logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 2 Maret 2004 Ekonomi  
Line

Penanaman Modal Asing Diyakini Tetap Mengalir ke Jateng

MESKI diliputi kekhawatiran pelaksanaan Pemilu 2004, diprediksi tetap akan masuk ke Jateng. Namun demikian, jumlahnya akan sedikit mengalami penurunan karena menunggu hasil pelaksanaan pesta demokrasi tersebut. "Kalau tidak ada sama sekali itu tidak mungkin. Investasi PMA tetap akan mengalir, tapi mungkin jumlahnya tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya," kata Ketua Asosiasi PMA, Luigi Ribero, di kantor BPM Jateng, kemarin.

Diakuinya, kondisi PMA yang sebagian besar bergerak di sektor usaha mebel, tekstil dan manufaktur kini kondisinya memang tidak sebaik di saat sebelum krisis beberapa tahun silam. Beban berat yang timbul akibat kenaikan tarif dasar listrik (TDL), bahan bakar minyak (BBM), dan tarif telepon ternyata bukan hanya dirasakan perusahaan dalam negeri. Perusahaan Modal Asing (PMA) di Jateng juga ikut terkena dampaknya.

Pada saat awal krisis, kata Luigi, sedikitnya 80% dari sekitar 300 PMA yang ada di provinsi ini terancam dalam kondisi krisis akibat kenaikan tarif itu meski akhirnya tidak jadi dilakukan.

"Krisis yang melanda PMA saat itu, disebabkan faktor bahan baku dan naiknya biaya produksi secara keseluruhan," kata dia.

Menurut Luigi meskipun hingga saat ini belum ada PMA yang berencana untuk hengkang dari Jateng, tetapi kenaikan tarif itu akan semakin membuat kondisi usaha semakin sulit.

Selama ini PMA masih bertahan lantaran pertimbangan banyaknya pekerja yang terserap di berbagai sektor usaha PMA ini. Meski demikian, ia tidak berani menjamin dalam jangka panjang tidak ada yang tutup atau keluar dari Indonesia.

Dari catatan dia, sejak krisis pada sekitar 1997, hingga sekarang sejumlah PMA telah memilih tutup dan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 60 ribu. Hal itu dikarenakan banyak perusahaan yang tidak bisa berproduski karena tingginya harga bahan baku.

Penggunaan Teknologi

Ancaman terjadinya PHK lebih besar ini juga disebabkan PMA saat ini cenderung berorientasi pada penggunaan teknologi. Langkah itu termasuk dari bagian kebijakan efisiensi yang saat ini menjadi tuntutan semua perusahaan. "Akibatnya, banyak tenaga manusia yang digantikan oleh mesin dan terjadi pengurangan karyawan, dan itu sulit dihindari."

Ia menambahkan langkah efisiensi itu juga dilakukan dengan cara meningkatkan sinergi antar perusahaan. Baik dengan antarperusahaan PMA maupun perusahaan lokal. Namun, langkah ini masih belum bisa dilakukan oleh semua perusahaan lantaran perusahaan yang bisa melakukan sinergi cukup terbatas.

"Padahal, banyak keuntungan yang didapat dari sinergi antarperusahaan tersebut. Salah satunya, aset perusahaan akan bertambah besar dan bisa menciptakan tingkat efisiensi yang tinggi."

Mengenai kemungkinan hengkangnya perusahaan PMA dari Jateng, Luigi menyatakan hingga saat ini belum ada. Perusahaan PMA di provinsi ini tetap memilih bertahan dan melakukan kegiatan bisnis dan produksinya.

Hal positif yang cukup memberikan angin segar adalah, kalangan investor asing masih memiliki pandangan bahwa Jateng masih cukup kondusif bagi kegiatan usaha. Apalagi, sejauh ini belum ada gejolak khususnya masalah keamanan yang mengancam kegiatan usaha mereka. "Untuk itu kami mengharapkan aparat terkait dan pengusaha sendiri bisa menjaga iklim kondusif seperti sekarang ini," tandasnya.

Pemerintah provinsi diharapkan segera membenahi sistem yang selama ini belum mendukung iklim investasi seperti masalah perizinan, perpajakan dan pungutan tidak resmi. (Arie Widiarto-82)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA