logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 2 Maret 2004 Sala  
Line

Dalam Kegelapan Mereka Tetap Bermusik

SUARA gamelan Jawa yang dipadu alat musik modern mengalun begitu pas, mengiringi vokal merdu gadis belia yang menembangkan lagu "Sewu Kutha". Meski terlihat berdiri dengan gaya kaku, tak mengurangi keindahan rangkaian nada yang mengalir dari bibirnya. Iringan musik yang sesekali menghentak kian melengkapi penampilan tersebut.

Tak ada yang terlihat ganjil pada kelompok campursari yang sedang menghibur penonton di acara peresmian kantor Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kota Surakarta, siang itu. Tak ada yang menduga pula bahwa baik pemusik maupun penyanyi di panggung itu keseluruhannya penyandang tunanetra.

Ya, mereka yang tergabung dalam Campursari Alumni Sekolah Luar Biasa A Surakarta memang memiliki kekurangan pada fisiknya. Melalui hari-hari dalam kegelapan adalah bagian dari kehidupan mereka, tetapi hal itu tak membuat berhenti beraktualisasi. Mereka justru merasa diberi kelebihan tersendiri oleh Yang Esa.

Dewi, sang vokalis, misalnya. Dia memiliki suara cemerlang dan bisa melagukan berbagai jenis musik. Gadis berkulit bersih itu juga cepat menghafal lagu yang didengarnya sehingga tak perlu waktu khusus untuk belajar. Tak kalah, pemain musik di kelompok itu seluruhnya menguasai lebih satu macam alat musik.

Didit yang sebelumnya memainkan cak dan cuk okulele, kemudian memegang organ. Dengan terampil dia mengalunkan lagu berjudul "Kisah Sedih di Hari Minggu" mengiringi tarikan vokal Dewi. Ketika ditanya alat musik yang dikuasainya selain kedua alat itu, dia menyebut gitar dan ketipung. Sejak kecil, Didit mengaku gemar bermusik sehingga alat apa pun bisa dimainkannya.

Demikian juga dengan Rasino yang semula memegang demung, kemudian dengan gemulai memainkan gitar. Ataupun Maryatun yang jemarinya lentur menabuh kendang tetapi tak kalah lihai saat memetik siter.

"Mereka dilatih untuk memainkan alat musik pada kegiatan ektrakurikuler atau di luar jam sekolah. Memang membutuhkan kesabaran tetapi hasilnya memuaskan. Semua bisa main berbagai alat musik," kata Surono, salah seorang kru di kelompok musik tersebut.

Prestasi yang disabet kelompok campursari itu juga tak main-main. Pada 17 Juli 2003 lalu, mereka menggondol juara umum dalam Gelar Seni se-Jawa Tengah. (Evie Kusnindya-80s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA