logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 25 Februari 2004 Sala  
Line

1 Sura Tak Identik dengan Jamas Pusaka

KERATON SURAKARTA - Bagi komunitas adat Keraton Surakarta, momentum ritual penyambutan Tahun Baru Jawa setiap 1 Sura, tidak identik dengan jamasan atau pencucian pusaka. Apalagi yang dimaksud itu mencuci semua benda dan barang budaya yang dianggap sakral.

"Jadi, Keraton Surakarta, dan beberapa bagian peninggalan lain sejarah Kerajaan Mataram, justru tidak mempunyai tradisi menjamas pusaka pada 1 Sura. Sebab, menjamas pusaka sudah ada waktunya sendiri, sebelum memasuki Sura," tegas GPH Dipokusumo, Pengageng Parentah Keraton Surakarta, belum lama ini.

Karena itu, pihaknya meluruskan anggapan sebagian masyarakat bahwa peringatan 1 Sura tidak selalu diikuti dengan jamasan pusaka. Namun, dia juga tidak bisa menyalahkan anggapan yang lalu diwujudkan dalam perilaku, berupa kebiasaan menjamas pusaka saat Sura tiba.

Sebab, jamasan bisa diartikan dengan mencuci atau membersihkan segala sesuatu dari noda spiritual. Padahal, membasuh dan membersihkan agar suci, jelas identik dengan menjamas atau mencuci, baik terhadap barang dan benda yang dianggap sakral maupun diri orang yang memperingati datangnya bulan suci di Tahun Baru Jawa itu.

"Sekali lagi, bagi Keraton, soal jamas-menjamas ada waktunya, yaitu pada bulan Besar. Biasanya, diambil pas Anggara Kasih wuku Mandasiya, kira-kira setengah bulan sebelum 1 Sura," ujar putra dalem yang akrab disapa Gusti Dipo itu.

Singgasana

Dengan begitu, rangkaian jamasan pusaka koleksi Keraton di mana pun tersimpan, pasti dilakukan sebelum bulan Sura. Misalnya, jamasan meriam Kiai Setomi dan krobongannya di Sitinggil Lor, jamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak, untuk songsong atau payung Kiai Brawijaya dan Guwa Wijaya di dalam Keraton, termasuk ngesis anak wayang pusaka dalem di gedhong Sasana Handrawina.

GPH Puger, Pengageng Sana Pustaka atau kepala perpustakaan Keraton mengatakan, jamasan yang dilakukan sebelum Sura, tidak hanya terhadap sejumlah koleksi pusaka. Namun juga berbagai perlengkapan yang biasa digunakan Sinuhun Paku Buwono XII untuk melakukan upacara sakral, misalnya singgasana (tempat duduk raja), krobongan atau ruang transit untuk raja, kereta kuda, busana, dan payung.

"Dalam ritual jamas itu, tidak terbatas pada koleksi pusaka, tetapi semua perlengkapan upacara yang digunakan," jelas Wakil Pengageng Parentah Keraton itu.

Mengenai salah asumsi makna 1 Sura, dia memahami realitas di masyarakat. Namun dia berharap, anggapan itu bisa direvisi. karena itu masyarakat yang berbondong-bondong ke Keraton pada malam 1 Sura atau kesempatan lain di bulan itu, tak merasa kecele karena tidak mendapati jamasan pusaka.

Yang ada hanya prosesi kirab, mengarak berbagai pusaka koleksi Keraton, sebagai wujud ritus doa, memohon kepada Tuhan YME untuk keselamatan bangsa dan negara RI. Dia menegaskan, upacara sakral penyambutan Tahun Baru Jawa itu, adalah prosesi doa dengan berjalan kaki mengelilingi rute kirab sejauh 8 kilometer, yang dilakukan di atas pukul 00.00 dan dipimpin kawanan kerbau bule kelangenan , Kiai Slamet.(won-86i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA