
| Selasa, 2 Maret 2004 | Liputan Pemilu 2004 |
Peta Pemilu 2004 di Jawa Tengah (14)
Mempertahankan Iklim KondusifIKLIM politik di DP Jateng-7 relatif kondusif. Memang sempat terjadi gesekan kecil, beberapa waktu lalu, namun sudah dapat diatasi. Misalnya konflik antara satgas PDI-P dan Partai Golkar di Kebumen. Pernah terjadi pula pencabutan puluhan bendera (Insiden Jl Pemuda) dan penulisan kata-kata jorok pada bendera salah satu partai (kasus Gombong). Tapi dua insiden itu pun bisa diselesaikan aparat Polres, Panwas, dan fungsionaris partai. Belakangan, sejumlah elite partai membentuk forum komunikasi, di mana mereka bertemu secara berkala. Persoalannya, potensi konflik justru ada pada tingkat grassroot (akar rumput). ''Karena itu, kami mengusulkan kepada KPU supaya jadwal kampanye partai besar jangan bersamaan. Potensi konflik antarkader sangat besar jika massa partai-partai besar bertemu pada hari yang sama,'' kata Sekretaris DPC PKB Kebumen, H Yazid Mahfudz. Situasi di Purbalingga dan Banjarnegara juga relatif aman. Hal ini terbukti pada pemilu lalu. Di Banjarnegara hanya terjadi sekali gesekan antara massa pendukung PKB dengan PAN di Desa/Kecamatan Batur (4 Mei 1999). Meski situasi kamtibmas di tiga kabupaten selama beberapa pemilu cukup kondusif, aparat keamanan tetap harus mewaspadai daerah-daerah perbatasan. Ada kemungkinan wilayah perbatasan didatangi massa parpol tertentu, untuk memancing keributan. Yang penting, semua pihak (partai-partai, KPU, Panwas, aparat keamanan dan pendukung partai) perlu bergandeng tangan dalam rangka mempertahankan iklim kondusif di Jateng-7 pada Pemilu 2004. Penambahan Kursi Kerukunan selama masa kampanye tidak harus menghilangkan persaingan dalam meraih dukungan massa. Tetapi semua itu harus dilakukan dalam koridor hukum, aturan main dan mengedepankan kejujuran dan sportivitas. Dalam pemilu mendatang, PDI-P Kebumen mematok target 23 kursi DPRD kabupaten. Jika tercapai, berarti terjadi kenaikan tujuh kursi. Caleg yang diplot untuk DPR-RI adalah Suratal HW (1), Jacob Tobing (2), dan Ganjar Tanowo (3). ''Saya semula berada di urutan ketiga, tetapi kemudian melorot satu tingkat,'' tutur Wakil Sekretaris DPC Rustriyanto SH. Untuk kursi DPRD Jateng, partainya menampilkan muka baru, yaitu Subandi, yang berada di urutan ketiga DP Jateng-7, atau bisa dianggap nomor jadi. Posisi itu mengungguli kader senior Warisno (kini anggota DPRD Jateng) di urutan kelima, serta Ketua DPRD Kebumen H Budi Utomo yang menempati urutan ketujuh. Partai Golkar dan PPP pun tidak mau kalah. Dalam pemilu lalu, kedua partai ini sama-sama mendapat lima kursi. ''Kali ini, kami optimitis perolehan suara Partai Golkar akan meningkat. Kami menargetkan 16 kursi di DPRD kabupaten,'' kata Wakil Ketua DPC II, Ambar Sugito. Baik Golkar maupun PPP lebih banyak menampilkan wajah-wajah lama. Di DPRD Jateng, misalnya, Golkar mengajukan Ny Hj Sri Rahayu Amin Soedibyo SH (istri mantan bupati). Sedangkan PPP menjagokan politisi senior HA Fadlun Haryanto BA. Sementara PKB menargetkan 14 kursi DPRD, atau lima kursi lebih banyak ketimbang hasil Pemilu 1999. Yazid diplot DPW pada urutan pertama untuk Jateng-7. Kuota kursi di DPRD Jateng untuk DP Jateng-7 adalah 204.000 suara. Sedangkan Saleh Malik, bendahara DPP, menjadi caleg urutan pertama untuk DPR-RI suara, tak jauh beda dari target riil Partai Golkar. Kurangi Dominasi Beberapa pengurus partai besar di Purbalingga juga yakin bisa menambah jumlah kursi di DPRD kabupaten. Lima tahun lalu, PDI-P mendapat 18 kursi. PKB dan Golkar sama-sama enam kursi. Jumlah kursi yang diperoleh PAN dan PPP pun sama: empat. Untuk mengurangi dominasi PDI-P di sayap legislatif, PKB bertekat menambah empat kursi lagi, sehingga seluruhnya berjumlah 10 kursi. Target itu bisa dicapai kalau perolehan suara PKB sedikitnya mencapai 100 ribu. ''Kami menyiapkan 15 caleg untuk berjuang di DPRD dan 10 diantaranya bergelar sarjana,'' kata Ketua DPC PKB, HA Sudarno BE. ''Kami berani menargetkan 11-12 kursi DPRD,'' kata Ketua DPD II, Drs H Soetarto Rachmat. Komposisi kursi di DPRD Banjarnegara sebenarnya cukup berimbang. Meski unggul pada 17 dari 18 kecamatan yang ada, PDI-P hanya menguasai 11 kursi DPRD. Partai Golkar dan PKB sama-sama mendapat enam kursi. PAN dan PPP meraih empat dan tiga kursi. Empat kursi yang tersisa dibagi untuk PSII (2), PBB (1), serta PNI-Supeni (1). Banjarnegara memang menjadi basis terkuat PSII di Jateng. Sayangnya, partai ini gagal lolos verifikasi di tingkat pusat, sehingga tidak bisa mengikuti Pemilu 2004. Pertanyaannya, bakal lari ke mana 25.000 pemilih yang dulu mencoblos PSII sehingga bisa meraih dua kursi? Meski sulit diprediksi, tetapi diyakini banyak yang terdistribusi ke PPP. Ini terkait dengan sejarah kelahiran PPP, yang mana Sarekat Islam (SI) menjadi salah satu dari empat elemen pendiri. Tetapi bisa juga bergabung ke Partai Bintang Reformasi (PBR) yang di pusat dikomandani KH Zaenuddin MZ. Alasannya, dua anggota DPRD dari PSII kini bergabung dengan PBR. Target PDI-P, seperti ditegaskan Ketua DPC Ny Hj Sri Ruwiyati, bisa meraih 50 persen kursi DPRD, atau sekitar 22 kursi. Hal ini berarti empat kursi lebih banyak ketimbang hasil pemilu lalu. Strategi yang dilakukan lebih difokuskan pada pemilih pemula Sedangkan Ketua DPD Partai Golkar, H Suparno, mengatakan ingin menambah lima kursi lagi, sehingga seluruhnya berjumlah 11. ''Memang tak mudah meraih semuannya, karena partai lain pasti juga berusaha merebutnya,'' tandasnya. (Komper Wardopo, Arief Noegroho, Teffi Hidayat-48) |