
| Senin, 1 Maret 2004 | Berita Utama |
Suparjo, Haji yang Dikabarkan Meninggal (2)Tak Diberi Makan, Sering Dibentak-bentak Perawat
SUASANA di Ruang Cendana II Nomor 13 RS Moewardi Solo, sejak Suparjo menjalani perawatan pada Jumat (27/2) hingga kemarin selalu penuh sesak. Para pengunjung tidak hanya para tetangga, tapi juga jamaah haji yang berangkat bersama. Selain menjenguk, mereka ingin mendengar langsung pengalaman yang menimpa Suparjo sewaktu menjalankan ibadah haji di Makkah. Sementara itu, dalam tiga hari ini kondisi kesehatan Suparjo di rumah sakit kian membaik. Penuturan Suparjo yang sebelumnya terbata-bata, kini sudah mulai lancar. Anggota keluarganya berharap dia segera bisa pulang. ''Kami berharap, bapak segera sembuh dan bisa pulang secepatnya,'' ujar Ari Saptarinan, salah seorang anak perempuan Suparjo. Di tempat lain, jamaah haji asal Karanganyar dari kloter 27 dan 29 kemarin berkumpul di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) setempat untuk melakukan ''pembubaran panitia''. Di tempat itu, pengalaman yang menimpa Suparjo dan kematian salah seorang haji, Trisno Sumarno dari Jaten, menjadi pembicaraan hangat. ''Kok bisa ya ada kejadian seperti itu. Haji dinyatakan meninggal oleh dokter, tapi ternyata kok masih hidup,'' ujar Waluyo, warga Cerbonan, Karanganyar Kota. Waluyo bersama istrinya adalah sepasang haji yang pulang ke Tnah Air dengan selamat dengan kloter 27. Pengalaman Pahit Suparjo menuturkan, tiga hari pertama di RS Madinah, Arab Saudi, dirinya tidak diberi makan. Infus yang seharusnya diberikan saat itu baru diberikan pada keesokan harinya. Selama tiga hari, mulutnya hanya ditetesi air oleh perawat. Padahal, saat itu kondisinya sangat kritis. Beruntung dia masih bisa bertahan.
Dalam kondisi seperti itu, Suparjo mengaku selalu dibentak-bentak perawat. Bahkan saat jatuh hingga tiga kali di kamar mandi, tidak ditolong tapi malah dimarahi. ''Saya tidak tahu bahasa mereka, tapi dari sorot mata dan gerak mulut, mereka marah,'' ujarnya. Dalam penantiannya ketika sakit hampir 20 hari, selain berdoa dia hanya berharap bisa bertemu dokter pendamping haji Indonesia sehingga bisa diajak bicara. Sebab, istrinya, sesuai dengan aturan, tidak boleh mendampingi selama sakit. Beberapa kali dia bertemu dokter, menurut pengakuannya, tidak menghiraukan dirinya. ''Alhamdilillah akhirnya saya bisa bertemu seorang dokter yang mau memahami. Saat itu pula saya minta pindah ke rumah sakit lain. Sebab, saya sudah tidak kuat dan hampir mati. Untunglah di rumah sakit (klinik-Red) baru, saya diperlakukan layaknya pasien. Saya diminta makan banyak,'' tuturnya. Dia sangat bersyukur, dalam kondisi sakit, tidak berdaya, dan tidak punya apa-apa, bisa kembali ke Indonesia. Bagaimana dengan Sadiyah? Ternyata pengalaman istri Suparjo itu tidak kalah pahit dibandingkan dengan suaminya. Ketika diberitahu suaminya sudah meninggal dan dikuatkan dengan surat keterangan dari Medical Mission RI di Makkah yang ditandatangani dr Heri Setiadi beberapa hari kemudian, dia mengaku pikirannya tidak keruan. Selain memikirkan dirinya sendiri dan suaminya yang sudah meninggal, juga memikirkan anak-anaknya di rumah. Kondisi seperti itulah yang membuat dirinya terlunta-lunta ''sendirian''. Bahkan, dia terlepas dari rombongan haji Indonesia beberapa hari. ''Dalam keadaan bingung dan membawa barang-barang yang cukup banyak, berhari-hari saya berjalan sendiri ketika melaksanakan ibadah karena terlepas dari rombongan. Sebelum bersatu dengan robongan kembali, saya putus asa ketika mencari rombongan. Ketika pulang ke Karanganyar pun, saya juga masih bingung,'' katanya.(Langgeng Widodo-j) | |||||