logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 2 Maret 2004 Ekonomi  
Line

Akibat L/C Fiktif, Laba Bersih BNI Anjlok

JAKARTA- Laba bersih BNI tahun 2003 diprediksi hanya seperenam dari target yang ditetapkan sebesar Rp 2,8 triliun. Anjloknya laba bersih BNI tahun 2003 ini terkait kasus pembobolan L/C Rp 1,7 triliun yang memaksa perseroan harus menyisihkan pencadangan yang cukup besar.

"Keuntungan 2003, hanya seperenam dari target 2003 karena ada cadangan kasus L/C Rp 1,2 triliun dan ada pengurangan aset setelah kuasi reorganisasi yang akhirnya mengurangi profit," kata Komisaris BNI Drajad Wibowo, di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Senin,(1/3).

Sementara sebelumnya pada tahun 2002 BNI mencatat laba bersih Rp 2,508 triliun. Sedangkan tahun 2001 tercatat sebesar Rp 1,756 triliun. Namun demikian menurut Drajad, untuk pendapatan bunga perseroan tetap mengalami pertumbuhan dan sesuai dengan target yang ditetapkan.

Terus Digodok

Mengenai perkembangan pelaksanaan secondary offering sebesar 30%, menurut Drajad, hingga kini masih terus digodok baik oleh penasihat keuangan maupun manajemen BNI. Saat ini BNI sedang dalam proses seleksi untuk menentukan penjamin emisi.

Namun yang terpenting dalam proses secondary offering ini menurut Drajad, adalah harus dilakukan secara transparan dan penetapan waktu yang tepat karena harus disesuaikan dengan kegiatan pemilu.

"Tapi prinsipnya adalah agar proses dilakukan secara transparan dan timing-nya betul-betul diatur secara proporsional, serta disesuaikan dengan kegiatan pemilu jadi tidak pas saat kampanye. Saya mendengar kemungkinan (secondary offering) Juni atau Juli," ujar Drajad.

Untuk besaran yang akan dilepas tersebut manajemen juga masih terus melakukan pengkajian. "Apakah tahap awal 5%-10% setelah itu sisanya atau dilakukan sekaligus 30%," kata Drajad.

Dia juga menjelaskan BNI akan merencanakan right issue sebesar Rp 1 triliun, di mana dananya akan digunakan untuk up grade pengembangan teknologi informasi.

Kemungkinan right issue ini akan dilakukan bersamaan dengan proses secondary offering. "Saya melihat tidak ada masalah kalau right issue dan secondary offering dilakukan secara bersamaan. Itu tidak merusak harga kalau dilakukan setelah kuartal 1-2 karena kinerja BNI bagus, di mana per Januari 2004 saja keuntungannya Rp 300 miliar lebih tinggi dibanding Januari 2003," katanya.(dtc-82)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA