
| Senin, 1 Maret 2004 | Ekonomi |
Apex Bank, Upayakan BPR Tak Tergantung Bank UmumSEBUAH era baru bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Indonesia segera dimulai dengan rencana pembentukan Apex Bank, sebuah wadah bagi BPR. Nantinya, lembaga ini akan berfungsi sebagai pooling fund bagi lembaga keuangan mikro tersebut. Salah satu penggagas berdirinya Apex Bank adalah PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Sebenarnya bagaimana prospek Apex Bank ini bagi BPR, berikut perbincangan dengan Direktur Bisnis II PT PNM Abdul Salam ketika ditemui di Hotel Graha Santika, belum lama ini.
Apa sebenarnya tujuan pembentukan Apex Bank? Rencana pembentukannya berawal dari Rakernas Perbarindo di Bali September 2003, dan dikuatkan dengan seminar di Yogyakarta pada Januari 2004. Hasil pertemuan tersebut kemudian juga direspons Bank Indonesia dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Selain dengan BI, pendirian Apex Bank ini didukung oleh Institut Bankir Indonesia (IBI), serta Germany Gesellschaft Technische Zusammenarbeit (GTZ) Jerman. Lembaga ini ke depan bisa berfungsi sebagai pooling fund bagi BPR di Indonesia. Sebab, selama ini BPR lebih tergantung pada bank umum dalam transaksi bisnis sehari-hari akibat tidak adanya satu lembaga keuangan khusus yang memayungi bisnis keuangan mikro. Mengapa memilih nama Apex Bank? Apex bank berasal dari bahasa Yunani, yang artinya bank pengayom. Istilah ini umum di industri pembiayaan mikro di beberapa negara khususnya yang industri micro finance-nya maju seperti di Jerman, Filipina, Thailand, dan India. Kapan realisasi pembentukannya? Kami bersama Perbarindo sudah membentuk task force untuk merealisasi rencana pembentukan Apex Bank ini. Sosialisasi juga terus kami lakukan di sejumlah daerah, termasuk Jateng. Sementara ini, responsnya sangat bagus dan mereka mendukung pendirian lembaga ini. Nantinya apa saja fungsi dari Apex Bank? Dengan pembentukan Apex Bank, kemandirian industri BPR dapat tercipta karena ketergantungan BPR pada bank umum dapat dikurangi. Misalnya bila suatu BPR mengalami mismatch dalam pengelolaan dananya, dapat meminta bantuan kepada BPR yang memiliki kelebihan likuiditas. Nah, hal-hal seperti inilah yang nantinya akan ditangani Apex Bank. Sebab, selama ini dana lebih yang dimiliki BPR lebih banyak disimpan di bank-bank umum. Berdasarkan data pada akhir 2003, dana BPR yang disimpan di bank umum Rp 1,5 triliun. Pada sisi lain, dana linkage program bank umum dengan BPR yang telah disalurkan hingga sekarang hanya lebih kurang Rp 600 miliar. Artinya, masih ada potensi dana BPR di bank umum Rp 900 miliar. Kalau ada Apex Bank, dana itu bisa masuk ke sana dan akan bermanfaat bagi perkembangan BPR. Selain itu, keberadaan Apex Bank akan memudahkan dan lebih mengefektifkan lembaga-lembaga donor dalam membantu BPR. Lalu bagaimana dengan kepemilikan Apex Bank? Mengenai kepemilikannya, akan menjadi tanggung jawab semua anggota Perbarindo. Jadi pemilik Apex Bank adalah semua BPR beserta stakeholders, sedangkan soal bentuk kelembagaannya belum ada pilihan yang pasti. Mungkin bisa berbentuk bank umum atau BPR dengan perlakuan khusus. Yang jelas, otoritas akan memberi perlakuan khusus itu. Kami berharap, pada tahun ini embrio Apex Bank sudah terbentuk. Kabarnya, PT PNM akan menjadi rumah kliring bagi Apex Bank? Memang, ada usulan dari sejumlah pihak soal PT PNM untuk menjadi rumah kliring (lalu lintas kliring), namun hal itu masih dipertimbangkan mengingat pembentukannya melibatkan Perbarindo (Perhimpunan BPR), Bank Indonesia (BI) dan PT PNM. Meski demikian, secara finansial dan pengalaman sebagai lembaga keuangan mikro, PT PNM sebenarnya sudah mampu menjadi rumah kliring. Berapa modalnya? Kami belum bisa memperkirakan berapa jumlah modal awal bagi pembentukan rumah kliring ini. Namun, sebelumnya Ketua Perbarindo Pusat Soni Harsono menyatakan modal awal pembentukan Apex Bank yang berfungsi mirip BI-nya bank umum itu Rp 300 miliar. Yang jelas, jumlahnya tidak sedikit, apalagi saat ini jumlah BPR ribuan dengan aset triliunan rupiah.
Mengapa PT PNM sangat antusias dengan pembentukan Apex Bank? Hal itu tidak terlepas dari fokus PNM yang bertujuan mengembangkan UKM khususnya soal permodalan. Tahun ini, PNM juga memprioritaskan penyehatan BPR di berbagai daerah yang kreditnya memang untuk UKM. Untuk menyehatkan BPR tersebut, PNM akan menyuntikkan model kerja 50% dari kebutuhan pembiayaan serta tenaga pendampingan untuk membenahi manajemennya. Penyehatan BPR di daerah lebih diutamakan, dengan alasan dana masyarakat bisa bergulir atau membiayai kegiatan ekonomi di wilayah masing-masing. Jadi, PNM selalu siap membantu pembiayaan untuk penyehatan BPR. (Arie Widiarto-82j) |