
| Rabu, 3 Maret 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Menelusuri Kasus Penjualan Gadis (1)''Saya Minta Pulang, Nggak Boleh''SEANDAINYA waktu bisa diputar ulang, tentu Mae memilih tidak mendatangi tetangganya, Lagiono, untuk meminta pekerjaan darinya. Sebab, siapa sangka, lelaki yang diharapkan bisa membuka pintu keberuntungan baginya justru mendatangkan aib dan bencana. Bermula dari pria itulah, Mae kehilangan kehormatannya. Anak kedua pasangan Ocit dan Mujiyah (Mae punya saudara kembar) itu sebenarnya ingin membantu orang tuanya. Ayahnya bekerja sebagai karyawan gudang kedelai dan ibunya sebagai pembantu rumah tangga. Sejak lulus SMP dua tahun lalu, dia menganggur. Sebetulnya Mae ingin melanjutkan sekolah, tetapi orang tuanya tak punya cukup uang untuk membiayai sekolahnya. Lalu, bagaimana remaja yang baru mulai beranjak dewasa itu bisa menurut begitu saja saat diajak pergi tersangka? Mae mengaku sama sekali tidak menduga akan dijual. Setahu dia, Lagiono sungguh-sungguh mengajaknya pergi mencarikan pekerjaan yang baik-baik. Pada kenyataan, dia justru diajak dan dititipkan di rumah anak tiri Lagiono, Ayu (27) yang bekerja di sebuah panti pijat di kawasan Bandungan.
Di tempat itulah malapetaka bermula. Mae memang tidak langsung disuruh melayani pria hidung belang. Dia diminta tinggal dan menjaga rumah kontrakan Ayu, yang tinggal bersama suaminya. Dia hanya makan dan tidur tanpa aktivitas lain. Namun, tanpa setahu Mae hari-hari itu digunakan Ayu untuk mencari orang yang mau membeli keperawanannya. Seminggu kemudian, dengan alasan akan dicarikan pekerjaan, Mae diajak ke Yogyakarta. Rombongan satu mobil itu berisi tujuh orang. Selain Ayu dan Mae, juga ada suami Ayu berikut seorang temannya, Lagiono dan dua rekannya. Polisi menduga mereka telah berkomplot untuk menjual Mae. Tak Sadar Sesampai di Yogyakarta, korban diserahkan kepada seorang wanita bernama Tutik, yang diduga germo di sebuah hotel. Mae lupa nama hotel itu, tetapi seingat dia, lokasinya di kawasan Jombor. Hanya istirahat sebentar, dia kemudian diantar Ayu masuk ke sebuah kamar. Di dalamnya sudah menunggu seorang lelaki paro baya berperawakan pendek-gemuk. Mae mengaku tak sadar saat dicabuli. Diduga hal itu akibat pengaruh minuman ringan yang sudah dicampuri obat penenang. Sewaktu dia bangun, pria itu sudah tidak ada. Di meja tergeletak tumpukan uang berjumlah Rp 3 juta. Saat itu, tutur Mae, dia merasakan sakit di alat vitalnya dan di seprai kasur ada bercak darah. Setelah kejadian itu, Mae disekap selama hampir seminggu. Meski mengaku diperlakukan baik-baik, dia merasa terkekang karena sama sekali tidak diperbolehkan keluar kamar. Kebebasannya benar-benar dirampas. ''Saya ingin sekali pulang, tetapi Mbak Ayu bilang nggak boleh,'' ujarnya. Mae baru bisa menghubungi keluarganya beberapa hari kemudian, itu pun dilakukannya secara diam-diam sekitar pukul 22.00. Dia memanfaatkan kelengahan Ayu dan penjaga hotel. Namun, dia kepergok oleh seorang teman Ayu yang kemudian membawanya masuk kembali ke dalam kamar. Keesokan harinya Mae diajak ke Bandungan. Di tempat itu, selama seminggu dia kembali dipaksa melayani sejumlah lelaki hidung belang dengan bayaran Rp 100.000 sekali kencan. (P Heru Subono-45k) |