
| Rabu, 3 Maret 2004 | Sala |
Kali Pertama Gajah Jurug Melahirkan
JEBRES- Kabar gembira datang dari Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ). Jumlah satwa di kebun binatang itu bertambah satu dengan kelahiran seekor anak gajah, pagi kemarin. Dian, salah satu di antara empat gajah yang ada, melahirkan anak. Proses kelahiran yang sempat tidak diketahui petugas tersebut merupakan kali pertama semenjak Kota Solo memiliki kebun binatang. Bayi gajah yang beratnya diperkirakan 80 kg itu dalam kondisi sehat meski tak bisa menyusui induknya, lantaran tubuhnya terlalu mungil dan tak bisa mencapai perut induknya. "Ini memang yang pertama anak gajah lahir di kebun binatang di Solo, baik ketika masih berada di Sriwedari maupun di Jurug. Apalagi gajah merupakan hewan yang jadi maskot kebun binatang ini, sehingga kelahirannya cukup menggembirakan," kata Kepala Pengelola TSTJ Ir Hj Mirna Susilo kepada wartawan, seusai acara selamatan menyambut penghuni baru tersebut. Dengan kelahiran anak gajah itu, katanya, untuk sementara pihaknya membatasi pengunjung yang melihat kandang gajah. Bahkan jika perlu, kandang itu akan ditutup dari pengunjung. Pasalnya, dikhawatirkan dengan banyaknya pengunjung ataupun suasana ramai di sekitar kandang, bakal membuat induk gajah stres dan tak mau menyusui dan memelihara anaknya dengan leluasa. Jika itu terjadi, anak gajah bisa mati. Bayi gajah yang lahir dari Dian dan Jati (gajah jantan) dari Way Kambas tersebut, oleh Wali Kota Surakarta Slamet Suryanto diberi nama Anggoro, karena lahir di hari Selasa (Anggoro dalam bahasa Jawa). Selain Dian, masih seekor gajah lagi yang dalam kondisi bunting, dan diperkirakan anaknya lahir dalam dua bulan mendatang. Cepat Proses kelahiran gajah tersebut tergolong cepat. Sebab malam sebelumnya, tidak terlihat hewan itu akan melahirkan. Hanya saat tengah malam, hewan berukuran besar tersebut berteriak-teriak lama. Ketika pagi hari, sang pawang datang dan mendapati seekor bayi gajah tergeletak di kandang. "Biasanya kalau malam memang suka ribut berteriak tetapi tidak lama. Kalau kemarin cukup lama bahkan sampai didengar warga sekitar. Kami tak menduga Dian akan melahirkan," ujar dia. Awal buntingnya hewan yang sering dilibatkan dalam berbagai kirab tersebut, tidak diketahui sang pawang. Beberapa kali dilakukan tes urine, hasilnya negatif. Bentuk perutnya juga tidak berbeda dari yang tidak bunting. Baru setelah dua per tiga proses kehamilan, baru diketahui. Menyadari binatang itu hamil, pengelola segera meningkatkan kualitas pakan agar kehamilannya sehat. Mengenai pemeliharaan anakan gajah, Mirna mengatakan, tidak ada kesulitan karena sudah ada pawang dari Way Kambas yang cukup dekat dengan piaraan tersebut. (G18-80s) |