logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 Maret 2004 Jawa Tengah - Muria  
Line

Prosesi Buka Luwur Khidmat

  • Hanya Baca Alquran, Tahlil, dan Doa

KUDUS- Prosesi penggantian luwur di Makam Sunan Kudus Jakfar Sodiq yang terkenal dengan "tradisi buka luwur", Selasa kemarin berjalan khidmat di Pendapa Tajug, sekitar 100 meter dari makam salah satu "Wali Songo" tersebut. Suasana khidmat itu seolah menepis suara gaduh dari ribuan peziarah yang berdesakan tidak sabar antre ingin mendapatkan nasi bungkus daun jati yang dibagikan di dua tempat. Bahkan seorang peziarah, Siti Asyuni dari Blora sempat pingsan saat berdesakan antre, dan ditolong tim medis yang disediakan panitia.

"Tak ada pidato baik dari pengurus maupun pejabat yang hadir. Tradisinya memang demikian," ucap Ketua Pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Drs H Em Nadjib Hasan.

Mengawali prosesi pemasangan luwur baru ditandai dengan alunan kalam Ilahi (Alquran), dilanjutkan pembacaan tahlil, dan doa yang dipimpin oleh ulama karismatis KH Sya'roni Ahmadi.

Penuh

Banyaknya peziarah yang datang di Makam Sunan Kudus berlangsung sejak Senin malam. Tidak hanya dari Kudus, tetapi dari luar daerah juga banyak sekali. Hal itu menunjukkan bahwa karisma Sunan Kudus luar biasa. Salah satu tokoh Wali Songo tersebut sangat terkenal dengan ajaran toleransi kepada sesama.

Maka agar tidak menyakiti pemeluk Hindu, Sunan Kudus menganjurkan umat Islam di Kudus tidak boleh menyembelih sapi.

Dengan demikian daging kerbau menjadi menu utama, dan bukan daging sapi yang dikomsumsi sampai sekarang. Adapun bumbu untuk selamatan dikenal dengan masakan "jangkrik goreng" dengan daging kerbau atau kambing sumbangan masyarakat.

Dalam acara prosesi buka luwur kemarin, halaman Pendapa Tajug yang tidak luas terasa penuh dengan banyaknya undangan yang hadir. Orang teras tingkat Pemkab Kudus mewakilkan hadir dalam acara tersebut.

Sementara hampir semua tokoh masyarakat adalah ulama sepuh seperti KH Ahmad Basyir, KH Sya'roni Ahmad, KH Choiruzad putra almarhum ahli falaq KH Turaichan Adjhuri, dan KH Makruf Irsyad. Juga hadir tokoh lain seperti KH dr Zaenuri Kosim, dr H Sukasno, Drs H Djuffan Ahmad yang Sekjen GAPPRI, dan Ketua MUI Kudus KH Syafik Nashan.

Seusai pembacaan tahlil dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama-sama dipandu oleh KH Sya'roni Ahmadi dengan bacaan doa Khasbunallahu wanikmal wakiil nikmalmaula wanikmannasir 70 kali.

Prosesi dilanjutkan dengan pemasangan luwur baru yang sudah disiapkan di Pendapa Tajug. Luwur kemudian dibawa ke Makam Sunan Kudus Jakfar Sodiq oleh KH Choiruzad didampingi Nadjib Hasan. Oleh petugas luwur kemudian dengan hati-hati dipasang sampai sempurna. Setelah itu pembacaan tahlil dipimpin oleh Choirozad dan diikuti para hadirin. Karena sempitnya "cungkup" Makam Sunan Kudus, hanya beberapa ulama sepuh yang bisa masuk dan dekat dengan batu nisan. Sementara undangan lain duduk bersimpuh mengelilingi di luar cungkup yng cukup luas.

Untuk perhelatan akbar semacam prosesi buka luwur tersebut, oleh panitia disediakan 22.000 nasi bungkus untuk dibagikan kepada masyarakat. Sementara untuk tokoh masyarakat dan undangan disediakan sekitar 2.000 keranjang.

"Uba rampe" selamatan itu semua berasal dari masyarakat. Termasuk enam ekor kerbau dan 54 ekor kambing. Seusai buka luwur di Makam Sunan Kudus biasanya diikuti buka luwur di makam lain, seperti di Makam Sunan Muria dan makam-makam lain yang bertebaran di Pemkab Kudus. (P7-34s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA