
| Kamis, 4 Maret 2004 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Keraton Yogyakarta Bangun SupermalPEMBUKAAN jalur penerbangan internasional di Bandara Adisucipto Yogyakarta harus dibarengi dengan penataan dan pengembangan di berbagai sektor, antara lain pariwisata dan ekonomi. Untuk menjawab tantangan tersebut, Keraton Yogyakarta bekerja sama dengan investor bakal membuat supermal. Konsep supermal tersebut berbeda dari mal-mal yang sudah ada. Menurut penuturan salah seorang adik Sultan Hamengku Buwono X, KGPH Hadiwinoto, tempat tersebut akan menampung semua potensi ekonomi kerakyatan di Yogyakarta, bukan sekadar toko serbaada. Bahkan, kelak akan menyerap tenaga kerja dari Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan. "Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari pembangunan itu antara lain potensi ekonomi rakyat, tenaga kerja, dan tentu saja pemasukan bagi keraton," ujar Hadiwinoto seraya menambahkan, lokasi pembangunan itu berada di sebelah barat Hotel Ambarukmo, Sleman. Dia mengakui, selama ini keraton kesulitan membiayai aset-asetnya yang tersebar di seluruh wilayah DIY. Memang ada bantuan dari pemerintah, tetapi tidak mencukupi untuk pembiayaan secara keseluruhan, termasuk membayar para abdi dalem. Karen menyadari kondisi demikian itu, pihak Keraton berupaya menggandeng investor dari dalam dan luar Yogyakarta. Hadiwinoto menambahkan, untuk membangun mal seluas 2 ha bukan masalah mudah. Karena itu, harus melibatkan sejumlah pihak. "Semua sudah dalam proses, dana untuk membiayai pembangunan mal itu sekitar Rp 150-200 miliar. Dana yang begitu besar tentu saja tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja. Ada pihak ketiga yang sudah menyatakan kesanggupannya untuk membantu," papar Hadiwinoto. Tidak Menggusur Pembangunan di mana pun, imbuhnya, tentu saja membawa konsekuensi. Begitu pula yang terjadi pada rencana pembangunan supermal. Di lokasi sultan ground yang bakal didirikan bangunan itu ada SD Negeri Ambarukmo. Namun pihak Keraton sudah memikirkan alternatif, yakni memberikan bangunan pengganti di lokasi yang tak jauh dari lokasi semula. "Kami sudah menyampaikan hal itu kepada Pemkab Sleman dan Keraton siap membangunkan di lokasi baru yang tidak jauh dari sana. Tidak ada niat sama sekali mengganggu proses pembelajaran," ujar dia. Sebaliknya, Keraton menginginkan para siswa dan guru tetap dapat melanjutkan proses pembelajaran tanpa terganggu rencana pembangunan. Investor dan Keraton bersama Pemkab Sleman sudah mencari jalan keluar. Dalam waktu dekat dia berharap ada solusi terbaik untuk memindahkan SD tersebut. Penegasan yang sama disampaikan oleh salah seorang investor. Direktur Utama PT Putra Mataram Sejahtera, Eddy Susanto mengatakan, berbagai pihak terkait sudah memikirkan dampak yang muncul akibat pembangunan. Yang jelas, tidak ada niat menggusur dan menghilangkan SD. "Semua risiko sudah kami pikirkan dan kami siap membangunkan SD di lokasi baru sebagai pengganti bangunan lama. Kami berharap para guru dan murid tidak perlu resah," tandasnya. Bagaimana sikap Pemkab Sleman atas rencana pembangunan itu? Bupati Sleman Ibnu Subiyanto menyatakan sudah berbicara dengan investor. Pada prinsipnya tidak ada persoalan karena pihak investor berjanji akan membangunkan gedung baru di sekitar lokasi lama. (Agung PW-80n) |