
| Selasa, 2 Maret 2004 | Liputan Pemilu 2004 |
COBLOSANPemilih Pemula SignifikanJAKARTA-Keberadaan pemilih pemula ternyata sungguh signifikan, posisi mereka dalam Pemilihan Umum 2004 sungguh sangat strategis dan penting. Bila dilihat dari jumlah pemilih di Indonesia yang mencapai 147,219 juta jiwa, sekitar 50.054.460 juta adalah pemilih pemula. Sehingga sangat rasional bila partai peserta pemilu meniliknya sebagai sasaran yang potensial. Demikian diungkapkan Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari, Ketua Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Munawwar Khalil, dan Gunawan Hidayat dari Jaringan Pendidikan Pemilih Rakyat (JPPR) saat aksi pelajar gerakan pemilu damai 2004 kemarin. Terungkap juga, bahwa pemilih pemula dapat memberikan pendidikan politik karena dapat mengubah ''kebiasaan'' partai politik misalnya menolak mobilisasi massa yang selama ini masih menjadi kebiasaan parpol dalam berkampanye atau menjaring massa. Disamping mobilisasi massa, pemilih pemula dapat menolak pemberian uang tersebut yang diiringi dengan penolakan mereka terhadap parpol yang bersangkutan. Ikatan Remaja Muhammadiyah sendiri telah memberikan pendidikan pemilih bagi 1.500 Pemilih Pemula. Aksi yang telah dilakukan diantaranya memberikan pendidikan pemilih bagi pelajar di Jakarta.(bn-87)
Sekolah Libur saat Pemilu 2004
BANDUNG- Kegiatan belajar mengajar sekolah dasar dan menengah diliburkan saat pelaksanaan Pemilu 2004, baik pemilihan anggota legislatif maupun pemilihan presiden. Hal ini untuk memberikan kesempatan pada siswa, terutama siswa sekolah menengah atas untuk menggunakan hak pilihnya sebaik-baiknya. "Belajar mengajar harus tetap dilakukan, kecuali saat pencoblosan. Sebab siswa kan terdaftar di lingkungan tempat tinggalnya, sedangkan pencoblosan butuh waktu tidak sedikit," kata Dirjen Dikdasmen, Indra Djati Sidi seusai peresmian Gedung Pusat Pengembangan Penataran Guru di Bandung, kemarin. Selain itu, tidak menutup kemungkinan guru-guru di sekolah, karena keahliannya, diminta terlibat dalam panitia tempat pemungutan suara di daerah masing-masing. Tentang kampanye di sekolah, kebijakan dari Dirjen Dikdasmen menyatakan, hal tersebut tidak diperkenankan dilakukan. Alasannya, kegiatan itu dikhawatirkan menganggu proses belajar mengajar di sekolah. "Kemungkinan yang ikut sedikit, sedangkan efeknya bisa mengganggu kegiatan di sekolah secara keseluruhan," kata dia. Karena itu, Indra Djati Sidi menyatakan, siswa yang sudah memiliki hak pilih diharapkan mencari informasi dengan membuka saluran informasi seluas-luasnya. (dwi-64i)
Yusril- SBY Belum FinalJAKARTA- Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra membenarkan adanya pembicaraan intensif antara pihaknya dan kandidat presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). ''Memang ada pembicaraan tentang hal itu. Ya, itu dari PBB ataupun dari beliau pribadi. Sifatnya intensif. Hanya, itu semua belum final,'' kata Yusril di gedung DPR, kemarin. Kehadiran Yusril di DPR dalam kapasitasnya sebagai Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (HAM) untuk membahas pengesahan dua rancangan undang-undang (RUU), yakni RUU Peradilan Umum dan RUU Peradilan Tata Usaha Negara. Kendati membenarkan adanya pembicaraan intensif tersebut, Yusril tidak ingin mengomentari berlebihan soal rencana duetnya dengan SBY. Karena berkomentar tentang itu, menurutnya, adalah terburu-buru. ''Lebih dari itu saya tidak mau berkomentar terlalu jauh. Kalau betul-betul sudah final, pembicaraan itu dan juga ada kesepakatan-kesepakatannya, pasti akan kami umumkan,'' ujar Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu. Yusril menekankan, yang lebih penting saat ini adalah hasil pemilu legislatif 5 April mendatang. Karena bagaimanapun, partai yang perolehan suaranya sangat kecil akan sulit mengajukan nama calon presiden dan wapresnya. ''Jadi bagaimanapun, kami tetap memperhatikan hasil pemilu legislatif itu. Pembicaraan mungkin baru bisa lebih konkret setelah itu.''(F4-87j) |