
| Selasa, 2 Maret 2004 | Tajuk Rencana |
Kapankah Investasi Mengalir Lagi?- Begitulah pertanyaan yang sering terlontar: kapan investasi bisa mengalir lagi?. Sekarang bukanlah berhenti sama sekali tetapi jelas agak seret. Kalaupun angka persetujuan investasi baru meningkat namun realisasinya jauh dari itu. Karena itu jangan heran, jika laju pertumbuhan ekonomi secara nasional belum bisa melebihi 4%. Suatu angka yang relatif kecil karena dengan pertumbuhan 7% saja pengangguran belum sepenuhnya teratasi, apalagi kalau di bawah 4%. Investasi berkait langsung dengan penciptaan lapangan kerja di samping peningkatan produk domestik bruto (PDB). Wajarlah bila investasi banyak diharapkan. Para pemilik modal yang paling dinantikan oleh siapa pun pemegang kekuasaan. Sebab, ekonomi tak akan berjalan tanpa investasi.
- Sebenarnya Indonesia termasuk potensial dan mempunyai daya tarik besar bagi investor. Negara dengan penduduk 200 juta lebih pastilah merupakan big market. Menjadi negara yang akan selalu dibanjiri berbagai produk barang maupun jasa. Di samping itu, peluang investasi masih terbuka lebar di berbagai sektor potensial yang selama ini kurang tergarap seperti agrobisnis termasuk perikanan dan lain-lain yang memanfaatkan potensi alam. Sayang ketertarikan pada sektor itu relatif belum sebanyak sektor manufaktur yang lebih bersifat quick yielding atau lebih cepat menghasilkan. Investasi di perkebunan atau pertambangan bisa belasan tahun. Dalam hal ini, perhitungan untuk studi kelayakannya pastilah semakin njlimet dan butuh pula kepastian jangka panjang.
- Investasi di sektor manufaktur relatif lebih diminati. Padahal, karena sifat-sifatnya lebih berisiko tinggi. Misalnya karena sifatnya sebagai footlose industry, suatu saat mudah saja dipindah ke negara lain. Kepindahan pabrik elektronik Sony atau sepatu Nike juga mungkin karena sifat-sifat tersebut. Mereka hanya seperti memindah mesin-mesin dan beberapa tenaga ahlinya saja, karena tak harus bergantung pada bahan baku dan tenaga kerja lokal. Walaupun investasi langsung di bidang industri seperti itu rawan, tetaplah diharapkan. Bagaimanapun kita belum bisa memilih dan menentukan. Sudah mau datang saja lumayan. Karena itu, tetap lebih baik dibandingkan dengan aliran dana internasional yang masuk triliunan rupiah tetapi dalam bentuk portfolio investment. - Daya saing suatu negara dalam menarik investasi sangatlah menentukan. Aliran modal begitu mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Investor global bisa memilih mana yang lebih menguntungkan. Karena itu, sudah sejak lama andalan pada comparative advantage makin tak relevan. Sekarang yang lebih menentukan adalah competitive advantage. Dan, itu terkait dengan banyak hal. Di samping itu, faktor yang lebih penting adalah business climate. Inilah justru yang menjadi kendala besar bagi kita. Iklim usaha terkait dengan banyak hal seperti situasi politik dan keamanan, sampai dengan persoalan yang lebih teknis macam peraturan perpajakan dan ketenagakerjaan. Sekarang makin rumit dan kompleks, karena satu sama lain terkait.
- Hal yang juga cukup mendasar adalah soal kepastian hukum dan politik serta keamanan. Dalam hal ini, kita sudah mengalami kemajuan. Pada tahun-tahun awal reformasi, situasi masih labil. Pergantian presiden berlangsung tiga kali hanya dalam kurun waktu singkat. Otomatis hal itu akan memengaruhi kenyamanan dan rasa aman investor. Ditambah lagi dengan kemerebakan aksi-aksi buruh serta munculnya peraturan ketenagakerjaan yang kurang berpihak pada pengusaha. Disadari atau tidak, hal seperti itu pengaruhnya sangat besar sementara kita seperti tak berdaya menghadapi masalah-masalah seperti itu. Beruntunglah, sekarang situasi politik dan keamanan sudah semakin kondusif. Akan tetapi, itu bukan jaminan selamanya begitu karena risiko pemilu tetaplah ada betapa pun kecilnya.
- Pemilu tetaplah menjadi faktor yang layak dan sudah pasti diperhitungkan. Walaupun diprediksikan aman terkendali, tetaplah akan disikapi lain oleh investor dan pengusaha pada umumnya. Sikap menunggu itu hampir pasti karena di negara mana pun naluri pengusaha itu selalu ingin memperkecil risiko. Bagaimana kalau ternyata tidak aman? Tentu akibatnya akan lebih parah lagi. Untuk itu, tugas kita sekarang adalah berkonsentrasi agar pemilu bisa berjalan lancar dan aman. Hanya dengan itulah kepercayaan yang sudah mulai membaik akan lebih baik lagi. Kita perlu meyakinkan diri sendiri sebelum meyakinkan pihak lain. Hanya dengan itulah kepercayaan bisa ditumbuhkan lagi. Persoalannya, pemilu juga tergantung pada hasilnya. Bukan sekadar pelaksanaan yang sukses. |