
| Selasa, 2 Maret 2004 | Tajuk Rencana |
Soal Kalah - Menang Kaum Reformis Iran- Penghitungan suara pemilu Iran belum tuntas. Tetapi, hasil-hasil sementara menunjukkan kaum garis keras dan konservatif telah memenangi 160 dari 290 kursi Majelis (parlemen). Kelompok reformis hanya meraih kurang dari 45 kursi. Sekitar 58 kursi masih harus diperebutkan pada tahap kedua, tetapi pemungutan suara babak kedua itu sudah pasti akan memperbesar kemenangan mayoritas kubu konservatif. Pemilu dicemari oleh ulah Dewan Pengawal - pengawas politik yang terdiri atas para ulama garis keras - yang melarang banyak kandidat reformis berpartisipasi. Sebanyak 2.500 kandidat reformis terpaksa hanya jadi penonton. Maka, hanya 250 kandidat kubu tersebut yang ikut bertarung melawan 4.250 kandidat dari garis keras dan konservatif.
- Kendati jelas-jelas kalah, kaum reformis sesungguhnya menjadi pihak yang menang pula. Sebab, seruan mereka agar rakyat memboikot cukup berhasil. Karena itu, yang menjadi pokok perebutan sekarang adalah klaim tentang ''banyak atau sedikitnya'' turn out (pemilih yang menggunakan hak pilih). Kementerian Luar Negeri Iran yang dipimpin menteri reformis mengklaim, hanya 50,57% pemilih yang mencoblos di TPS-TPS. Itu berarti angka paling rendah dalam 25 tahun sejarah republik Islam tersebut. Di Teheran, ibu kota Iran, turn out bahkan hanya 20%. Namun, Dewan Pengawal menyebut angka 60%. Pada pemilu terakhir, 2000, saat kaum reformis menang, para pemilih yang menggunakan hak pilih tercatat mencapai sekitar 67%.
- Menanggapi kampanye boikot kaum reformis, kelompok konservatif menuding lawan politiknya itu berupaya mendiskreditkan kemenangan mereka. Pemerintah AS dan Uni Eropa juga ikut mengkritik, sekalipun kaum reformis Iran sebenarnya sudah mencoba - selama empat tahun kepemimpinan Presiden Mohammad Khatami (reformis) - membuka republik Islam tersebut kepada dunia luar, dan ingin berbaikan dengan negara-negara Barat yang dimusuhi oleh kaum konservatif. Hubungan Iran dengan Barat praktis terputus sejak Shah Reza Pahlevi digulingkan lewat Revolusi Islam 1979 pimpinan Ayatollah Rohullah Khomeini (almarhum). Pemerintahan Khatami mendapat dukungan negara-negara Barat, karena dianggap sebagai rezim yang demokratis dan reformis. - Ketika berkuasa lewat Pemilu 2000 lalu, pemerintahan Khatami dianggap sebagai rezim yang akan mendobrak tirai yang selama 25 tahun membuat Iran terisolasi dari dunia luar. Pemerintahannya juga dinilai kuat, karena Majelis didominasi oleh kaum reformis. Dengan cepat pemerintahan tersebut mendapat simpati dari kaum muda yang haus kemajuan. Bagaimanapun, kemajuan hanya bisa dicapai kalau ada reformasi atas cara hidup penuh kekangan di bawah pemerintahan garis keras sebelumnya. Tetapi dunia dan kaum reformis Iran segera mendapati, reformasi yang menjadi platform Khatami dan partainya tidak berjalan. Para mullah yang dipimpin Ayatollah Ali Khamenei - pengganti Khomeini - melakukan perlawanan. Gerakan reformasi pun mandek.
- Yang mungkin tidak diperhitungkan oleh kelompok reformasi adalah suara Khamenei selaku pemimpin agung masih benar-benar sakti. Apalagi, sang mullah menguasai lembaga-lembaga penegakan hukum termasuk pengadilan. Khatami boleh saja menguasai eksekutif dan legislatif, tetapi lembaga judikatif milik kaum konservatif. Lewat kekuatan angkatan kepolisian dan pengadilan, para reformis disikat. Media penentang kaum garis keras diberedel. UU dan peraturan yang dibuat pemerintahan reformis dimentahkan lewat keputusan pengadilan. Puncaknya, menjelang pemilu lalu beberapa koran proreformasi ditutup dan ribuan kandidat kelompok itu dilarang berpartisipasi oleh Dewan Pengawal. Dewan inilah yang menyeleksi siapa saja yang diterima atau ditolak menjadi PNS.
- Kaum garis keras dan konservatif akan segera kembali menguasai parlemen, yang selama empat tahun terbukti mandul akibat ketidakberdayaan kaum reformis menghadapi kelompok saingannya itu, yang dimotori para mullah (ulama Islam Syiah). Ini membuat Presiden Khatami sendirian di pucuk pimpinan pemerintahan selama sisa satu tahun masa jabatannya. Tentang isu turn out yang rendah, rakyat paling-paling dalam beberapa hari mendatang sudah tidak akan mengingatnya lagi. Tinggal menunggu bagaimana Iran kembali menutup tirainya. Selama para mullah tetap sakti untuk menyatakan mana yang boleh dan mana yang tidak, Iran bakal kembali ke sifat aslinya. Hanya revolusi baru, sebuah tandingan atas Revolusi 1979, yang dapat mengubahnya. |