
| Senin, 1 Maret 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
Dari Lomba Kartun di TegalMenggali Potensi Tanpa PlagiatMENCIPTAKAN seseorang jadi kartunis tidak semudah membalikkan telapak tangan. Belajar membuat kartun membutuhkan proses. Seseorang bisa disebut kartunis, jika dia lihai dalam menggoreskan tinta di atas kertas. Ya, menekuni dunia kartun membutuhkan pemikiran yang bebas tanpa ada aturan untuk menghasilkan karya. Seni menggambar kartun tidak bisa dilakukan sekadar menghafal teori-teori. Butuh ketekunan dan kepiawaian tersendiri. Boleh jadi, berangkat dari pemikiran di atas kartunis-kartunis Kota Tegal yang tergabung dalam Tegal Cartoon (Tetoon), Minggu (29/2) kemarin mencoba menggali potensi kreativitas anak-anak SD hingga pelajar tingkat SMP dan SMA dengan menggelar lomba menggambar kartun di Rita Supermall. Bak gayung bersambut, kegiatan itu mendapat respons yang positif dari kalangan anak-anak dan pelajar yang selama ini gemar menggambar. Tak kurang dari 183 peserta yang terdiri atas 48 siswa SD dan selebihnya pelajar SMP dan SMA itu ikut ambil bagian. Lantas, bagaimana mereka mengikuti lomba tersebut? Bisa ditebak, namanya saja pemula. Karya yang dihasilkan pun boleh dibilang jauh dari standar nilai sebuah kartun. Ada kesan yang cenderung dipaksakan untuk membahasakan gambar kartun agar terlihat "nakal". Misalnya, karya dari salah satu peserta yang menggambarkan karikatur Akbar Tandjung lengkap dengan rantai yang terputus. Ada lagi karya yang meniru sosok film Rambo dilengkapi dengan pakaian adat Jawa. Sepintas, karakter pesan gambar yang ingin disampikan sudah mengena. Namun, menurut pendapat Manajer Rumah Animasi dan Kartun Tetoon, Agus Wijanarko, masih belum memenuhi standar. Kelemahan mereka dari sisi teknis adalah masih menggambar secara asal-asalan. "Memang kalau dilihat tampilan gambarnya, sebagian sudah cukup bagus. Namun, dari sisi teknis masih perlu peningkatan," ungkapnya. Kriteria Dalam menilai karya peserta tersebut, kata Agus yang juga Ketua PWI eks-Karesidenan Pekalongan ini, panitia telah memberikan rambu-rambu agar peserta memiliki komitmen yang tinggi dalam berkarya. Rambu-rambu itu antara lain, peserta diharapkan menampilkan sosok atau karakter baru. "Kami menghendaki mereka tidak menghasilkan karya yang sekadar menjiplak atau menjadi plagiator. Misalnya, anak-anak menggambar Donald Bebek, Superman, atau tokoh kartun lain yang sudah akrab dengan masyarakat. Kita sih membebaskan saja, tetapi akan berpengaruh terhadap penilaian." Standar penilaian lainnya, lanjut dia, teknik dalam menggambar kartun. Hal ini bisa terlihat dari hasil karya peserta. Biasanya para pemula itu menggoreskan tinta berulang-ulang dan kasar. "Memang, tidak mudah untuk menjadi kartunis yang andal. Perlu latihan yang serius dan tidak kenal menyerah." Lantas, apa tindak lanjut dari lomba tersebut? Agus mengatakan, peserta yang dinilai memiliki bakat akan direkrut untuk menjadi kartunis Tegal. "Ya, mereka akan kita didik menjadi kartunis yang berbakat." (Dwi Ariadi-17n) |