
| Selasa, 2 Maret 2004 | Ekonomi |
Stok Gula Lokal 25.500 Ton Belum DidistribusikanSEMARANG- Kebutuhan gula di Jateng tahun 2004 diperkirakan 360.000 ton, yang terdiri atas kebutuhan gula untuk konsumsi langsung rumah tangga sebesar 288.000 ton, dan untuk konsumsi industri sebesar 72.000 ton. Sedangkan kebutuhan rata-rata tiap bulan sebesar 30.000 ton, yang terdiri atas kebutuhan gula untuk konsumsi langsung rumah tangga sebesar 24.000 ton, dan untuk konsumsi industri sebesar 6.000 ton. Kepala BIKK Jateng Drs H Anwar Cholil dalam rilisnya, kemarin mengatakan, berdasarkan informasi dari PTPN IX Surakarta dan Disperindag Provinsi Jateng, sampai dengan 1 Maret 2004 stok gula impor di Jateng kosong, sedangkan untuk stok gula lokal tersedia sebesar 25.500 ton. ''Jumlah itu dengan rincian stok di PTPN IX Surakarta sebesar 24.150 ton, yang terdiri atas gula lokal milik pedagang yang sudah dilelang tetapi masih tersimpan di gudang PTPN IX Surakarta sebesar 17.220 ton,'' katanya. Selain itu, juga gula lokal milik petani yang disimpan di gudang PTPN IX sebanyak 1.340 ton, dan gula milik PTPN IX Surakarta sebesar 5.590 ton. Sementara stok di gudang pada 10 distributor besar di Jateng diperkirakan mencapai 1.350 ton. Kondisi stok gula lokal yang tersedia sebesar 25.500 ton tersebut belum termasuk stok yang ada di pasar swalayan, pasar tradisional dan subdistributor yang tidak dapat dimonitor secara riil. Dengan masih adanya stok gula lokal sebesar 25.500 ton yang belum didistribusikan, belum termasuk stok gula yang ada di tingkat pasar dan subdistributor, maka diperkirakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula Jateng bulan Maret 2004 aman. Gula yang masih ada di gudang PG PTPN IX Surakarta dan stok yang masih ada di gudang pada 10 distributor besar di Jateng tersebut diharapkan dapat segera didistribusikan. ''Proses impor gula oleh PTPN IX Surakarta yang sudah diizinkan sebanyak 47.250 ton yang berlaku sampai dengan April 2004, yang saat ini sedang dalam tahap persiapan, dapat segera dilaksanakan dan tidak mengalami keterlambatan''. Hal ini sekaligus untuk mengantisipasi pemenuhan kebutuhan bulan April-Mei 2004. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan gula Jateng bulan Juni 2004, diharapkan dari hasil produksi gula lokal yang akan mulai giling pada akhir Mei 2004-Oktober 2004. Upaya Lain Upaya lain yang dilakukan oleh Dewan Gula Jawa Tengah dalam pengendalian distribusi untuk memenuhi kebutuhan gula di Jateng sampai dengan bulan Juni 2004 antara lain mengupayakan pengadaan gula dari perdagangan gula antarpulau atau antarprovinsi. Pengolahan raw sugar juga dilakukan oleh PTPN IX Surakarta. Sedangkan impor gula sesuai ketentuan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 643 Tahun 2002, yaitu impor gula yang hanya dapat dilakukan melalui PTPN IX Surakarta, PTPN X dan XI Surabaya, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), dan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). Untuk kelancaran distribusi dalam rangka pemenuhan kebutuhan gula di Jateng setiap bulan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengimbau dan mengharapkan Kadinda dan ADGI untuk ikut serta melakukan pengawasan, pengendalian, dan membenahi distribusi gula dari kemungkinan terjadinya rembesan gula lokal dan gula impor dari luar Jawa Tengah yang dilakukan oleh para spekulan gula. Selain itu dinas teknis, yaitu Dolog dan PTPN IX Surakarta agar lebih tanggap terhadap pembenahan tata niaga gula, khususnya pengaturan distribusi gula di Jawa Tengah, guna menghindari terjadinya gejolak seperti yang terjadi pada tahun 2003. Semua institusi yang berkepentingan terhadap masalah distribusi gula di Jawa Tengah diharapkan untuk menempatkan kepentingan masyarakat yang lebih luas, terutama dengan menjaga keseimbangan kepentingan antara masyarakat petani gula dan masyarakat konsumen gula, sehingga satu sama lain tidak saling dirugikan. Berkaitan dengan rencana pembangunan pabrik gula baru PT Dharmala Group di Cilacap, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memandang hal tersebut masih perlu dilakukan pengkajian yang mendalam secara bersama-sama untuk mencari solusi terbaik, sehingga keberadaannya yang di satu sisi dapat membantu produksi gula, tetapi di sisi lain diharapkan tidak mengganggu sistem distribusi gula di Jawa Tengah. (82) |