
| Kamis, 4 Maret 2004 | Jawa Tengah - Banyumas |
Narwan Semula Buruh, lalu Mbecak, Kini MajikanGIGIH, hemat, serta mau menerima saran dan kritik sebagai bekal untuk maju. Itulah prinsip Narwan (59), pengusaha nopia, salah satu makanan khas Banyumas. Dia memiliki 21 karyawan, terdiri atas 13 orang di bagian produksi, 4 di bagian pembungkusan, dan masing-masing 2 orang untuk urusan rumah tangga dan dapur. Setiap hari perusahaannya memproduksi 560 bungkus nopia ukuran besar (tiap bungkus berisi lima buah) dan 216 kg ukuran kecil. Harga nopia besar Rp 2.500/bungkus, sedangkan kecil Rp 3.000/3 ons. Dia memasok produknya ke toko-toko penjaja makanan khas di Kabupaten Banyumas dan sekitarnya, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bandung, dan Surabaya. Warga Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas itu telah menikmati hasil jerih payahnya. Rumahnya terhitung megah untuk ukuran setempat. Dia memiliki dua rumah khusus untuk membuat barang dagangan itu, juga mempunyai dua mobil, sawah, dan kebun. ''Riyin kula buruh pabrik nopia teng Purbalingga sekawan tahun. Lajeng tukang becak sewelas tahun. Usaha nopia mulai 1987 (Dulu saya buruh pabrik nopia di Purbalingga empat tahun. Lalu menjadi tukang becak sebelas tahun. Usaha nopia mulai 1987),'' kata pria yang gemar memakai blangkon itu. Nopia besar seukuran kepalan tangan anak-anak, sedangkan yang kecil sebesar bola bekel. Makanan itu terdiri dari dua bagian, yaitu kulit dan isi. Kulit dibuat dari tepung terigu, sedangkan isi tergantung pada rasa yang diinginkan. Pada awalnya isi nopia hanya gula merah. Sekarang dia membuat variasi produk. Ada rasa nanas, duren, susu, bawang merah, serta coklat. ''Tujuannya agar masyarakat tidak bosan,'' tuturnya. Dengar Suaranya Dalam pemasaran produknya, dia tidak pernah bertemu dengan para pembeli. Dia semata-mata mengandalkan kepercayaan. Kalau ada toko memesan lewat telepon, dia pun langsung mengirim barang. Begitu barang sampai tujuan, uang ditransfer lewat bank. Jadi dia mengenal pembeli hanya dari suara. Selama 17 tahun dia tak pernah tertipu. Kalau ada yang lupa mengirim uang, begitu diingatkan langsung mentransfer. ''Prinsip saya, selama saya tak pernah menipu orang maka tak akan ditipu. Jadi harus saling percaya.'' Pada mulanya suami Karsem (45) itu menjajakan sendiri dagangannya. Dari satu toko ke toko lain, dari satu kota ke kota lain. Lama-lama produknya dikenal orang. Pengusaha dari luar daerah yang kebetulan membeli produk Narwan, lalu mengetahui nomor telepon dan alamat produsen yang tertulis di plastik pembungkus. Dengan model pemasaran yang sederhana itu, nopia Narwan menyebar ke tiga provinsi di Jawa. Pembuatan makanan itu masih tradisional. Untuk membuat kulit, tepung terigu dicampur air lalu diaduk-aduk sampai menjadi adonan. Adonan itu dijadikan bulatan kecil-kecil sebesar ibu jari tangan. Bulatan dipipihkan dengan tangan, di tengahnya diisi gula yang sudah dihancurkan, lalu dibulatkan lagi. Bahan itu lalu dioven. Oven yang dipakai sangat tradisional. Perajin menyebutnya gentong. Bentuknya mirip mangkuk, diletakan di lantai dalam posisi terbalik, bagian atasnya berlubang. Benda itu terbuat dari tanah liat yang dibakar. Agar tak mudah pecah, gentong dilapisi tanah dan sekelilingnya ditutup anyaman bambu. Proses pemasakannya, kayu bakar dibakar di dalam gentong. Setelah apinya mati, abu dan bara dikeluarkan. Nopia mentah itu lalu ditempelkan ke dinding bagian dalam gentong yang panas itu. Sekitar 30 menit kemudian, nopia masak dan siap diambil. ''Saya menjaga kebersihan dan mutu produksi. Pekerja tak boleh telanjang dada saat bekerja walau udara panas, harus memakai baju atau kaus,'' kata Narwan. (Budi Hartono-20i) |