
| Rabu, 25 Februari 2004 | Sala |
Tewas Disambar Petir
SRAGEN- Hujan lebat disertai petir di Desa Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang, Minggu pukul 15.30 meminta korban jiwa. Wagimin (38) petani warga RT 19 RW 8 tewas akibat disambar petir. Musibah itu cukup mengejutkan warga desa. "Selama lima tahun terakhir, baru kali ini petir merenggut korban jiwa manusia," tutur warga setempat. Menurut saksi, korban baru saja mencangkul di sawah. Karena cuaca mendung dan hujan mulai turun disertai petir, korban berniat pulang. Sewaktu korban beranjak pulang, rekannya yang lain pun ikut pulang dengan arah berbeda. "Ketika menyusuri pematang sawah, Wagimin disambar petir," tutur saksi Cipto (35) dan Supardi (45), tetangganya. Korban langsung roboh dan tidak sempat bersuara. Kilat petir menyebabkan dagu dan dada kanan korban gosong. Celana dan kaus yang dikenakan korban juga terbakar. Saksi awalnya berniat menolong. Namun karena korban sudah tewas, jasadnya kemudian ditutupi daun pisang. Musibah itu kemudian dilaporkan ke Polsek Sumberlawang. Daun Jarak Menurut keterangan, musibah serupa terjadi di Desa Hadiluwih sekitar 5 tahun silam. Petani setempat memiliki kepercayaan, jika turun hujan lebat disertai petir, harus mengambil daun jarak untuk di-selipkan di kolor celana atau di caping. Meski tidak rasional, tindakan itu banyak dilakukan. Karena itu para petani meyakini sudah jarang ada kasus petani tersambar petir. Namun Minggu (22/2) lalu, Wagimin menjadi korban keganasan petir. Di Kecamatan Karangmalang, kematian akibat tersambar petir masih tertinggi. Setiap tahun minimal dua korban tewas tersambar petir. (nin-49i) |