logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 Maret 2004 Jawa Tengah - Muria  
Line

Mengubah Tanah Liat Menjadi Barang Seni

Apa yang bisa diharapkan dari hasil usaha masyarakat pedesaan, terutama yang hidup di daerah terpencil? Hampir setiap kesempatan, Direktur Produksi PT SAF Agus Pujianto yang bergerak di bidang usaha penambangan batu kalsit di daerah pegunungan Sale, Rembang, menyatakan prihatinan atas kehidupan masyarakat pedesaan.

Mengapa prihatin? Agus yang dikenal punya kepedulian terhadap orang "kecil" itu memberikan alasan yang cukup masuk akal. Misalnya, warga yang hidup di daerah pedesaan umumnya sangat terbelakang, baik menyangkut soal pendidikan maupun ekonomi.

Karena itu, Agus mengambil seorang seniman berbakat yang sudah lama bekerja di Bali untuk dijadikan sebagai karyawan dengan gaji yang lumayan tinggi. Dia adalah Antok Restu (47) yang punya keahlian membuat patung, lukisan, taman, dan benda-benda seni lain.

Setelah bergabung dengan PT SAF, Antok ditugaskan untuk membina warga di sekitar lokasi penambangan. Mereka diajari membuat barang-barang seni dari bahan tanah liat. Hasilnya cukup menakjubkan, karena sebagian besar warga yang dibina mampu menyerap ilmu yang diajarkan oleh Antok. Mereka bisa membuat patung manusia, patung hewan, atau benda-benda pajangan ruang tamu yang berbentuk abstrak.

Direktur Produkdi PT SAF itu mengakui untuk memberikan peluang kerja kepada masyarakat tidak semudah yang dibayangkan. Terbukti, setelah warga bisa membuat barang-barang seni dari tanah liat, mereka kesulitan memasarkan.

Karena itu, pada 2004 Agus mengirim delapan orang ke Klaten. Mereka akan menetap di Klaten tiga bulan guna mempelajari cara pemasaran barang-barang asongan, khususnya yang terbuat dari tanah liat dan memiliki nilai seni.

Selain itu, PT SAF akan mendatangkan beberapa pengusaha barang-barang asongan dari Klaten. Mereka diminta untuk tetap tinggal di daerah Rembang guna membantu para warga hasil didikan PT SAF, khususnya menyangkut soal pemasaran hasil karya mereka.

Mengapa PT SAF harus repot-repot memberikan keterampilan warga? Agus mengemukakan, semua itu dilakukan untuk memberikan peluang kerja kepada warga yang tinggal di sekitar lokasi perusahaannya.

"Terus terang selama ini hidup mereka hanya menggantungkan pada PT SAF. Padahal yang namanya perusahaan pasti mengalami pasang surut, semua bergantung pada pasar," kata Agus.

Karena itu dia mulai berpikir ke depan, yakni dengan cara memberikan bekal keterampilan kepada warga di sekitar lokasi perusahaannya. Mereka dididik agar mampu menciptakan peluang kerja, dengan cara memanfaatkan potensi di desa.

Dia mengakui, semua langkah yang dilakukan itu belum menghasilkan keuntungan buat warga yang dibinanya. Sebab mereka baru pada tahap belajar, sehingga masih butuh tambahan pengalaman. Khususnya dalam membuat benda-benda seni yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Yang pasti, menurut Agus, langkah itu mendapatkan dukungan dari Bupati H Hendarsono. Bahkan Bupati punya rencana untuk membuatkan kios-kios suvenir di jalur pantura, tepatnya di wilayah Sluke. Tujuannya untuk membantu warga binaan PT SAF, khususnya menyangkut soal tempat penjualan barang-barang seni tersebut.

Perlu diketahui, pada 1995 PT SAF membuka penambangan batu kalsit di wilayah pegunungan Sale. Luas lahan yang dikontrak 100 ha, tetapi yang dimanfaatkan untuk areal penambangan baru 25%. Modal yang ditanamkan untuk keperluan itu kurang lebih sudah Rp 40 miliar.

Sekarang ini PT SAF mampu menambang batu kalsit 1000 ton/hari. Produksinya dijual kepada perusahaan-perusahaan besar yang ada di Pulau Jawa.

Masyarakat diuntungkan, karena mereka ikut dilibatkan dalam kegiatan penambangan. (Djamal A Garhan-34s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA