
| Rabu, 3 Maret 2004 | Jawa Tengah - Muria |
Warung SarnoHabiskan Dua Kuintal Daging BiawakSEORANG lelaki setengah baya tampak sibuk mencengkeram biawak seukuran paha orang dewasa. Sesekali pisau tajam yang dia pegang mengoyak tubuh binatang melata itu. Dia tampak dingin-dingin saja melaksanakan tugasnya. Tak terasa, seember penuh daging biawak segar diperolehnya siang itu. Begitulah aktivitas keseharian Sarno (59), penduduk Desa Bulung Kulon RT 1 RW I, Kecamatan Jekulo, Kudus. Bergelut dengan berbagai jenis reptil, khususnya biawak dan ular kobra, bukanlah hal baru baginya. Bahkan dengan profesi sebagai pembuat tongseng dari daging kedua jenis hewan tersebut, dia mampu menghidupi keluarganya sampai saat ini. Dulu, Sarno hanya seorang pencari katak untuk dijual di pasar sekitar rumahnya. Di pengujung tahun 1970-an, seseorang mengajaknya untuk menyuplai kulit ular kobra untuk dijual di Jakarta. Tergiur dengan usaha baru itu, Sarno pun mulai mengumpulkan buruan. Semula hanya kulit, sumsum, dan darah ular cobra yang dia manfaatkan. Tetapi ketika mengetahui daging hewan tersebut juga bisa dibuat masakan, suami Jumi itu pun mulai mencoba. Ternyata banyak orang yang tertarik dengan menu barunya tersebut. "Usaha itu saya tekuni sejak 1975," jelasnya. Untuk bisnis daging biawak baru, sejak dua atau tiga tahun lalu. Lagi-lagi hal itu berawal dari ajakan rekannya di Surabaya. Orang itu pula yang akhirnya memasok kebutuhan daging biawak kepada Sarno seminggu sekali. Biasanya, berjumlah sekitar dua kuintal atau kira-kira 40 ekor. Menyembuhkan Penyakit Meskipun usahanya jauh dari hiruk pikuk keramaian Kota Kudus, bukan berarti tidak ada peminat. Banyak pendatang dari kota-kota di sekitar Kudus menyinggahi rumahnya sekaligus merasakan hasil masakannya. Tetapi biasanya para langganan adalah orang-orang sekitar. Untuk keperluan bahan baku, dia mengaku mendapatkan pasokan dari beberapa tempat. Dibantu dua orang karyawan, Sarno bertekad akan terus menekuni profesinya seperti sekarang ini. Ada dua menu yang ditawarkan di tempat tersebut, tongseng biawak dan jamu ular kobra. Untuk jenis masakan pertama dipatok harga Rp 10.000 per porsi, sedangkan untuk jamu dihargai Rp 15.000. Harga jamu kobra sedikit lebih mahal karena bahan bakunya agak sukar didapatkan. Selain itu, proses pembuatan ramuannya juga cukup rumit. Pertama, kepala ular kobra dipotong dengan gunting khusus. Kemudian darah yang keluar dikumpulkan ke dalam gelas. Bila darah berhenti mengalir, ular pun mulai dikuliti. Empedu, kelamin, dan sumsum juga diambil untuk dicampur dengan darah ular tadi. Untuk menghilangkan amis dicampurkan madu dan jeruk nipis. Beberapa pelanggan Sarno percaya, ramuan tadi dapat mengobati beberapa penyakit seperti liver dan rematik. Bagaimanapun kebenarannya, yang jelas usaha Sarno masih berjalan sampai sekarang. Meski enggan menyebutkan jumlah pendapatan yang diterima, dia mengaku bisa menghidupi keluarganya dari hasil usahanya itu. (Anton Wahyu Hartono-34s) |