'' katanya. ''Namun jika surat itu bebnar dan jika ada rencana, hal itu sesuai dengan apa yang terjadi sekarang ini.

''Namun saya pribadi yakin bahwa serangan itu tidak ada kaitannya dengan Usamah maupun para pendukung setia Saddam. Ada perjuangan dalam masyarakat Syiah antara sayap-sayap sekular dan agama tentang seberapa besar tingkat ke-Islaman dalam konstitusi.''

Dr Choueiri menjelaskan perbedaan-perbedaan antara kelompok Syiah dan Sunni dalam hal politik dan doktrin. Perbedaan-perbedaan doktrin terjadi sejak berabad-abad lalu, namun perbedaan politik modern, menurutnya, dimanifestasikan dalam sikap-sikap terhadap pengaruh otoritas agama di sebuah negara.

''Kelompok Sunni mengatakan, para pemimpin agama sebaiknya melayani negara bukannya menguasai negara,'' katanya.

Bahaya yang mungkin terjadi saat ini adalah kelompok Syiah akan bereaksi seperti yang dilukiskan oleh penulis surat itu.

Namun sejauh ini penekanan Syiah adalah aksi politik, khususnya menekankan tuntutannya pada pemilihan lebih awal, saat jumlah mayoritasnya mungkin diperhitungkan.

Pemimpin spiritual mereka, Ayatollah Sistani, telah berhasil membujuk Otorita Koalisi mencabut rencananya untuk menunda pemilu sampai akhir tahun depan. Dan pemilihan tampaknya akan dilangsungkan pada akhir tahun ini atau awal tahun depan.

Serangan-serangan terhadap kaum Syiah itu terjadi sehari setelah kesepakatan dicapai tentang konstitusi sementara untuk dijadikan panduan pemerintah sementara yang akan mengambil-alih kedaulatan di Irak pada akhir Juni nanti.(bbcnews-niek-46)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA