
| Rabu, 3 Maret 2004 | Tajuk Rencana |
Kesadaran Hanya Dijadikan "Kernet"- Siapa calon wakil presiden (cawapres) yang saat ini paling diburu? Walaupun baru berputar-putar pada tataran wacana, tampaknya figur dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU)-lah yang dijadikan fokus incaran. Pertimbangannya mudah dibaca, yakni dengan menggandeng tokoh NU ada harapan untuk sebanyak mungkin meraih simpati warga nahdliyyin, lalu mereka akan memberikan suara dalam pemilihan presiden mendatang. Silaturahmi Taufik Kiemas yang disusul kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri ke Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, beberapa waktu lalu, menggambarkan bagian dari strategi itu. KH Hasyim Muzadi, pimpinan pesantren tersebut yang juga Ketua Umum PBNU adalah figur utama yang masuk kategori "diincar".
- Berbagai komentar bermunculan dan seperti bola salju, silaturahmi itu menjadi manuver yang saling bersahut. Tanggapan tidak hanya muncul dari capres lain seperti Akbar Tandjung yang mengaku telah mengadakan pertemuan dengan Mega sebelum dia diputus bebas oleh majelis kasasi Mahkamah Agung. Disebut-sebut koalisi Megawati - Akbar merupakan duet yang setara dengan pasangan Mega - Hasyim Muzadi, tentu disertai plus-minus bagi bangsa ini ke depan. Kalangan PKB yang mempunyai kedekatan emosional dan historis dengan PBNU juga bereaksi, antara lain menyatakan pencalonan Hasyim harus melalui PKB. Bandingan-bandingan yang dibuat dan reaksi terhadap peluang Cak Hasyim, pada hakikatnya menggambarkan betapa penting posisi dia sekarang.
- Yang menarik, justru sikap Hasyim Muzadi. Dalam silaturahmi dengan warga Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Auditorium RRI Semarang, Senin malam lalu, dia menilai, harapan orang yang ingin menggandeng NU adalah mencari penumpang sebanyak-banyaknya untuk masuk dalam sebuah kendaraan. Setelah NU melakukan gerakan ukhuwah nahdliyah, wathoniyah, tasyawiyah, dan ukhuwah basyariyah, justru diketahui sekarang ini tampaknya mereka menggandeng NU hanya untuk dijadikan kernet, bukan sopir. Sekarang banyak yang memiliki penumpang, tetapi tidak punya kendaraan. Akibatnya, muncul dukungan lewat makelar-makelar politik. Pernyataan Hasyim ini menggambarkan fakta-fakta unik yang selama ini dihadapi NU. - Ulama asal Rembang KH Cholil Bisri pernah mengibaratkan NU sebagai tukang dorong mobil mogok. Begitu mesin sudah hidup, melajulah mobil itu tanpa membawa serta mereka yang telah mendorongnya. Tamsil serupa disampaikan pula oleh Drs H Achmad, mantan Ketua PWNU Jawa Tengah. Menurutnya, NU itu seperti laos (lengkuas) yang dibutuhkan hanya untuk mempersedap masakan karena lengkuas tidak pernah ikut disantap, bahkan dipinggirkan di tepian piring. Seekstrem itukah tamsil-tamsil bagi peran strategis NU: dari kernet, tukang dorong mobil, hingga eksistensi lengkuas? Dilematika yang dihadapi warga nahdliyyin sebenarnya adalah dinamika biasa dalam politik, kalau kita kembali ke adagium klasik bahwa "politik merupakan seni untuk memanfaatkan peluang".
- Peran-peran strategis seperti yang dilakukan Abdurrahman Wahid semasa menakhodai NU sempat mampu menempatkan ormas keagamaan terbesar di Tanah Air ini pada posisi tawar luar biasa. Dengan sifat kultural yang lentur tetapi efektif, NU berada di depan dalam wacana, pengembangan, dan contoh-contoh implementatif civil society. Prinsip-prinsip khitah yang di satu sisi terasa "oportunistik" terkadang memang dirasakan sebagai kekuatan luar biasa karena NU secara organisatoris tidak memilih sikap yang secara nyata dan langsung berpihak kepada satu kekuatan politik. Langkah-langkah KH Hasyim Muzadi juga terasa efektif, walaupun tentu menimbulkan tafsir berbeda bagi parpol yang merasa memiliki kedekatan sangat khusus dengan NU.
- Sikap strategis dalam pembangunan ke-ukhuwah-an yang belakangan sangat gigih digalang oleh Hasyim Muzadi sangat penting sebagai ungkapan kekuatan NU di tengah konstelasi politik nasional sekarang. Maka ketika wacana tentang parpol-parpol dan para calon presiden yang berusaha mengincar Cak Hasyim terasa makin memfokus, dia secara tepat menyampaikan warning mengenai peran yang sebatas "kernet" itu. Pertanyaannya, setimpalkah peran yang akan diperoleh seandainya dia benar-benar "mencebur" ke kubangan politik? Tentu lain perhitungannya jika apa yang akan dikontribusikan nanti memang didasarkan pada komitmen perjalanan bangsa ke depan. Dalam jangka pendek, tentu untuk membendung calon yang memiliki cacat publik. |