logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 Maret 2004 Sala  
Line

Sukses di Rantau, Bangun Masjid di Kampung

SUKSES di perantauan tak harus membuat lupa pada kampung halaman. Demikian yang dilakukan HM Suparman, yang membangun masjid bernilai Rp 400 juta di kampung asalnya Dusun Watuploso, Desa Domas, Kecamatan Bulukerto, sekitar 60 kilometer arah timur laut Kota Wonogiri.

Masjid yang dibangun oleh putra keempat keluarga H Abdullah Martorejo ini berukuran 17x17 meter. Didirikan di atas lahan seluas 1.000 m2, yang sekaligus dia hibahkan ke pemerintahan Desa Domas, demi kepentingan ibadah umat Islam setempat. Masjid tersebut dilengkapi fasilitas kamar mandi, WC, tempat wudlu, mimbar kayu dan sound system guna mengumandangkan suara muadzin menyerukan adzan.

Masjid tersebut diberi nama Baiturrohman, dan diresmikan Bupati Wonogiri H Begug Poernomosidi SH, Senin (1/3) lalu. Masjid tersebut menjadi terbesar di wilayah Kecamatan Bulukerto.

Bupati menyatakan sangat haru dengan kepedulian perantau HM Suparman. Meskipun dia telah lama meninggalkan tanah kelahirannya dan berada nan jauh di sana, tapi ternyata tetap peduli pada kampung asalnya.

''Kepedulian sebagaimana yang dilakukan HM Suparman ini luar biasa, dan patut diteladani oleh para perantau lainnya,'' kata Bupati.

Punya Perkebunan

HM Suparman mengaku, sejak 13 Desember 1956 meninggalkan Wonogiri. Dia merantau mengadu nasib ke Riau, Sumatera. ''Dia termasuk perantau ulet, yang akhirnya menuai sukses sebagaimana yang sekarang dialaminya,'' puji dr Madiyanto dari RS Marga Husada Wonogiri.

Dia mengaku kenal dekat dengan HM Suparman, karena semasa berdinas di Puskesmas Riau selama tiga tahun, tempat tinggalnya berdekatan dengan rumah HM Suparman. Karena itu, ketika ada upacara peresmian Masjid Baiturrohman, Madiyanto juga diundang secara khusus. ''Saya paham betul keuletan dia, sejak berjuang dari nol sampai mencapai sukses,'' kata Madiyanto lagi.

Di perantauan, HM Suparman sukes dengan kebun kelapa sawit yang kemudian sekaligus punya pabrik pengolahannya. Dia menikah dengan Hj Karni dan dikaruniai enam anak yang sebagian telah memberinya dua cucu.

Hampir separuh hidupnya dia habiskan bersama keluarganya di Rejosari, Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Provinsi Riau. Di Inhu dia pernah dipercaya menjadi anggota DPRD.

Tapi dia merasa lembaga legislatif itu bukan dunianya. Dunia bisnis lebih mengasyikkan dan menuntunnya menjadi orang kaya, dan menjabat sebagai Direktur Parumartha Permai, yang bergerak di bidang kontraktor.

Usaha tersebut sejak tiga tahun belakangan juga dikembangkannya ke Jakarta. ''Kalau saya membangun masjid, ini semata-mata karena dilandasi iman dan demi menjalankan amanah yang diberikan atas bimbingan orang tua,'' katanya.

HM Suparman menyatakan, tanah tempat masjid tersebut dibangun dulunya merupakan tempat tinggal kakeknya, Soikromo. Semasa hidupnya, sang kakek begitu sayang kepada Suparman.

Gagasan membangun masjid, katanya, muncul tatkala dia mudik dan menjalankan salat Idul Adha di lapangan Desa Domas. Dia waktu itu trenyuh melihat umat Islam setempat ternyata belum memiliki tempat ibadah yang representatif.

Ketua panitia pembangunan Masjid Baiturrohman, Soentoro menyatakan, untuk merealisasikan gagasan itu, lebih dulu diawali dengan kesepakatan dari delapan bersaudara HM Suparman. Kemudian ditindaklanjuti dengan pekerjaan pemerataan tanah yang dimulai 7 Juli 2003.

Saat upacara peresmian masjid, Suparman menyertakan sebait pantun sebelum menutup laporannya. ''Bunyi bedug di sore hari, menandakan datangnya malam. Masjid diresmikan Bupati Wonogiri, diberi nama Baiturrohman,'' kata dia. (Bambang Pur-49)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA