logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 Maret 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Kapal Besar Tak Bisa Masuk Dermaga Tegal

  • Menunggu Air Pasang

TEGAL - Belakangan ini belasan kapal sulit masuk ke dermaga Pelabuhan Kota Tegal untuk membongkar muatan. Bahkan sedikitnya empat kapal kandas.

Agar bisa masuk ke pelabuhan, muatan kapal dikurangi. Muatan dipindah ke kapal lain yang lebih kecil. Padahal, alur pelabuhan itu baru dikeruk Desember 2003 dengan biaya Rp 1 miliar.

Empat kapal layar motor (KLM) yang kandas terakhir 26 Januari adalah KLM Sinar Rahmat Hidayatullah, KLM Jabal Rahman, KLM Cahaya Utama, dan KLM Berkat Illahi. Pemilik kapal dan nakhoda keempat kapal itu sudah melapor ke Kantor Administratur Pelabuhan Tegal.

Adpel Tegal Bambang Marsono SH didampingi Perwira Operasi Kesatuan Pengamanan Laut dan Pantai (KPLP) Wakhidin, kemarin, mengakui menerima laporan empat kapal yang kandas itu. Mereka lapor, kata Bambang, karena kantornya mengurus soal keselamatan dan kelancaran pelayaran.

Wakhidin memperkirakan kapal yang kesulitan masuk di alur yang baru dikeruk bisa belasan. Namun yang resmi melapor empat buah.

Beberapa hari terakhir ini KPLP tidak menerima laporan kapal kandas karena kemungkinan saat ini kapal menghindari risiko dengan mengurangi muatan. Apalagi muatan kayu saat ini sulit diperoleh karena di Kalimantan saat ini ada operasi.

Dia tak bisa menyebutkan secara pasti kenapa alur baru saja dikeruk namun kapal sulit masuk. Sebab, dia tidak dilibatkan secara aktif dalam pengerukan. Padahal, dalam pengerukan sebelumnya Adpel sebagai unsur pemerintahan pun tidak dilibatkan. Draf kapal yang kandas itu dari 3 m sampai 4 m.

Dia khawatir dampak negatif kapal sulit masuk, yakni kapal lain yang akan masuk membongkar muatan di pelabuhan lain.

Tidak Kandas

Kepala PT Pelindo Cabang Tegal, Drs Sadiyanto, didampingi Kepala Dinas Teknik Suparno dan Kedin Usaha Sutomo, kemarin, mengakui tak menerima laporan ada kapal kandas. Dia baru saja menanyakan hal itu ke beberapa perusahaan pelayaran dan Ketua DPC Pelra.

''Kapal tertahan masuk di alur karena menunggu air pasang, bukan kandas,'' ujar Sadiyanto. Pengerukan yang baru saja selesai, kata dia, sesuai dengan desain target pengerukan alur hanya 3 m. Karena itu kapal yang berdraf lebih dari 3 m sulit masuk. Mereka bisa masuk jika air laut pasang atau mengurangi muatan.

Pengerukan hanya dipertahankan sedalam 3 m. Jika lebih bangunan break water di tepi kanan-kiri alur akan merosot karena bangunan itu sudah tua.

Pengerukan dikerjakan PT Karya Nasional yang mengeruk 100.000 m3 lumpur. Pekerjaan itu tak menyimpang karena sebelum dikeruk, staf direksi PT Pelindo III Surabaya mengukur kedalaman. Begitu pula setelah pengerukan. Biaya pengerukan Rp 1 miliar ditetapkan direksi, sedangkan kantor cabang hanya mengawasi.

Tingkat sedimentasi Pelabuhan Tegal tinggi. Yakni, rata-rata setahun 10 cm. Soal tak melibatkan unsur pemerintah dalam pengerukan, Suparno menyatakan sesuai dengan PP Nomor 16 Tahun 2001 memang tidak perlu. Dia tak khawatir ada pihak melaporkan soal kapal kandas ke Menteri Perhubungan. (aj-14g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA