logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 4 Maret 2004 Internasional  
Line

Ketegangan Memuncak di Haiti

AS Tolak Peran Pemberontak

WASHINGTON - Para pemberontak tidak akan mendapatkan peran dalam peralihan politik di Haiti. Sebagai gantinya, mereka harus menyerahkan senjata dan kembali ke rumah masing-masing, kata seorang juru bicara Deplu AS, Rabu.

Amerika Serikat saat ini membantu Kepolisian Haiti memulihkan ketertiban, setelah Jean-Bertrand Aristide digulingkan sebagai presiden dan kabur ke luar negeri.

Jubir Deplu AS Richard Boucher mengatakan, semua kelompok ilegal dan bersenjata di Haiti harus meletakkan senjata. ''Para pemberontak itu juga harus membubarkan diri dan kembali ke rumah mereka masing-masing,'' tambahnya.

Di Port-au-Prince, ibu kota Haiti, pemimpin pemberontak Guy Phillipe mengklaim dirinya sebagai panglima baru militer negara di kawasan Karibia tersebut.

Para pemberontak menyatakan diri mereka menguasai keamanan, dan menolak untuk melucuti senjata. Mereka bahkan bersumpah akan menangkap Perdana Menteri Yvon Neptune.

Sebaliknya, Marinir AS yang telah dikerahkan ke negara itu bertekad melindungi PM Neptune, sehingga ketegangan pun memuncak. Apalagi Guy Phillipe menyatakan kelompoknya telah menguasai militer dan polisi.

Duvalier Ingin Pulang

Sehari setelah Aristide melarikan diri dari negaranya, Jean-Claude Duvalier (mantan diktator terguling sebelumnya) menyatakan ingin kembali ke Haiti.

Berbicara dalam wawancara televisi, Selasa malam waktu Paris (Rabu pagi WIB), dia mengatakan ingin kembali ke tanah airnya selekas mungkin, walau bukan untuk mencalonkan diri menjadi presiden.

''Pencalonan diri menjadi presiden bukanlah agenda saya,'' kata bekas diktator berusia 52 tahun itu.

Duvalier, yang dikenal dengan julukannya ''Baby Doc'', mengaku sejak beberapa pekan lalu telah mengajukan aplikasi paspor diplomatik. Setelah terguling dan terusir dari Haiti pada 1986, dia menetap di Prancis.

Penggulingan dan pengusiran Duvalier ketika itu menandai berakhirnya kediktatoran brutal turun-temurun selama tiga dasa warsa di Haiti, mulai dari kediktatoran ayahnya, Francois ''Papa Doc'' Duvalier.

Uang negara yang disebut-sebut dikorupsi oleh keluarga Duvalier mencapai 500 juta dolar AS (sekitar Rp 4,5 triliun).

Rencana kepulangan Duvalier itu langsung ditentang oleh lembaga Human Rights Watch (HRW). Lembaga itu menegaskan, kepulangannya hanya akan mendatangkan bencana besar.

''Sebanyak 30.000 orang tidak berdosa tewas dibunuh, selama kekuasaan Duvalier dan ayahnya,'' kata Joanne Mariner, wakil direktur HRW Wilayah Amerika. ''Tidak ada pemimpin yang lebih buruk daripadanya di Haiti. Kami ingin melihatnya diadili,'' tambahnya.

Massa Sambut Phillipe

Gedung Putih juga memandang negatif rencana kepulangan Duvalier. ''Saya kira dia takkan membantu membawa Haiti ke kemakmuran dan demokrasi,'' kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional (NSC), Sean McCormack.

Duvalier sendiri menyatakan menyambut baik kehadiran Marinir AS di Haiti, untuk mengembalikan ketertiban dan keamanan. Dia juga menyatakan prihatin atas situasi di negerinya, dan berharap Haiti segera stabil kembali.

''Saya terguncang menyaksikan situasi di negara saya, terutama karena sebagian besar wikaah Haiti sekarang dikuasai pasukan pemberontak,'' katanya, dalam wawancara TV itu.

Massa menyambut kedatangan para pemberontak saat memasuki Port-au-Prince, ibu kota Haiti, sementara Marinir AS dan tentara Prancis memulai misi pemeliharaan perdamaian. Namun aksi penjarahan tetap terjadi.

Marinir AS berdiri berjaga-jaga di halaman Istana Nasional dan mengawasi pemimpin pemberontak Guy Phillipe memimpin iring-iringan pendukungnya yang bersenjata melewati gedung itu.

Ribuan massa melambai-lambaikan bendera Haiti dan bersorak-sorai saat Phillipe mengemudikan mobilnya melintasi pusat kota Port-au-Prince. Pemimpin pemberontak itu pergi ke kantor polisi di dekat Istana Putih, sementara massa menunggu di alun-alun.

Phillipe kemudian menuju marks Front Revolusi Nasional bagi Pembebasan Haiti, yang melancarkan aksi pemberontakan hampir sebulan lalu dan menguasai beberapa kota sebelum Aristide pergi kabur. (rtr-ed-ant-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA