
| Rabu, 25 Februari 2004 | Sala |
Sukses Transmigran Wonogiri-Sitiung (2-Habis)
Tetap Guyub, Tak Lupa Teh "Dandang"RENCANA menempatkan seluruh transmigran bedhol desa dari Wonogiri dalam satu wilayah di Sitiung (Sumbar) ternyata gagal. Sebab begitu luasnya hutan belantara, sehingga batas-batas wilayah tak diketahui secara pasti. Maka, ketika hutan dibuka menjadi permukiman dan ladang membentang, dua tahun kemudian baru diketahui ternyata sebagian lokasi sudah melintasi batas antarprovinsi. Semula lokasi Sitiung I (terdiri atas blok A-D) dan II (blok A-G) akan ditempatkan di wilayah Kabupaten Sawahlunto/Sinjunjung, namun tiga blok yakni E hingga G Sitiung II, nyasar ke wilayah Kabupaten Bungo, Jambi. Menerima kenyataan ini, ribuan KK blok E-G hanya bisa pasrah. Ada berkah di balik lokasi "nyasar" itu. Yaitu, mereka justru diuntungkan dengan pembagian jatah ladang yang lebih luas, sehingga memungkinkan untuk perkebunan karet. Jika Sumbar hanya memberikan jatah 2 ha, Jambi memberikan 5 ha. Orientasinya pun untuk perkebunan, bukan persawahan sebagaimana Sumbar. Ladang ini kemudian menjadi modal sukses sekarang. Dulu mereka menyesal masuk wilayah Jambi. Namun, tidak demikian sekarang. Dari seluruh transmigran bedhol desa asal Wonogiri itu, para transmigran "nyasar" inilah yang dinilai sukses, terutama yang tinggal di Blok E Sitiung II. Memang, pada tahap awal transmigran persawahan sepertinya lebih enak. Berbeda dari para transmigran "nyasar" itu, pada awalnya mereka hidup susah. Tanah garapan tandus, banyak rawa, dan lahan miring, sehingga tidak memungkinan untuk persawahan. Kesulitan pada awal kehidupan di daerah transmigrasi "nyasar" merupakan pengalaman pahit yang tak terlupakan. Hidup di tengah-tengah hutan belantara serasa dibuang di pengasingan. Awalnya Susah Ketika kali pertama datang di lokasi transmigrasi, yang ada hanya kengerian dan ketakutan sepanjang malam. Ketika matahari mulai terbenam, suara-suara asing satwa hutan membuat mereka tidak bisa tidur. Bahkan harus begadang semalaman. Anak-anak menangis tidak tahan terhadap banyaknya nyamuk hutan yang membawa penyakit malaria. Tiap malam obat nyamuk bakar disulut hampir di semua sudut rumah. Belum lagi binatang melata mulai dari ular, kelabang, luwing, kaki seribu, hingga kalajengking yang ukurannya tidak seperti yang biasa dilihat di Jawa. "Manakutkan," kenang mereka. Kelabang, misalnya, panjangnya ada yang sampai 20 cm. Begitu pula kalajengking dan luwing, rata-rata sebesar ibu jari anak-anak. Hari-hari pertama terasa sepi, gelap gulita, tidak ada penerangan di jalan-jalan yang masih berupa tanah merah. Beberapa bulan kemudian penyakit malaria mewabah menyerang mulai yang usia anak-anak hingga yang dewasa. Namun, karena penanganan pemerintah berlangsung cepat, tidak ada korban jiwa. Tanah dan ladang pun pada bulan-bulan pertama hingga beberapa tahun kemudian, tandus dan ke-ring. Tak satu pun tanaman bisa tumbuh dengan baik. Ketela pohon yang mudah tumbuh pun hanya berdaun beberapa lembar, menguning kemudian mati. Karena itu, tak ada harapan ketika mereka ingin menanam palawija lainnya, jagung, kedelai, kacang-kacangan apalagi padi gaga. Praktis selama tiga tahun transmigran di Blok E Sitiung II ini hanya mengandalkan jatah dari pemerintah, baik itu beras, ikan asing, minyak goreng, minyak tanah maupun gula pasir. Begitu sulitnya hidup, hingga sebagian dari mereka yang tidak tahan terpaksa pulang ke Jawa, sebagian besar lainnya bertahan. Maklum, mereka adalah transmigran bedhol desa, tak satu pun yang ditinggalkan di desanya. Sawah ladang, rumah dan pekarangan sudah diganti rugi oleh pemerintah. Selanjutnya lahan itu dijadikan genangan Waduk Gajahmungkur. Harta bendanya berupa meja, kursi, seluruh perabot, peralatan rumah tangga dan segala keperluan, hampir semua dibawa dengan peti-peti besar dari papan kayu, kecuali ternak. Jadi, kalau mereka tak tahan hidup di lokasi baru, lantas mau ke mana? Tak ada pilihan lain kecuali harus bertahan, sesulit apa pun. Namun, kesulitan demi kesulitan itu bisa dilalui. Kini, mereka memetik buah dari jerih payah selama bertahun-tahun itu. Selalu Gotong Royong Banyaknya waktu luang dan penghasilan yang membaik digunakan untuk memperat tali silaturahmi antarwarga. Mereka menyadari hidup di tanah seberang harus pandai menjaga diri dan kompak. Kerja bakti dan gotong royong digalakkan. Setiap orang punya kerja, membuat rumah atau hajatan, mereka bergotong royong. Kebiasaan kaum pendatang ini membuat kagum warga setempat. Setiap ada hajatan, setiap warga menyumbang uang rata-rata Rp 20.000 dan uba rampe yang jumlahnya dinilai berlebihan. Warga yang punya hajat mantu sudah dipastikan menyembelih seekor sapi. Ini "tradisi" baru. Jumlah sapi yang disembelih biasanya menggambarkan tingkat kesuksesan warga. "Saya kagum sekaligus heran, kerukunan dan gotong royong orang Jawa ini luar biasa," kata Sahrul, warga setempat. Guru SD itu punya cerita. Ketika akan membangun rumah, hanya memberi tahu ketua RT setempat. "Namun apa yang terjadi, besok paginya orang sekampung datang membantu. Saya menangis haru," katanya. Dia mengakui, kebiasaan warga setempat, tradisi bantu-membantu memang ada, namun ala kadarnya. Tidak "berlebihan" seperti orang Jawa. "Mungkin karena kehidupan mereka lebih baik. Bayangkan, tiap rumah paling tidak ada satu sepeda motor, rata-rata baru," tuturnya. Selain menjaga kerukunan, mereka tetap njawani, menjaga tradisi Jawa. Kalau punya hajatan besar ada yang nanggap wayang kulit. Kadang dalangnya dari Jawa. Hingga kini sejumlah keperluan perabot dapur dan keperluan lain tetap didatangkan dari Wonogiri. Dua minggu sekali ada truk yang kulakan ke Wonogiri denan barang dagangan dandang, kuali, tampah, ceret dan panci. Tak lupa teh merek Dandang yang menjadi klangenan sejak di Jawa. Hampir semua warga Blok D-G menggunakan teh Dandang, terutama untuk hajatan. "Orang Jawa tak ada yang menggunakan teh lokal," ungkap Komari. (Murdiyat Moko-49k) |