logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 25 Februari 2004 Tajuk Rencana  
Line

Islam Damai dan Peran Agamawan

- Pernyataan Presiden Megawati Soekarnoputri ketika membuka Konferensi Cendekiawan Islam Internasional di Jakarta, Senin lalu, sangatlah menarik dari konteks sikap dan reaksi. Dia menilai, dewasa ini ada kecenderungan negara-negara besar untuk memperlakukan secara tidak adil bangsa-bangsa yang masyarakatnya beragama Islam. Hal itu tampak antara lain dari tindakan sepihak yang diambil negara-negara tertentu terhadap Irak dan pemberlakuan undang-undang yang melarang penggunaan atribut keagamaan seperti jilbab. Ketidakadilan dan sikap diskriminatif itu merupakan batu ujian bagi negara-negara besar, terutama dalam menerapkan dan mempraktikkan hak asasi manusia (HAM) yang telah mereka perjuangkan ke seluruh dunia sejak abad ke-20.

- Dari konteks sikap, dalam catatan kita, inilah untuk kali kesekian Presiden Megawati menyampaikan kritik kepada Barat; sekarang terhadap Amerika Serikat dan Prancis. Namun kali ini kritiknya terasa lebih terbuka. Kita tidak berapriori untuk serta merta mengaitkannya dengan kepentingan Pemilu 2004, tetapi menangkap sebagai reaksi yang sudah sangat patut dari pemimpin bangsa yang mayoritas bergama Islam. Apalagi dia juga mengingatkan, adalah mustahil untuk selalu mengklaim hanya umat Islamlah yang mutlak benar dan yang lain mutlak salah, sebab pihak mana pun memiliki sisi kuat sekaligus sisi lemah. Dari sini dia mengajak umat Islam lebih menampilkan sisi damai daripada sisi yang penuh protes dan kemarahan terhadap masalah-masalah yang tidak murni bersifat agama.

- Selalu ada yang dinamis tentang wacana inklusivitas Islam, pada level akademik ataupun praksis. Riak-riak hubungan dengan Barat memaparkan fakta betapa penting terus-menerus dibangun pemahaman tentang Islam. Pengamat Islam Martin van Bruinesen melihat, saat ini kelompok yang menolak interpretasi Islam secara tradisional dan neomodernis semakin mendapat tekanan untuk berhenti dari aktivitas politiknya. Hal itu justru hanya mengarah kepada peminggiran, yang langsung atau tidak langsung mendorong mereka memilih alternatif pemikiran Islam Timur Tengah yang lebih autentik dan berkembang. Padahal, Indonesia sebenarnya memiliki tradisi toleransi beragama yang cukup panjang, malah paling liberal dan inklusif dibandingkan dengan negara-negara Islam lainnya.

- Faktor-faktor politik memang menjadi determinan lebih kuat yang mendorong eksklusivitas ketimbang aspek ideologi. Baik disebabkan oleh sistem politik di suatu negara yang menyebabkan marginalisasi kelompok-kelompok tertentu maupun konstelasi politik global yang memunculkan ketidakadilan dalam interpretasi HAM. Ketidakadilan global dalam konteks HAM ini dirasakan oleh umat Islam. Benar, seperti disampaikan Presiden Megawati, tidak ada kebenaran mutlak dan sisi lemah yang juga mutlak pada pihak mana pun. Tetapi logikanya, semua peluang bereksistensi secara dominan dimiliki oleh mereka yang memiliki akses paling kuat dengan dukungan adidaya infrastruktur untuk mem-pressure dari sisi media ataupun alat paksa (kekuatan militer).

- Kita melihat, salah satu faktor determinan yang mendorong munculnya radikalisme adalah arogansi Barat, dalam hal ini AS yang secara terang-terangan menggunakan standar ganda dalam menyikapi semua persoalan global. Apa yang terjadi di Irak, Palestina, tekanan-tekanan terhadap Suriah dan Iran adalah contoh persepsi HAM yang mereka dekonstruksi sendiri. Kondisi ini diperparah dengan UU Antijilbab yang kini diterapkan di Prancis. Gerakan-gerakan Islam inklusif seperti selalu dihadapkan pada fakta ketidakadilan semacam itu. Terorisme wajib dikutuk oleh masyarakat dunia, tetapi yang dikonstruksi dalam bentuk-bentuk lain dan sistematis - ada yang menyebut state terrorism - sebenarnya juga dilakukan oleh negara adimedia dan adimiliter.

- Kita menghargai prakarsa PBNU, yang dengan kerja sama Departemen Luar Negeri menggelar Konferensi Cendekiawan Islam Internasional di Jakarta. Fokus konferensi yang dihadiri 300-an cendekiawan dari 43 negara Asia, Eropa, dan Afrika itu sangat jelas, yaitu memperkuat konsistensi kampanye wajah damai Islam sebagai rahmatan lil-'alamin. Memang pas para cendekiawan dan agamawan mengambil peran di depan dalam fokus membangun pemahaman dan kampanye Islam hanif, karena pendekatan-pendekatan politik cenderung membawa bias. Forum ini menunjukkan kemauan dan ijtihad umat Islam sedunia melalui para cendekiawan dan agamawan untuk ikut membangun dunia yang berperadaban damai.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA