logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 2 Maret 2004 Berita Utama  
Line

Kemandirian NH Dini di Usia Ke-68

JOGET BERSAMA : NH Dini merayakan ulang tahunnya yang ke-68 di Bentara Budaya Yogyakarta. Di hari jadinya itu, dia diajak joget para pemusik Triloka Katindhih Triloka. (69) - SM/Sugiarto

BARANGKALI orang yang paling bahagia dalam kesendirian, hanya Nurhayati Srihardini atau lebih dikenal sebagai NH Dini. Betapa tidak! Sebagai maestro penulis perempuan Indonesia, dia lebih suka memilih hidup sendiri tanpa menggantungkan anak atau orang lain. Kemandirian yang hakiki itu membuat orang lain angkat jempol.

Apabila Minggu malam (29/2), seniman dan budayawan Kota Budaya Yogyakarta dan sekitarnya, serta saudara dekat maupun penggemarnya berkumpul bersama di Bentara Budaya, Jalan Suroto, Kotabaru, Yogyakarta, hanya ingin merayakan hari ulang tahunnya ke-68.

Pesta ulang tahun maestro penulis perempuan yang sudah menghasilkan puluhan, bahkan ratusan karya itu, dimeriahkan dengan musik Triloka Katindhih Trisula. Sebuah musik garapan Drs Supriyadi yang dimainkan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, bermakna setiap pribadi mestinya mumpuni (memiliki kemampuan lebih) untuk mencapai keluhuran.

Rasanya tepat apabila permainan musik yang berasal dari berbagai alat musik tradisional itu menjadi tema dalam ulang tahun NH Dini yang teguh mengarungi kesendirian dan kemandiriannya. Keteguhan dan kemandirian NH Dini dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, memang membuat banyak orang angkat topi.

Barangkali kalau RA Kartini masih hidup juga akan bangga melihat kaumnya yang bisa hidup mandiri dan merdeka. Kegigihan NH Dini memperjuangkan martabat wanita yang dituangkan dalam cerpen, puisi, dan buku-buku novelnya, memang patut dicontoh.

Sehingga wajar apabila di malam bahagia bagi NH Dini itu, banyak tokoh dihadiri mulai dari budayawan, seniman sampai tokoh sosial. Seperti budayawan Bakdi Sumanto, Indra Trenggono, seniman dan pengamat seni Tanto Mendut, serta "pendekar" perempuan pemerhati masalah-masalah sosial dan pengasuh Yayasan Sayap Ibu Sutaryo.

Meski pesta ulang tahun maestro penulis asal Semarang itu dikemas secara sederhana, namun makna yang ada di dalamnya mampu menerobos ke relung hati yang paling dalam, baik bagi NH Dini sendiri maupun kalangan seniman dan budayawan Yogyakarta, yang sudah menyatu selama dua tahun dengannya yang menitipkan sisa hidupnya di Kota Budaya tersebut.

Proses Perenungan

Pertemuan dua hati itu terjadi tidak begitu saja, tetapi melalui proses perenungan yang cukup panjang, sehingga maestro perempuan itu akhirnya memilih Kota Yogyakarta sebagai tambatan terakhir menghabiskan sisa hidupnya.

Barangkali Yogyakarta, bagi NH Dini mampu memberikan daya tarik yang luar biasa.

"Bukan karena saya perempuan yang tidak senang jika usianya bertambah tua. Tetapi, lebih karena hari ulang tahunku ini tidak selalu bisa diperingati. Tahun lalu, saya kembali tak bisa melakukannya," kata NH Dini.

"Hidup adalah perubahan," kata NH Dini sambil matanya menerawang jauh ke langit. "Hidup senantiasa bergerak, antara kepuasan dan kekecewaan. Akhir-akhir ini saya pasrah mengalami keduanya sebagai pelengkap hidup," katanya lagi dengan ketenangan yang tetap menunjukkan ketegaran hatinya.

NH Dini yang dilahirkan pada 29 Februari 1936 di Semarang, Jawa Tengah, diusia senjanya mengaku pasrah. Karena sejak usia 60 tahun, dia sudah merasa apabila keausan akan selalu menggerogoti. Meski demikian, semangat hidupnya masih tetap tumbuh. Itu dibuktikannya dengan tetap produktif menulis novel maupun karya-karya sastra lainnya.

Dalam kegalauan untuk menemukan tempat singgah, Ratu Hemas, istri Sri Sultan Hamengku Buwono X mendirikan perkampungan khusus lansia untuk mereka berusia 60 tahun ke atas, masih mandiri dan tidak ingin hidup bersama di rumah anaknya.

Maka NH Dini hijrah dari Semarang, dan langsung memutuskan berlabuh di pondok barunya di sudut Kampung Sendowo, Sinduadi, Kabupaten Sleman. Di pondok barunya itu, setiap hari NH Dini disibukkan dengan berbagai tanaman hias di taman sari mininya.

Yang mengagumkan sosok NH Dini adalah dalam kesendirian yang selalu bergelut dengan keausan, ia masih selalu menyempatkan diri untuk berkarya. Dengan penuh keyakinan, ia ingin menunjukkan bahwa kita tetap bisa hidup dari hasil menulis atau apapun pekerjaan yang kita pilih dan cintai.

Kuncinya semangat, karena sebuah semangat akan banyak gunanya ketika daya hidup kita, baik secara individu maupun bersama, seolah menemui jalan buntu di tengah arus perubahan yang bergerak begitu cepat. Untuk itu, pertemuan di hari jadi NH Dini merupakan "pertemuan dua hati" dari ribuan lubuk hati dan ribuan harapan.

Oleh karena itu, di pelabuhannya yang terakhir itu, semoga sang maestro penulis sastra itu mampu dan terus melahirkan karya-karya terbarunya. Di antaranya novel berjudul Pada Sebuah Kapal yang disebutnya sampai sekarang masih tetap menghidupinya (melalui royalti).(Sugiarto-69)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA