logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 2 Maret 2004 Ekonomi  
Line

Kota Solo Belum Saatnya Tambah Hotel

BEBERAPA tahun lalu santer terdengar di Solo akan dibangun lagi sejumlah hotel berbintang. Salah satu lokasi yang akan dibangun hotel itu adalah bekas Rumah Sakit Umum Pusat, yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari Istana Kalitan milik Mantan Presiden Soeharto. Belum lama, juga terdengar, akan berdiri sebuah hotel berbintang di Balekambang, sebuah ruang terbuka milik Pemkot yang di dalamnya terdapat fasilitas hiburan yang kini kondisinya sangat menyedihkan.

Apakah sebenarnya kota ini masih mengharapkan investor bidang perhotelan ? Berikut petikan wawancara dengan General Manager Hotel Quality Solo, Gunawan Budi Rahardjo SE MBA.

Beberapa waktu lalu, santer terdengar di Solo akan dibangun lagi hotel berbintang. Sebenarnya bisnis sektor perhotelan di kota ini apakah peluangnya masih bagus ?

Saya kira peluangnya tidak bagus lagi, terutama untuk hotel berbintang, di mana segmen pasarnya middle up. Saya tidak tahu kalau yang (segmen) menengah ke bawah. Jadi kalau investasi baru, belum saatnya ditambah. Saya pribadi bilang itu sudah jenuh.

Hotel berbintang yang tingkat huniannya selalu ramai di kota ini tidak begitu banyak. Beberapa hotel bahkan tampak sepi. Berapa persen seharusnya tingkat hunian hotel, agar bisnis ini bisa jalan ?

Untuk menjalankan bisnis hotel kalau tingkat hunian itu di bawah rata -rata sangat berat. Rata-rata yang ideal, minimum sekitar 40%. Tetapi hotel kami (Hotel Quality Solo) untuk bulan ini (Februari) rata-rata tingkat hunian mencapai 70%. Ini karena musim haji.

Kalau rata-rata tingkat hunian Hotel Quality Solo berapa persen ?

Tahun lalu, rata-rata 48 %, dan tahun ini kami targetkan ada peningkatan 15 persen. Para tamu itu sebagian besar adalah turis domestik.

Dibandingkan dengan Yogya, turis asing yang datang ke Solo masih sedikit. Menurut anda apa yang harus dilakukan ?

Hal itu terjadi karena fasilitas penunjang Kota Solo kurang mendukung. Contohnya bandara kita (Bandara Adisumarmo) hanya ada empat penerbangan (dalam sehari). Kalau kita bandingkan Yogya ada 24 lebih penerbangan. Sekarang bandara (Adisumarmo ) memang sudah internasional, tapi daya tarik kotanya sendiri kurang, mereka lebih cenderung ke Yogyakarta.

Apa yang seharusnya dilakukan Dinas Pariwisata ?

Mestinya Pemda dan pihak Dinas Pariwisata bekerjasama dengan unsur pariwisata lain seperti perhotelan dan travel biro, menjual obyek wisata kepada turis asing. Obyek wisata itu antara lain keraton dan pasar Triwindu (pasar barang-barang antik). Saya kira selama ini masih kurang. Kurang gencar melaksanakan promosi-promosi. Mungkin budged-nya terlalu sedikit.

Menurut anda, apa yang harus dilakukan, agar wisatawan baik dari luar negeri maupun asing banyak datang ke Solo ?

Menurut saya, obyek wisata harus ditingkatkan, bisa dijual dan punya daya tarik tersendiri. Kedua, sarana transportasi seperti penerbangan (frekuensinya) bisa ditambah, baik jumlah penerbangannya maupun rutenya. Mungkin Depasar - Solo itu bagus.

Untuk Hotel Quality Solo sendiri, sebenarnya tamunya sebagian besar dari mana ?

Tingkat hunian kami untuk turis asing sedikit sekali. Sebagian besar adalah domestik.

Apa ada rencana pengembangan Hotel Quality Solo ?

Sekarang kita sedang mengembangkan ball room (sebuah ruangan besar dalam hotel Quality Solo dan diberi nama ''Soemarjo Ball Room''). Ruangan ini dapat menampung 1.500 orang. Selama ini kita masih mengandalkan room, Sekarang kita coba kembangkan bisnis konvensi dan F & B (Food & Beverage).

Berapa kontribusi pendapatan kamar ?

Kontribusinya room masih 60%, selebihnya dari F &B atau outlet lain, seperti laundry. Ballroom kami paling luas di Solo, luasnya 1.400 m2. Ruangan ini bisa digunakan untuk konser musik, pesta pernikahan atau acara besar lainnya. (Subakti A Sidik-82)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA