
| Selasa, 2 Maret 2004 | Ekonomi |
Thamrin Square, Landmark Baru Kota SemarangSEKTOR properti pernah dituding sebagai salah satu penyebab krisis ekonomi tahun 1997 silam. Ketika itu, timbunan kredit macet yang terjadi di sektor properti senilai Rp 75 triliun membuat sektor perbankan ambruk, sehingga menyeret seluruh perekonomian pada krisis yang amat parah-yang dampaknya hingga kini masih terasa. Banyak kalangan yang memperkirakan sektor properti akan sulit pulih dalam jangka pendek-menengah. Namun, kenyataannya pertumbuhan sektor properti sejak tahun 2000 sungguh di luar dugaan. Secara nasional nilai kapitalisasi proyek properti nasional melonjak hingga 83,15%, dari Rp 5,58 triliun menjadi Rp 10,22 triliun. Sejak tahun itu pula sektor properti menunjukkan kinerja yang mencengangkan. Ketika sektor lain banyak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawannya, sektor properti justru makin banyak menyerap tenaga kerja baru. Kondisi tersebut terus berlanjut hingga kini. Meski banyak pengamat masih pesimistis terhadap pertumbuhan sektor ini, namun para pelaku di bisnis ini nampaknya memiliki pandangan lain. Mereka berpandangan krisis ekonomi seyogyanya tidak perlu dijadikan "kambing hitam" bagi mandeknya pertumbuhan usaha properti ini. Tetapi, justru sebaliknya harus ada sesuatu yang dilakukan untuk mengawali agar bisnis ini bisa kembali bangkit. Apalagi, kini didukung oleh turunnya suku bunga kredit-khususnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR)-yang berkisar di angka 12%-13%. Menunjang Ekonomi Di Semarang, salah satu usaha properti yang memiliki misi untuk kembali menggairahkan bisnis ini dan secara lebih luas untuk menunjang ekonomi di kota atlas ini adalah Thamrin Square. "Kalau terus terpaku bahwa kita masih dalam krisis, lalu kapan bisa kembali pulih. Untuk itulah kami berharap pembangunan Thamrin Square ini bisa menjadi awal bangkitnya ekonomi di kota Semarang ini," kata Ir Danny Mardy JF, project manager PT Wijati Aji selaku pengembang dan pengelola, baru-baru ini. Ke depan, Thamrin Square ini diproyeksikan menjadi pusat permukiman dan usaha di kota Semarang yang dapat dimanfaatkan seluruh segmen masyarakat. Fasilitas pendukung lain adalah cafe, restoran, outdoor cafe dan pujasera. Dengan gedung utama seluas 1.600 m2 diharapkan menjadi pusat bisnis dengan segala macam kegiatan usaha pendukungnya. "Kami berharap pembangunan yang dimulai 25 Juni 2003 ditargetkan selesai Agustus 2004 ini bisa menjadi landmark baru kota Semarang. Selain itu, Thamrin Square diperkirakan bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 200-300 orang. Dengan demikian, secara riil ekonomi mulai dari bawah hingga dunia bisnis Semarang bisa tumbuh dan bangkit," ujarnya. Prospeknya nanti, menurut dia, sangat bagus karena letaknya termasuk strategis, yakni di Jalan Thamrin yang merupakan salah satu jalan utama Semarang. Dari sana bisa tembus ke Jalan Pemuda atau menuju pusat kota di kawasan Simpanglima. "Hingga saat ini sekitar 35% tempat yang sedang kami bangun sudah dipesan oleh sejumlah perusahaan baik berskala besar maupun menengah sebagai tempat perkantoran dan usaha." Selain itu, untuk mempermudah kepemilikan dan proses pembelian, PT Wijati Aji menggandeng Bank Permata untuk pembelian melalui KPR. Pembangunan kawasan bisnis yang menelan investasi sekitar Rp 60 miliar itu juga disesuaikan dengan lingkungan sekitar. Artinya, arsitekturnya disinkronkan dengan model gedung Pertamina dan PJKA yakni beraliran Gothic (klasik). Adapun bangunan di atas lahan seluas sekitar 11.400 m2 itu terdiri atas bangunan utama 3 lantai seluas 6.000 m2, tiga blok ruko 3 lantai dan 41 unit ruko. Ruko terkecil seluas 82/231 dan terluas 149/428. (Arie Widiarto-82) |