logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 2 Maret 2004 Sala  
Line

500 Keris Pusaka Masyarakat Sragen Dijamas

RATUSAN pusaka atau tosan aji berupa keris dan mata tombak milik pejabat dan masyarakat, kemarin dijamas. Penjamasan dilakukan di pendapa rumah dinas bupati Jl Soemanagoro 1, dan mendapatkan perhatian khalayak.

Proses penjamasan diawali dengan penyerahan benda pusaka keris pamor Tangkis, Teja Kinurung milik Muharjo, dan Kiai Sombro milik Bupati H Untung Wiyono setelah dikirab di lingkungan pendapa. Seusai dikirab, pusaka diserahkan Bupati H Untung Wiyono, Ketua DPRD H Slamet Basuki, serta Dandim Letkol Inf Bambang BK.

''Mangga, pusaka menika kepareng pun jamasi,'' tutur sesepuh pemimpin kirab, ketika menyerahkan pusaka.

Keempat pusaka itu kemudian dibawa H Untung, Slamet Basuki, serta Letkol Bambang BK, menuju lokasi penjamasan dan diterima pakar keris Muharjo Haryanto. Muharjo selanjutnya mencabut keris satu per satu dan menyiramkan air kembang setaman, kemudian menyerahkan kepada penjamas profesional.

Prosesi serah terima berjalan khidmat dan hening. Sementara iringan gendhing Jawa mengalun lembut, mengiringi pusaka-pusaka yang hendak dijamas.

''Sekitar 500 bilah keris pusaka akan dijamas. Kegiatan itu membutuhkan waktu berhari-hari,'' tutur Muharjo, yang juga pemotret profesional.

Di antara keris terdapat pamor beras wutah, udan mas, bonang rinenteng, tangkis, dan lain-lain. Kegiatan penjamasan diprakarsai Paguyuban Tosan Aji Sragen yang dipimpin Soegijoto BA, mantan anggota DPRD.

Jangan Tergoda

Kegiatan jamasan dan pameran benda pusaka di pendapa tersebut dilanjutkan dengan sarasehan, yang diikuti oleh sejumlah tokoh masyarakat dan pemilik serta pemerhati benda pusaka. Sarasehan bertajuk ''Dengan apresiasi tosan aji kita tingkatkan peduli melestarikan budaya''.

Bupati H Untung mengatakan, inti dari penjamasan adalah untuk hamemetri (melestarikan) kebudayaan Jawa. Tosan aji sebagai benda pusaka sejak lama dipakai orang Jawa dan dipercaya memiliki kekuatan.

''Tetapi jangan menjadikan jimat itu untuk menduakan Allah. Menyimpan benda pusaka dilihat dari tujuan. Kalau saya hanya menghargai karya seni, karena benda pusaka itu dulu pernah dibuat orang sakti,'' tuturnya.

Dia yakin masyarakat Sragen masih banyak yang memiliki keris buatan empu terkenal yang ampuh itu. Namun belum dibawa ke luar untuk dijamasi.

Bupati juga mengingatkan, masyarakat jangan mudah tergoda oleh pemberian keris dengan kompensasi ''mas kawin''. Sebilah keris tua dengan pamor bagus, biasanya ''dijual'' sekitar Rp 50 juta-Rp 100 juta. Bupati mengaku pernah ditawari keris oleh seseorang di Solo dengan mas kawin atau harga Rp 350 juta.

''Wah kok akeh banget,'' tuturnya.

Dia mengaku tidak membeli keris, tetapi banyak yang mengantar benda pusaka tersebut ke rumah. Sementara ada orang yang membeli keris Nagasasra dengan penampilan keris tua dan pendhok berlapis emas, namun ketika diteliti ternyata keris itu duplikat atau termasuk keris yang baru dibuat. (Anindito AN-49s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA