
| Rabu, 3 Maret 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
Tak Akan Ada Lagi Cerita Warga HanyutSUNGAI Lumeneng kendati lebarnya sampai 100 meter, namun memiliki dasar sungai yang dangkal. Ketinggian airnya hanya sebatas pusar orang dewasa (untuk bagian paling dalam), berwarna coklat dan beriak-riak karena dasar sungai berupa batu-batu kecil. Sungai tersebut memisahkan beberapa dusun di wilayah Desa Wanarata, Kecamatan Bantarbolang, Pemalang. Kegiatan sehari-hari para penduduk, baik yang hendak berangkat ke pasar, kantor atau berdagang, mau tidak mau harus melewati sungai itu. Mereka ada yang menyeberang dengan jalan kaki, serta ada pula yang naik rakit bambu. Untuk jasa penyeberangan dilakukan oleh penduduk yang hasilnya cukup lumayan, karena yang menyeberang para tukang ojek pula. Menurut penduduk, kendati airnya tak begitu deras, sudah banyak warga setempat yang hanyut. Hal itu disebabkan karena terkadang air bah datang tiba-tiba, terutama jika di daerah punggung turun hujan deras, sehingga orang yang menyeberang tidak tahu ada bahaya mengancam. ''Apabila air bah datang biasanya terdengar dulu suara gemuruh dari kejauhan. Bagi yang tahu bahaya itu pasti mengurungkan niat untuk menyeberang. Namun bagi yang tidak tahu atau lengah, pasti langsung terbawa arus air,'' ujar Taufik, warga Wanarata. Menurutnya, sudah tak terhitung cerita orang hanyut di sungai tersebut. Bahkan ada kejadian menyedihkan yakni seorang Hansip yang hendak bertugas di Balai Desa tidak ada yang mengetahui hanyut terbawa arus air. Jadi Pejabat Sebenarnya Desa Wanarata bukan desa kecil yang tak dikenal. Banyak warga setempat yang berhasil menjadi pejabat di pemerintahan pusat. Konon, desa itu adalah pusat konsentrasi perjuangan para pahlawan memerangi Belanda pada zaman dulu. Salah satunya mantan Gubernur DKI Ali Sadikin punya cerita perjuangan di desa itu. Bahkan saking terkenangnya dengan Desa Wanarata, Ali Sadikin pernah membangunkan sebuah jembatan. Jembatan itu kini masih kokoh bediri, terbentang di atas sungai yang lain. Sedangkan di atas Sungai Lumeneng tidak ada jembatannya. Jembatan yang ada pada zaman Belanda sudah runtuh karena terkena bom peperangan. Namun kini cerita warga Wanarata yang hanyut karena menyeberangi sungai itu sudah tak akan terdengar lagi, karena sudah ada jembatan baru yang membentang kokoh di atas Sungai Lumeneng. Jembatan tersebut baru diresmikan oleh suami Presiden Megawati yakni Taufik Kiemas pada Minggu (29/2) lalu. Dikatakan Bupati HM Machroes SH, jembatan tersebut sudah lama ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Bahkan mungkin sudah ratusan tahun. Baru sekarang bisa diwujudkan. Hal itu disebabkan karena Pemkab tidak cukup dana untuk membangun. Sebab, untuk membangun jembatan di atas sungai yang luasnya lebih dari 100 meter itu, dibutuhkan dana yang tidak kecil, yaitu sekitar Rp 8 miliar lebih. Baru setelah pemerintah pusat turun tangan dengan mengucurkan anggaran, keinginan warga baru bisa terkabul. Jembatan dibangun oleh sebuah rekanan di Semarang. Panjang bentang 180 meter. Hal itu untuk mengantisipasi perilaku alur sungai yang mungkin berubah. Struktur bangunan atas jembatan terdiri atas rangka baja bentang 2 x 60 meter. Struktur komposit baja-beton bentang 2 x 30 meter. Warga sangat gembira menyambut peresmian jembatan tersebut. Walaupun harus jalan kaki cukup jauh mereka hadir di lokasi acara. Terutama di bawah jembatan yang airnya sedang menyusut. Sedangkan para pejabat berada di atas jembatan.(Saiful Bachri-80) |