
| Kamis, 4 Maret 2004 | Ekonomi |
Kopkar Jasawanta Beraset Rp 1 MiliarBisa Memesan Barang lewat E-MailMENGELOLA koperasi sama dengan mengelola perusahaan plus organisasi sosial. Artinya, meski memiliki misi sosial, tetap dibutuhkan perencanaan bisnis yang matang. Kreativitas dalam menangkap peluang dan keberanian menghadapi risiko dapat tergambarkan semua pada perencanaan itu. Melalui perencanaan usaha ide dan konsep bisnis bisa ''dijual'' untuk mendapatkan relasi yang tertarik pada usaha yang dimiliki koperasi bersangkutan. Itulah yang diterapkan manajemen Koperasi Karyawan (Kopkar) Jasawanta PT Kubota Indonesia, Semarang. Meskipun berbentuk koperasi, namun konsep bisnisnya tak berbeda dari perusahaan-perusahaan lain yang mengejar profit atau keuntungan. Berbagai masalah mulai laporan keuangan, pos-pos pengeluaran, hingga kegiatan usaha koperasi itu dilakukan secara profesional dengan pengawasan ketat dari sebuah tim. Laporan keuangan di kopkar itu dievaluasi setiap bulan. Sistem tertib administrasi itu tidak memungkinkan terjadi penyimpangan. ''Pengawasan di sini sangat ketat. Pengeluaran maupun pemasukan serupiah pun pasti masuk dalam laporan keuangan. Itulah yang menjadi kunci koperasi karyawan ini bisa berkembang,'' kata Drs Yunarso SE, Ketua Kopkar Jasawanta didampingi Manajer Agus Mubarok dan Andi Sutardi, tim pengawas. Bahkan, apabila ada investasi yang tidak menghasilkan keuntungan maka akan langsung dievaluasi. Kalau memang tidak menguntungkan maka tidak dilanjutkan. Tetapi sebaliknya, jika menghasilkan profit maka akan dikembangkan secara serius. Perkembangan usaha koperasi itu tergambar pada pertumbuhan asetnya. Pada awal berdiri nilai asetnya hanya sekitar Rp 100 juta. Namun lewat perencanaan usaha yang matang kopkar yang berdiri pada tahun 1984 itu kini asetnya telah berkembang menjadi Rp 1 miliar lebih. Bahkan, setiap tahun koperasi tersebut berani mematok pertumbuhan pendapatan sebesar 10%. Suatu angka yang termasuk cukup tinggi. Produk Pendukung Usaha yang dikelola bukan hanya pelayanan katering bagi karyawan dan penyediaan kebutuhan pokok, tetapi telah merambah ke produk pendukung PT Kubota yang memproduksi mesin. Yakni, pengolahan kayu yang memproduksi packing case dan bed engine di Temanggung. Seiring dengan order pemesanan yang tinggi kopkar itu menambah pabrik di Salatiga. ''Produk tersebut saat ini juga baru kami pasarkan kepada perusahaan-perusahaan lainnya,'' ungkap Yunarso. Pada tahun 2003 lalu hampir semua usaha yang dikelola meningkat signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Misalnya pendapatan usaha pengolahan kayu naik 77%, pertokoan meningkat 78%, katering naik 113%, simpan-pinjam meningkat 59%, jasa obat naik 7%, dan pendapatan komisi meningkat 253%. Koperasi yang memiliki 216 anggota itu ini menarik iuran wajib Rp 10.000 dan simpanan pokok Rp 150 ribu/anggota. Untuk menambah modal tahun lalu menerima pinjaman dari Bank Muamalat Rp 200 juta. Tambahan modal itu kemudian diputar, termasuk untuk simpan-pinjam. Koperasi tersebut memiliki produk deposito yang memberikan bunga di atas bunga perbankan pada saat ini. Untuk jangka waktu 3 bulan bunganya 12%, 6 bulan 13%, dan 1 tahun 15%. Menurut Agus Mubarok, meskipun memberikan bunga sebesar itu tetapi koperasi tidak khawatir mengalami kerugian. Sebab, dengan bunga pinjaman sebesar 1,5% per bulan masih bisa menutup bunga deposito. ''Toh, nanti keuntungannya akan dibagikan kepada para anggota koperasi juga,'' ujar Agus. Koperasi itu juga berani memberikan pinjaman hingga Rp 25 juta. Proses pencairannya pun mudah tanpa biaya administrasi. ''Untuk pinjaman kami bekerja sama dengan manajemen PT Kubota lewat cara potong gaji. Selain itu, diasuransikan sehingga jika ada kejadian yang tidak diinginkan, misalnya meninggal dunia, otomatis utang lunas,'' paparnya. Sebuah terobosan baru akan dilakukan koperasi tersebut. Rencananya, tahun ini direalisasi pembelian barang melalui e-mail. Anggota yang akan melakukan pemesanan tinggal mengirim e-mail dan karyawan koperasi akan mengirim langsung kepada anggota yang memesan. ''Terobosan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan pelayanan kepada anggota. Jadi, meskipun koperasi tetapi kami memiliki visi sebagaimana perusahaan lainnya,'' tambah Yunarso. Untuk meningkatkan kegiatan usaha, ke depan pihaknya akan melakukan ekspansi usaha dan diharapkan ketergantungan pada PT Kubota bisa dikurangi. Untuk itu produk-produk koperasi harus bisa diakses oleh masyarakat di luar anggota. Salah satu yang telah dilakukan adalah melakukan survei pasar agar harga yang ditawarkan mampu bersaing dengan harga pasaran di luar. ''Dengan cara demikian bisa menarik orang lain untuk memanfaatkan jasa serta barang di koperasi ini,'' tutur dia. Meski pertumbuhan keuntungannya cukup menggembirakan, namun pengelola koperasi tetap melakukan efisiensi di berbagai sektor. Misalnya tidak ada penambahan karyawan selama setahun terakhir walaupun kegiatan operasionalnya lebih banyak. Pengelola lebih mengedepankan upaya mengoptimalkan waktu, tenaga, dan pikiran karyawan yang saat ini berjumlah 18 orang. ''Motivasi kami sederhana saja. Kalau memang kita mau bekerja baik, maka hasilnya akan baik pula. Kita justru memberi tambahan tanggung jawab pekerjaan kepada karyawan yang ada. Namun, itu diimbangi oleh pemberian penghargaan berupa bonus dan jaminan pensiun di hari tua,'' ujar Yunarso. (Arie Widiarto-53) |