
| Rabu, 3 Maret 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Mendaki Gunung Prau, Tersesat hingga Dieng
SUKOREJO- Tiga mahasiswa Unika Soegijapranoto Semarang dan dua penduduk Dusun Sumenet, Desa Bringinsari, Kecamatan Sukorejo, Kendal, Minggu (29/2) lalu dilaporkan hilang dan tersesat di kawasan hutan Gunung Prau, Minggu (29/2). Mereka ditemukan dua pencari rumput di kawasan hutan Pegunungan Dieng Wonosobo dalam keadaan selamat. Setelah satu malam menginap di rumah ''penemu'', kelima pendaki itu tiba di Mapolsek Sukorejo, Selasa (2/3) sekitar pukul 13.30. Mereka ditemukan Senin (1/3) sekitar pukul 09.30. Ketiga mahasiswa itu Bayu Hardi Susanto (23) dari Fakultas Teknik Sipil, Heri Kristanto (25) dari Fakultas Hukum, serta Anita Candrawati (22) Fakultas Ekonomi. Mereka berada di Desa Bringinsari sejak 5 Februari untuk kuliah kerja nyata (KKN). Adapun dua warga Sumenet yang tersesat adalah Paat (20) dan Khusnul (14). Mereka menjadi pemandu jalan dalam pendakian. Mereka berniat mendaki puncak Gunung Prau, Minggu (29/2) sekitar pukul 08.00. Tujuan pendakian untuk menebar benih pohon mahoni, suren, dan randu di kawasan hutan di puncak Gunung Prau yang gundul akibat penebangan liar. Mereka memulai pendakian lewat Dusun Balong, Desa Bringinsari. Penghijauan itu merupakan gagasan Argapala, kelompok peduli lingkungan hidup Desa Bringinsari. ''Semula kami berangkat untuk mendaki gunung bersama 50 orang lain. Mereka terdiri atas mahasiswa Unika yang KKN di Sukorejo, warga Desa Bringinsari, dan anggota Argapala. Namun entah mengapa saat berada di kawasan hutan kami terpencar-pencar,'' kata Anita Candrawati di Mapolsek Sukorejo, kemarin. Pingsan Dia menuturkan meski terpencar kelompoknya yang beranggota lima orang melanjutkan perjalanan ke puncak gunung. " Namun tiba di puncak kami tak menemukan seorang pun. Saat itu pukul 14.00 (Minggu, 29 Februari 2004). Akhirnya kami memutuskan kembali turun gunung,'' ujar dia. Di tengah perjalanan, kata dia, kelompoknya kehilangan arah. ''Kami bermaksud turun gunung menuju Desa Gentinggunung, Sukorejo. Namun di tengah perjalanan kami bingung saat menemukan jalan bercabang dua,'' katanya. Tiba di puncak cuaca berkabut tebal dan gerimis. Mereka tidak membawa perbekalan memadai seperti senter dan tenda. ''Di perjalanan saya pingsan. Semua baterai telepon genggam yang kami bawa drop sejak pukul 14.00. Akhirnya kami pasrah dan tidur di hutan. Keesokan harinya kami baru tahu telah tertidur di lereng. Di kanan-kiri jurang berkedalaman ratusan meter, persis di samping dua air terjun,'' katanya. Keesokan harinya, ujar dia, perjalanan mereka lanjutkan ke arah berbeda dari saat berangkat. ''Kami berangkat dari puncak sekitar pukul 06.30 (Senin). Tiga jam menyusuri jalan setapak dan lereng gunung akhirnya kami bertemu dua orang yang mencari rumput. Belakangan kami baru tahu telah berada di wilayah Dieng,'' tutur dia.(G15-63g) |