logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 2 Maret 2004 Sala  
Line

Kejantanan 40% Lelaki Solo Mengalami Gangguan

KOTA-Percaya atau tidak, kejantanan kebanyakan lelaki warga Solo terganggu. "Lebih dari 40% pasien yang datang dan mengeluh soal kejantanan terganggu adalah warga Solo," kata androlog seksolog Dr Dicky Moch Rizal MKes, kemarin.

Dia mengemukakan hal itu saat sosialisasi Klinik Hidayah Harapan Ibu dan Ayah RS PKU Muhammadiyah Solo. Sosialisasi dibuka Ketua Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat (MKKM) Muhammadiyah, Drs H Abdul Rozaq Rais MM.

Dia menyatakan gangguan kejantanan itu umumnya berupa disfungsi ereksi, ukuran alat kelamin pria, dan gangguan kesuburan pria. "Anggapan bahwa pria siap setiap saat berhubungan seksual itu tidak benar. Ungkapan itu bentuk egoisme pria. Bagaimanapun setiap pria suatu waktu pernah mengalami ketidakmampuan ereksi karena berbagai sebab. Misalnya, stres atau sakit," katanya.

Disfungsi ereksi, kata dia, bukanlah penyakit. Itu merupakan gejala suatu penyakit. Disfungsi ereksi umumnya bisa diobati, kecuali penderita telah mengidap penyakit kencing manis, hiperkolesterol yang biasanya sebagai penyebab tertinggi, obat-obatan tertentu, alkohol, dan penyalahgunaan narkotik.

Namun terlepas dari berbagai perkecualian akibat berbagai penyakit itu, testoteron atau hormon seks pria diproduksi dan tetap dimiliki selama hidup. Namun setelah lepas usia 45 tahun produktivitas pria menurun.

Ukuran Alat Kelamin

"Namun bila belum genap 45 tahun, hormon seksnya telah menurun atau gairah seks menurun atau ketertarikan seksual memudar berarti terjadi kelainan," ujar dia.

Kelainan bisa terjadi karena stres atau kondisi psikologis. Mungkin karena lingkungan dekat atau bisa karena penyakit. Akibat selanjutnya, andropause dini atau menopause pada pria.

Bagaimana dengan ukuran alat kelamin? Ahli andrologi RS PKU Muhammadiyah Solo yang juga praktik di Yogyakarta itu mengatakan, soal ukuran alat kelamin merupakan mitos seputar seksualitas pria.

Berhubungan seks, kata dia, tak perlu ukuran besar atau kecil, panjang atau pendek. Panjang 9 cm masih bisa dikatakan normal.

"Kalau panjangnya kurang dari 9 cm baru bisa dikatakan tidak normal. Ukuran itu tak bisa diubah bila telah berumur lebih dari 19 tahun. Karena itu bila anak sebelum 19 tahun mempunyai kelainan pada ukuran alat kelamin, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter untuk pengobatan atau deteksi dini. Deteksi dini bisa dilakukan sejak anak berusia 2 tahun."

Dicky menilai naif anggapan bahwa pria pemberi keturunan dan wanita disalahkan jika tak bisa hamil. Padahal, berdasar penelitian dan pasien yang datang memeriksakan diri, sekitar 50% kegagalan kehamilan akibat pria. (sri-42g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA